Tabooo.id: Global – Militer Iran menembakkan drone ke dua pangkalan militer Israel dan markas dinas intelijen domestik Shin Bet pada Kamis (12/3/2026) malam, ketika perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel memasuki minggu ketiga. Serangan ini menjadi eskalasi paling serius sejak pertempuran dimulai 28 Februari 2028.
Ledakan dan Kepanikan di Israel
Drone Iran menghantam pangkalan udara Palmachim dan Ovda serta markas Shin Bet. Ledakan terdengar keras di Yerusalem, dan sirine peringatan serangan rudal meraung di berbagai kota. Warga Tel Aviv dan perbatasan utara bergegas menuju tempat perlindungan.
Israel membalas dengan serangan udara besar-besaran ke wilayah Iran. Hingga kini, sedikitnya 13 warga Israel tewas dan hampir 2.000 lainnya luka-luka. Alarm serangan rudal dan ledakan menandai hari-hari penuh ketegangan bagi masyarakat sipil yang terjebak di tengah konflik.
Syarat Iran untuk Perdamaian
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Teheran tetap berkomitmen pada perdamaian regional. Namun, ia menuntut tiga syarat jika ingin perang berhenti: pengakuan hak-hak sah Iran, pembayaran ganti rugi, dan jaminan internasional terhadap agresi di masa depan.
Pezeshkian menyampaikan hal ini melalui platform X setelah mengadakan pembicaraan dengan pemimpin Rusia dan Pakistan. Hingga kini, Washington belum merespons tiga syarat Iran tersebut.
Infrastruktur Sipil Jadi Sasaran
AS dan Israel tidak hanya menyerang fasilitas militer. Wakil Menteri Kesehatan Iran, Ali Jafarian, melaporkan setidaknya 1.395 warga sipil tewas akibat serangan udara. Serangan menghancurkan rumah sakit, sekolah, fasilitas energi, dan pasokan air. Dari 31 fasilitas klinis utama, 12 berhenti beroperasi. Banyak warga terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Palang Merah Iran menyebut hampir 20.000 bangunan sipil, termasuk 16.000 unit hunian, rusak sejak perang dimulai. Analis menilai strategi Israel meniru pola perang genosida di Gaza 2023, dengan menargetkan seluruh sistem publik, termasuk sekolah dan lembaga pemerintah.
Ketegangan meningkat di Teluk Persia. Pulau Kharg dan pulau strategis lain menjadi titik penting bagi ekspor energi Iran. Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan bahwa setiap agresi AS terhadap pulau-pulau itu bisa membuat Teheran menghapus semua pengekangan militernya.
Dampak Paling Berat
Warga sipil Iran menanggung dampak paling parah, menghadapi risiko kehilangan nyawa, rumah, dan layanan dasar. Ekonomi global ikut terpengaruh akibat ancaman terhadap jalur energi strategis. Publik internasional menyaksikan ketegangan yang berpotensi meluas menjadi konflik regional yang lebih besar.
Refleksinya jelas perang ini bukan hanya soal militer, tapi juga soal siapa yang paling menderita dan yang jelas bukan para pemimpin yang merancang strategi, melainkan warga sipil yang terjebak di tengah ledakan dan kebijakan geopolitik. @dimas





