Minggu, Juni 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Selamat! Kamu Menang. Penonton Tetap Bingung

by jeje
Mei 7, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Sekarang bikin film itu gampang. Bukan secara teknis, tapi secara strategi. Kamu tidak perlu memikirkan penonton cukup tebak selera juri. Sisanya? tinggal berharap menang.

Tabooo.id: Edge – Bayangkan kamu bikin film. Awalnya kamu ingin orang menonton dan memahami ceritanya. Namun pelan-pelan, tujuan itu bergeser. Kamu mulai merancang sesuatu yang harus “ditebak”.

Pertanyaan pun berubah: apa yang juri suka?
Simbol seperti apa yang terlihat “dalam”?
Seberapa aneh ending yang dianggap “berani”?

Akhirnya, kamu tidak lagi bercerita. Kamu menyusun strategi.

Selamat.
Kamu siap masuk festival.

Film atau Strategi Lomba?

Hari ini, banyak sineas tidak lagi berangkat dari kegelisahan. Mereka justru memulai dari perhitungan.

Ini Belum Selesai

Reformasi TNI atau Kembalinya Dwifungsi dalam Wajah Baru?

Investor Sudah Datang, Tapi Mesin Negara Masih Pemanasan?

Alih-alih bertanya “apa yang ingin gue sampaikan?”, mereka langsung memikirkan peluang seleksi.

Proses kreatif pun ikut berubah. Sineas menyusun karya seperti peserta lomba yang mengejar nilai.

Semakin abstrak, terasa semakin aman.
Sebaliknya, semakin sulit dipahami, semakin dianggap “dalam”.

Jadi Juri Lebih Penting dari Penonton

Masalahnya terlihat jelas.

Penonton tidak duduk di kursi juri. Namun, karya justru diarahkan ke sana.

Akibatnya, film hanya berbicara ke segelintir orang. Sementara yang lain menonton sambil mencoba memahami.

Ironisnya, kebingungan sering dianggap bukti kualitas.

Kalau tidak mengerti, penonton disalahkan.
Padahal, bisa saja filmnya memang tidak ingin menjelaskan apa pun.

Menang, Lalu?

Pola ini terus berulang.

Sineas membuat film, mengirim ke festival, lalu mengejar kemenangan. Setelah itu, semuanya berhenti.

Jika kalah, mereka langsung pindah ke proyek berikutnya. Jika menang, mereka cukup unggah poster dan ucapan terima kasih.

Film tidak berkembang. Ia hanya lewat sebentar.

Diskusi jarang muncul. Upaya mendekatkan karya ke penonton hampir tidak ada. Jembatan itu tidak pernah dibangun.

Yang penting, status “menang” sudah dikantongi.

Festival atau Lingkaran Dalam?

Festival Film Indonesia dan festival lain seharusnya mempertemukan film dengan penonton.

Namun kenyataannya berbeda.

Sineas mengarahkan film ke juri.
Kemudian juri menilai karya tersebut.
Setelah itu, mereka saling memberi pengakuan.

Di sisi lain, penonton hanya menyaksikan dari jauh.

Situasi ini terasa seperti lingkaran tertutup.

Edukasi yang Hilang

Padahal festival punya potensi besar.

Ia bisa membuka ruang belajar. Selain itu, ia bisa membantu penonton memahami cara melihat film.

Lebih jauh, visual mampu membentuk cara berpikir baru.

Namun ketika semua fokus pada kemenangan, fungsi itu perlahan menghilang.

Menang memang penting.

Namun kalau yang menang hanya ego,
filmnya ke mana? @jeje

Tags: Anak Muda IndonesiaGenerasi AlphaGenerasi ZMedia SosialNasionalSadar KesehatanTaboooid

Kamu Melewatkan Ini

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

by jeje
Juni 2, 2026

Bagaimana mungkin seseorang menulis tentang Indonesia sebelum Indonesia benar-benar ada? Pertanyaan itu muncul ketika membaca Naar de Republiek Indonesia, karya Tan...

Pancasila di Mata Gen Z: Masih Hidup atau Sekadar Simbol?

Pancasila di Mata Gen Z: Masih Hidup atau Sekadar Simbol?

by dimas
Juni 1, 2026

Generasi Z masih mengenal dan memahami Pancasila. Namun, jarak antara nilai dan praktik membuat sebagian anak muda mulai mempertanyakan relevansinya...

Next Post
Kabinet Selalu Berubah: Prabowo Sedang Merapikan atau Mengacak Kekuasaan?

Kabinet Selalu Berubah: Prabowo Sedang Merapikan atau Mengacak Kekuasaan?

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id