Tabooo.id: Global – Ledakan menghantam sebuah Sekolah Dasar (SD) putri di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, Sabtu (28/2/2026) pagi. Serangan udara Israel itu menewaskan sedikitnya 51 orang dan melukai 60 lainnya. Di dalam gedung sekolah, sebanyak 170 siswa sedang mengikuti kegiatan belajar ketika rudal menghantam area tersebut.
Pejabat Kota Minab, Mohammad Radmehr, menyatakan Israel menyerang langsung sekolah saat aktivitas berlangsung.
“Serangan terjadi pada pagi hari ketika siswa berada di dalam kelas,” ujarnya.
Hingga kini, tim penyelamat masih mengevakuasi korban dari reruntuhan. Karena itu, jumlah korban tewas berpotensi bertambah.
Media pemerintah Iran, termasuk IRIB, mengonfirmasi sekolah tersebut menjadi sasaran. Namun otoritas belum merinci jenis amunisi maupun alasan pemilihan target. Di lapangan, keluarga korban memadati rumah sakit dan lokasi kejadian, sementara aparat memperketat akses ke area sekolah.
Eskalasi Militer dan Narasi Perubahan Rezim
Serangan di Minab tidak berdiri sendiri. Beberapa jam sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer gabungan terhadap sejumlah target di Iran. Washington dan Tel Aviv mengklaim operasi itu bertujuan melenyapkan ancaman yang mereka nilai berasal dari rezim Teheran.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump merilis pernyataan terpisah. Keduanya menegaskan komitmen menghadapi Iran dan bahkan memberi sinyal dukungan terhadap perubahan pemerintahan di Teheran.
Sebaliknya, pemerintah Iran menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran kedaulatan negara. Teheran langsung bersumpah akan membalas. Ancaman itu bukan sekadar retorika. Beberapa jam kemudian, rudal Iran menghantam pangkalan-pangkalan militer yang menampung pasukan AS di kawasan Teluk.
Dengan demikian, konflik yang awalnya terbatas pada target militer kini meluas dan menyentuh wilayah sipil.
Diplomasi Mandek, Bom Berbicara
Ironisnya, serangan terjadi ketika Oman masih memediasi pembicaraan nuklir antara Washington dan Teheran. Putaran terbaru negosiasi berlangsung di Jenewa pada Kamis (26/2/2026). Namun alih-alih menghasilkan terobosan, perundingan itu justru diikuti ledakan-ledakan yang memperkeruh situasi.
Ketika diplomasi berjalan lambat, militer bergerak cepat. Akibatnya, ruang negosiasi semakin menyempit dan risiko perang terbuka makin membesar.
Anak-anak dan Warga Sipil Paling Terdampak
Serangan ke sekolah dasar menempatkan anak-anak sebagai korban utama. Mereka tidak memegang senjata, tidak duduk di meja perundingan, dan tidak menentukan arah kebijakan luar negeri. Namun merekalah yang menanggung akibat paling nyata.
Selain korban jiwa, masyarakat Minab kini menghadapi trauma, ketakutan, dan ketidakpastian. Sekolah ditutup, rumah sakit kewalahan, dan aktivitas ekonomi melambat. Di tingkat global, pasar energi langsung bereaksi. Harga minyak berpotensi naik, sementara negara-negara importir termasuk di Asia bersiap menghadapi tekanan baru.
Dengan kata lain, dampak konflik ini meluas jauh melampaui lokasi ledakan.
Saat Sekolah Jadi Medan Perang
Serangan ke fasilitas pendidikan mempertegas satu hal: garis antara target militer dan ruang sipil semakin kabur dalam konflik modern. Jika sekolah bisa menjadi sasaran, maka rasa aman masyarakat ikut runtuh.
Dunia kini menyaksikan babak baru eskalasi Israel-Iran. Pertanyaannya bukan hanya siapa yang menyerang lebih dulu, tetapi siapa yang paling menderita akibatnya.
Dan seperti biasa, ketika negara-negara besar saling unjuk kekuatan, anak-anaklah yang membayar harga paling mahal. @dimas





