Tabooo.id: Regional – Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, kembali menunjukkan amarahnya. Dalam rentang enam jam, Jumat (21/11/2025), gunung tertinggi di Pulau Jawa itu memuntahkan 36 letusan. Di tengah kabut pekat dan cuaca mendung, warga di sekitar lereng diimbau bersiap menghadapi ancaman lahar hujan yang bisa muncul kapan saja.
Data Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru di Gunung Sawur mencatat aktivitas yang intens sejak pukul 06.00 hingga 12.00 WIB. “Teramati 1 kali letusan dengan asap berwarna putih kelabu setinggi 200 meter ke arah tenggara,” ujar Petugas PPGA Semeru, Wahyu Wijayanto, dalam keterangan tertulis.
Tak hanya letusan, ada pula 4 kali guguran dan 4 kali embusan, dengan amplitudo gempa letusan mencapai 8–36 milimeter. Sayangnya, dari Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, gunung tak tampak sama sekali tertutup kabut tebal seperti tirai yang menyembunyikan ancaman.
Cuaca di sekitar lereng makin memperburuk situasi: mendung gelap, gerimis turun berkali-kali, dan potensi hujan lebat terus membayangi. Kondisi ini jadi alarm keras bagi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
“Kami mengingatkan warga akan risiko banjir lahar hujan. Cuaca sudah gelap dan berisiko tinggi terjadi hujan,” tegas Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Lumajang, Yudhi Cahyono.
Yudhi menekankan beberapa larangan keras:
- Tidak beraktivitas dalam radius 8 km dari puncak kawah.
- Tidak berada di sepanjang aliran lahar hingga 20 km dari puncak.
- Menjauhi sungai yang berhulu ke Semeru minimal 500 meter dari tepiannya.
“Status Gunung Semeru masih Level IV Awas. Kami harap warga mematuhi rekomendasi keselamatan PVMBG,” ujarnya.
Karena banjir lahar hujan bukan hanya ancaman bagi warga Lumajang; ini soal kesiapan menghadapi bencana yang bisa terjadi di mana saja, kapan saja. Informasi cepat dan akurat membantu kita memahami risiko, menghindari misinformasi, dan memastikan keputusan yang kita ambil dari perjalanan hingga bantuan berdasarkan kenyataan lapangan, bukan rumor.
Semeru kembali bicara keras, dan warga harus lebih keras menjaga nyawanya. Pada akhirnya, yang paling menakutkan bukanlah letusannya, melainkan kelalaian kita membaca tanda-tandanya jadi, seberapa siap kita jika alam kembali mengetuk pintu? (sig)




