Sekarang bikin film itu gampang. Bukan secara teknis, tapi secara strategi. Kamu tidak perlu memikirkan penonton cukup tebak selera juri. Sisanya? tinggal berharap menang.
Tabooo.id: Edge – Bayangkan kamu bikin film. Awalnya kamu ingin orang menonton dan memahami ceritanya. Namun pelan-pelan, tujuan itu bergeser. Kamu mulai merancang sesuatu yang harus “ditebak”.
Pertanyaan pun berubah: apa yang juri suka?
Simbol seperti apa yang terlihat “dalam”?
Seberapa aneh ending yang dianggap “berani”?
Akhirnya, kamu tidak lagi bercerita. Kamu menyusun strategi.
Selamat.
Kamu siap masuk festival.
Film atau Strategi Lomba?
Hari ini, banyak sineas tidak lagi berangkat dari kegelisahan. Mereka justru memulai dari perhitungan.
Alih-alih bertanya “apa yang ingin gue sampaikan?”, mereka langsung memikirkan peluang seleksi.
Proses kreatif pun ikut berubah. Sineas menyusun karya seperti peserta lomba yang mengejar nilai.
Semakin abstrak, terasa semakin aman.
Sebaliknya, semakin sulit dipahami, semakin dianggap “dalam”.
Jadi Juri Lebih Penting dari Penonton
Masalahnya terlihat jelas.
Penonton tidak duduk di kursi juri. Namun, karya justru diarahkan ke sana.
Akibatnya, film hanya berbicara ke segelintir orang. Sementara yang lain menonton sambil mencoba memahami.
Ironisnya, kebingungan sering dianggap bukti kualitas.
Kalau tidak mengerti, penonton disalahkan.
Padahal, bisa saja filmnya memang tidak ingin menjelaskan apa pun.
Menang, Lalu?
Pola ini terus berulang.
Sineas membuat film, mengirim ke festival, lalu mengejar kemenangan. Setelah itu, semuanya berhenti.
Jika kalah, mereka langsung pindah ke proyek berikutnya. Jika menang, mereka cukup unggah poster dan ucapan terima kasih.
Film tidak berkembang. Ia hanya lewat sebentar.
Diskusi jarang muncul. Upaya mendekatkan karya ke penonton hampir tidak ada. Jembatan itu tidak pernah dibangun.
Yang penting, status “menang” sudah dikantongi.
Festival atau Lingkaran Dalam?
Festival Film Indonesia dan festival lain seharusnya mempertemukan film dengan penonton.
Namun kenyataannya berbeda.
Sineas mengarahkan film ke juri.
Kemudian juri menilai karya tersebut.
Setelah itu, mereka saling memberi pengakuan.
Di sisi lain, penonton hanya menyaksikan dari jauh.
Situasi ini terasa seperti lingkaran tertutup.
Edukasi yang Hilang
Padahal festival punya potensi besar.
Ia bisa membuka ruang belajar. Selain itu, ia bisa membantu penonton memahami cara melihat film.
Lebih jauh, visual mampu membentuk cara berpikir baru.
Namun ketika semua fokus pada kemenangan, fungsi itu perlahan menghilang.
Menang memang penting.
Namun kalau yang menang hanya ego,
filmnya ke mana? @jeje





