Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Satu Juta Sarjana Menganggur, Saat Ijazah Tak Menjamin Kerja

by dimas
Agustus 10, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Satu juta sarjana menganggur menjadi alarm pasar kerja Indonesia. Ketika ijazah tak lagi menjamin pekerjaan, apa yang salah dengan sistem pendidikan dan dunia kerja?

Tabooo.id – Empat tahun kuliah berakhir dengan selembar ijazah. Setelah wisuda, sebagian lulusan justru menemukan pintu kerja yang tidak semudah bayangan mereka.

Pagi setelah wisuda tidak selalu terasa seperti awal kehidupan baru. Bagi sebagian lulusan, pagi itu justru membawa rutinitas yang sama sekali berbeda: membuka laptop, memeriksa portal lowongan kerja, memperbarui CV, lalu membaca persyaratan dari satu perusahaan ke perusahaan lain.

Di antara puluhan lowongan yang muncul, selalu ada posisi yang terlihat cocok. Jurusan sesuai, kemampuan terasa cukup, bahkan deskripsi pekerjaannya tampak seperti pekerjaan yang selama ini dibayangkan. Harapan kemudian berhenti pada satu baris kecil yang hampir selalu muncul di bagian persyaratan: pengalaman kerja minimal satu atau dua tahun.

Seorang lulusan baru bisa saja menatap layar cukup lama pada bagian tersebut. Empat tahun kuliah sudah ia lewati, tetapi perusahaan tetap meminta pengalaman yang belum pernah ia miliki. Dari sana muncul pertanyaan yang sulit dijawab: bagaimana seseorang mendapatkan pengalaman pertama jika kesempatan pertama justru meminta pengalaman?

Pertanyaan itu mungkin terdengar seperti persoalan pribadi seorang pencari kerja. Namun ketika pengalaman serupa muncul pada begitu banyak lulusan, masalahnya mulai berubah menjadi persoalan yang lebih besar. Ada jarak antara ruang kelas dan kantor, antara ijazah dan pengalaman, serta antara harapan pendidikan dan kebutuhan pasar kerja.

Ini Belum Selesai

BBM Tersendat, ASN WFH Jadi Jawaban: Bagaimana dengan Akar Masalahnya?

Prabowo Bertemu Guterres di Hambalang: Diplomasi Akrab, Hasilnya Harus Terukur

Di media sosial, cerita wisuda biasanya berakhir dengan foto. Toga, bunga, keluarga, teman, dan senyum memenuhi layar. Caption berbicara tentang perjuangan yang akhirnya terbayar dan masa depan yang siap dimulai.

Kamera jarang mengikuti halaman berikutnya.

Setelah toga dilepas, sebagian lulusan memasuki ruang tunggu yang tidak memiliki kursi. Mereka mengirim lamaran, menunggu panggilan, mengikuti wawancara, menerima penolakan, kemudian kembali mencari lowongan baru. Siklus tersebut dapat berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Pada fase itu, ijazah mulai menunjukkan wajah yang berbeda.

Gelar tidak otomatis menjadi tiket masuk dunia kerja.

Ia hanya memberi seseorang kesempatan untuk ikut mengantre.

Ketika Angka Mulai Memiliki Wajah

Badan Pusat Statistik mencatat 1.010.652 penganggur berpendidikan universitas pada Februari 2025. Enam bulan kemudian, jumlah tersebut turun menjadi 904.440 orang pada Agustus 2025. Angka itu menunjukkan perbaikan, tetapi jumlah penganggur berpendidikan universitas masih berada di kisaran hampir satu juta orang.

Di atas kertas, angka tersebut hanya berupa statistik ketenagakerjaan. Pembaca bisa melihat kenaikan atau penurunan, membandingkan periode, kemudian berpindah ke angka berikutnya.

Namun setiap angka menyimpan kehidupan yang tidak terlihat dalam tabel.

Di dalam 904.440 orang itu terdapat lulusan yang baru beberapa minggu mencari pekerjaan. Ada pula yang sudah berbulan-bulan mengirim CV tanpa memperoleh kepastian. Sebagian mulai menurunkan target, sementara sebagian lain menerima pekerjaan di luar bidang pendidikan karena kebutuhan hidup tidak mengenal masa tunggu.

Bayangan tentang pekerjaan pertama biasanya tumbuh jauh sebelum wisuda. Seorang mahasiswa membayangkan kantor yang sesuai dengan jurusannya, penghasilan pertama, kesempatan berkembang, dan kemampuan membantu keluarga setelah bertahun-tahun menerima dukungan orang tua.

Pasar kerja tidak selalu mengikuti bayangan tersebut.

Kondisi itulah yang membuat angka pengangguran sarjana penting dibaca lebih dalam. Persoalannya bukan hanya berapa banyak lulusan yang belum bekerja, tetapi juga bagaimana pendidikan bertemu dengan struktur pekerjaan yang tersedia.

Empat Tahun Kuliah, Lalu Apa?

Keyakinan bahwa pendidikan tinggi membuka jalan menuju kehidupan yang lebih baik sudah lama tumbuh dalam keluarga Indonesia. Anak didorong untuk sekolah setinggi mungkin karena gelar dianggap mampu memperluas peluang, meningkatkan posisi sosial, dan membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih mandiri.

Harapan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Pendidikan memang memberikan pengetahuan, kemampuan berpikir, jaringan, dan kesempatan. Karena itu, orang tua rela mengeluarkan biaya selama bertahun-tahun agar anak dapat menyelesaikan pendidikan tinggi.

Uang kuliah terus dibayar. Biaya kos, makan, transportasi, buku, dan berbagai kebutuhan akademik ikut ditanggung. Semua pengorbanan itu bertumpu pada satu harapan sederhana: setelah lulus, anak mampu berdiri dengan kakinya sendiri.

Masalah muncul ketika harapan tersebut bertemu dengan pasar kerja.

Pada Februari 2026, BPS mencatat Indonesia memiliki 154,91 juta orang dalam angkatan kerja. Penduduk yang bekerja mencapai 147,67 juta orang, sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka berada pada 4,68 persen dengan total pengangguran sekitar 7,24 juta orang.

Data nasional itu menunjukkan kondisi ketenagakerjaan yang membaik. Namun penurunan pengangguran tidak otomatis membuat semua lulusan menemukan pekerjaan yang sesuai.

Pertumbuhan ekonomi dapat menciptakan pekerjaan tanpa menyediakan semua jenis posisi yang dibutuhkan lulusan. Industri bisa membuka kesempatan baru, tetapi kebutuhan kompetensinya belum tentu sama dengan latar pendidikan setiap pencari kerja. Pada saat yang sama, perguruan tinggi terus menghasilkan lulusan dengan bidang keahlian yang semakin beragam.

Pertemuan antara ketiganya berlangsung di pasar kerja.

Tidak semua orang menemukan tempat dengan mudah.

Ketika Jurusan Tidak Menentukan Ke Mana Seseorang Pergi

Selama empat tahun, seorang mahasiswa mungkin menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mempelajari satu bidang. Buku, ruang kuliah, penelitian, tugas, praktikum, organisasi, hingga skripsi menjadi bagian dari proses panjang menuju satu tujuan: memperoleh gelar.

Setelah wisuda, ukuran keberhasilan berubah.

Perusahaan tidak hanya melihat IPK. Perekrut juga mencari kemampuan menyelesaikan masalah, pengalaman, komunikasi, kemampuan digital, kerja sama tim, dan kemampuan beradaptasi.

Perbedaan ukuran tersebut menciptakan jarak yang tidak selalu terlihat ketika seseorang masih berada di kampus.

Seorang lulusan bisa memiliki nilai akademik tinggi, tetapi belum mempunyai portofolio. Pengetahuan teorinya mungkin kuat, tetapi pengalaman menghadapi persoalan nyata masih terbatas. Jurusan yang tercantum pada ijazah juga belum tentu menemukan pasangan yang tepat dalam daftar lowongan.

Penelitian dalam Jurnal Ketenagakerjaan berbasis Sakernas Februari 2022 menemukan 33,50 persen pekerja lulusan pendidikan tinggi mengalami horizontal mismatch, yaitu ketidaksesuaian antara bidang pendidikan dan pekerjaan.

Angka tersebut tidak menunjukkan bahwa 33,50 persen sarjana menganggur. Temuan itu menggambarkan pekerja lulusan pendidikan tinggi yang menjalani pekerjaan di luar bidang pendidikannya.

Meski begitu, data tersebut memperlihatkan satu persoalan penting. Pendidikan tinggi tidak selalu berakhir pada pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang seseorang pelajari selama bertahun-tahun.

Bagi sebagian lulusan, pilihan akhirnya menjadi rumit. Menunggu pekerjaan sesuai jurusan berarti memperpanjang masa pencarian. Mengambil pekerjaan lain berarti menerima kemungkinan bahwa sebagian kompetensi yang telah dibangun tidak terpakai secara langsung.

Kebutuhan hidup kemudian ikut menentukan arah.

Kampus Mengajarkan Pengetahuan, Dunia Kerja Meminta Pembuktian

Ruang kuliah memiliki ukuran keberhasilan sendiri. Mahasiswa mengerjakan tugas, mengikuti ujian, menyusun penelitian, mempertahankan skripsi, lalu memperoleh nilai sebagai hasil dari proses tersebut.

Kantor memiliki ukuran yang berbeda.

Seorang kandidat perlu menunjukkan apa yang dapat ia kerjakan, bagaimana ia menyelesaikan persoalan, seberapa cepat ia beradaptasi, dan seberapa baik ia bekerja bersama orang lain. Kemampuan tersebut tidak selalu tercermin dalam transkrip nilai.

Kondisi itu membuat lulusan baru menghadapi perlombaan kedua setelah menyelesaikan pendidikan formal. Sertifikasi mulai dikejar, pelatihan diikuti, portofolio dibangun, pengalaman magang ditambah, dan jaringan profesional diperluas.

Semua langkah tersebut memang berguna.

Tetapi pertanyaan yang lebih besar tetap muncul: mengapa sebagian lulusan harus membangun hampir seluruh bukti pengalaman setelah menyelesaikan pendidikan formal?

Perusahaan membutuhkan pekerja yang mampu bekerja. Kampus membutuhkan lulusan yang relevan dengan perubahan zaman. Mahasiswa membutuhkan kesempatan untuk memperoleh pengalaman sebelum memasuki persaingan penuh.

Ketiganya seharusnya bertemu lebih awal.

Jika tidak, lulusan akan terus menghadapi paradoks yang sama: perusahaan meminta pengalaman, sedangkan pengalaman hanya bisa tumbuh ketika seseorang mendapat kesempatan.

Setelah Foto Wisuda Hilang dari Layar, Kecemasan Tetap Tinggal

Media sosial memperlihatkan sisi paling indah dari kelulusan. Foto keluarga memenuhi linimasa, ucapan selamat berdatangan, dan cerita perjuangan berakhir dengan senyum di depan kamera.

Media sosial memperlihatkan sisi indah kelulusan, tetapi jarang merekam hari-hari setelahnya. Seorang lulusan kembali membuka portal kerja, memeriksa email, memperbaiki CV, lalu menunggu panggilan yang belum tentu datang. Di balik rutinitas sunyi itu, perjuangan mencari kerja terus berjalan tanpa kamera dan tepuk tangan.

Yang muncul justru kehidupan teman-teman seangkatan.

Satu orang mulai bekerja di perusahaan besar. Teman lainnya mengunggah kartu identitas kantor. Ada yang mendapat penghasilan pertama. Ada pula yang mulai membagikan perjalanan kariernya.

Seorang lulusan yang masih mencari pekerjaan mungkin ikut memberi selamat. Namun di balik layar ponsel, muncul pertanyaan yang lebih pribadi: kapan gilirannya tiba?

Pengangguran terdidik membawa tekanan yang tidak seluruhnya bisa dibaca melalui statistik. Persoalannya menyentuh kebutuhan ekonomi, hubungan keluarga, perbandingan sosial, rasa percaya diri, bahkan cara seseorang menilai dirinya sendiri.

Masa tunggu yang semakin panjang juga dapat membuat seseorang mempertanyakan pilihan yang dulu terasa paling rasional.

Masa pencarian kerja yang panjang sering membuat seorang lulusan mulai meragukan banyak hal. Pilihan jurusan ikut dipertanyakan, kualitas kampus mulai menjadi bahan pikiran, sementara kemampuan diri sendiri perlahan ikut diragukan. Padahal, kegagalan mendapatkan pekerjaan tidak selalu lahir dari satu keputusan pribadi. Ada struktur pasar kerja, kebutuhan industri, pengalaman, lokasi, hingga kondisi ekonomi yang ikut menentukan peluang seseorang.

Pertanyaan tersebut sering muncul ketika seseorang menghadapi situasi yang sebenarnya melibatkan banyak faktor di luar dirinya.

Orang Tua Membayar Pendidikan, Anak Membawa Ekspektasinya

Bagi banyak keluarga, kuliah merupakan investasi yang tidak kecil. Orang tua menyisihkan uang selama bertahun-tahun dengan harapan pendidikan anak akan menghasilkan kehidupan yang lebih mandiri.

Bagi banyak keluarga, biaya pendidikan menjadi pengorbanan yang berlangsung bertahun-tahun. Uang kuliah, biaya kos, makan, transportasi, hingga kebutuhan akademik terus mereka keluarkan dengan harapan anak kelak mampu membangun kehidupan yang lebih mandiri. Ketika anak pulang membawa ijazah, keluarga berharap perjalanan panjang itu akhirnya menemukan hasil dalam kehidupan nyata.

Karena itu, ketika pekerjaan tidak kunjung datang, tekanan tidak hanya muncul dari kebutuhan finansial.

Harapan keluarga ikut menunggu.

Seorang lulusan mungkin mulai merasa bersalah karena belum mampu membantu orang tua. Pertanyaan sederhana tentang pekerjaan perlahan terasa berat. Teman sebaya bergerak menuju fase kehidupan berikutnya, sementara dirinya masih berhadapan dengan daftar lowongan yang sama.

Kalimat “sudah kerja di mana?” dapat terdengar biasa bagi orang yang sudah bekerja.

Bagi seseorang yang masih mencari pekerjaan, pertanyaan itu bisa menyentuh bagian paling rapuh dari dirinya.

Gelar yang semula menjadi simbol keberhasilan akhirnya membawa paradoks. Masyarakat melihat pendidikan tinggi sebagai pencapaian, tetapi pencapaian tersebut juga meningkatkan ekspektasi terhadap apa yang seharusnya terjadi setelah wisuda.

Modal sosial berubah menjadi tekanan sosial.

Mendapat Pekerjaan Belum Tentu Mengakhiri Persoalan

Pembicaraan mengenai tenaga kerja sering berhenti pada satu pembagian sederhana: bekerja atau menganggur.

Kehidupan nyata jauh lebih rumit.

BPS mencatat rata-rata upah buruh pada Februari 2026 sebesar Rp3,29 juta. Pada periode yang sama, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyerap 42,49 juta pekerja, atau 28,78 persen dari penduduk bekerja.

Angka tersebut memperlihatkan luasnya pasar kerja Indonesia sekaligus keragaman struktur pekerjaan di dalamnya.

Karena itu, status bekerja belum cukup untuk menggambarkan keberhasilan seseorang memasuki dunia kerja. Kesesuaian pekerjaan, tingkat pendapatan, jam kerja, keamanan, kesempatan berkembang, dan hubungan antara kompetensi dengan pekerjaan ikut menentukan kualitas kehidupan pekerja.

Seorang sarjana memang keluar dari statistik pengangguran setelah mendapatkan pekerjaan.

Namun pekerjaan tersebut belum tentu menyelesaikan persoalan yang lain.

Ia mungkin bekerja jauh dari bidang pendidikan. Pendapatannya mungkin belum memenuhi kebutuhan. Kesempatan berkembang mungkin terbatas. Kompetensinya mungkin hanya terpakai sebagian.

Status “bekerja” mengubah angka statistik.

Belum tentu ia langsung mengubah masa depan.

Siapa yang Harus Beradaptasi?

Ketika pembicaraan sampai pada pengangguran sarjana, jawaban paling mudah biasanya mengarah kepada lulusan.

Ketika pembicaraan sampai pada pengangguran sarjana, jawaban paling mudah biasanya mengarah kepada lulusan. Peningkatan keterampilan, penguasaan teknologi, perluasan jaringan, dan penguatan portofolio memang penting untuk menghadapi pasar kerja yang semakin kompetitif. Namun, seluruh tuntutan tersebut tidak seharusnya menjadi beban individu semata.

Portofolio harus diperkuat. Kemampuan komunikasi harus diasah.

Semua saran tersebut masuk akal.

Namun persoalan menjadi tidak seimbang ketika seluruh beban perubahan diletakkan di pundak individu.

Universitas juga harus bergerak. Kampus perlu membaca perubahan kebutuhan industri, memperkuat pengalaman praktis, dan membangun hubungan yang lebih nyata dengan dunia kerja.

Industri memiliki tanggung jawab yang sama penting. Perusahaan membutuhkan pekerja kompeten, tetapi pekerja pemula juga membutuhkan ruang untuk mendapatkan pengalaman pertama. Jalur masuk bagi lulusan baru tidak seharusnya selalu mengandaikan pengalaman yang panjang.

Pemerintah menghadapi tanggung jawab yang lebih besar. Negara perlu melihat bukan hanya jumlah pengangguran yang turun, tetapi juga kualitas pekerjaan, kesesuaian kompetensi, produktivitas, upah, dan kemampuan ekonomi menyerap lulusan pendidikan tinggi.

Ketiga pihak tersebut tidak dapat bekerja sendiri-sendiri.

Ketika kampus tidak cukup cepat membaca kebutuhan industri, relevansi lulusan ikut dipertaruhkan. Pada saat yang sama, tuntutan perusahaan terhadap tenaga siap pakai dapat mempersempit ruang bagi pekerja pemula untuk memperoleh pengalaman. Pemerintah pun tidak cukup hanya mengejar angka penyerapan tenaga kerja karena kualitas pekerjaan ikut menentukan apakah pertumbuhan tersebut benar-benar memberi dampak bagi pekerja.

Pada akhirnya, lulusan kembali berada di tengah.

Mereka yang paling cepat diminta beradaptasi.

Masalahnya Bukan Sekadar Sarjana Menganggur

Angka 1.010.652 penganggur berpendidikan universitas pada Februari 2025 kemudian turun menjadi 904.440 pada Agustus 2025. Penurunan itu patut dicatat sebagai perkembangan positif, tetapi angka tersebut juga meninggalkan pertanyaan yang lebih besar.

Persoalannya bukan hanya soal waktu tunggu. Pengalaman juga menjadi syarat yang sulit dipenuhi lulusan baru. Mereka membutuhkan pekerjaan untuk memperoleh pengalaman, tetapi banyak pekerjaan justru meminta pengalaman sejak awal.

Ketidaksesuaian antara jurusan dan pekerjaan menambah persoalan. Tidak semua lulusan menemukan pekerjaan yang sejalan dengan pendidikan mereka.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan tidak cukup berhenti pada jumlah lulusan. Perjalanan mereka setelah menerima ijazah juga perlu diperhitungkan.

Rangkaian pertanyaan tersebut membawa kita keluar dari cerita tentang satu individu.

Di sana muncul sebuah pola.

Ini bukan sekadar masalah sarjana yang sulit mencari kerja. Ini adalah persoalan hubungan antara pendidikan, industri, dan struktur ekonomi.

Universitas menghasilkan lulusan. Industri membutuhkan kompetensi. Pemerintah mengejar pertumbuhan ekonomi. Keluarga berharap pendidikan membuka jalan menuju mobilitas sosial.

Namun keempat kepentingan tersebut tidak selalu bertemu.

Ketika sambungannya lemah, lulusan menjadi pihak yang paling mudah terlihat. Di tangan mereka ada ijazah, tetapi pekerjaan belum tentu datang setelahnya. Pengetahuan yang diperoleh selama bertahun-tahun juga belum selalu menemukan ruang di industri. Sementara itu, harapan keluarga terus berjalan beriringan dengan persaingan pasar kerja yang semakin ketat.

Di sinilah angka pengangguran sarjana berubah menjadi cermin.

Cermin itu tidak hanya memperlihatkan lulusan yang belum bekerja.

Ia juga memperlihatkan sistem yang belum sepenuhnya mampu mempertemukan pendidikan dengan pekerjaan.

Ijazah Bukan Tiket. Ia Hanya Kunci.

Mungkin kita perlu mengubah cara melihat ijazah.

Gelar bukan tiket yang menjamin kursi di dunia kerja. Ijazah lebih menyerupai kunci yang membuka sejumlah pintu, sementara setiap pintu memiliki persyaratan, persaingan, dan kondisi yang berbeda.

Pendidikan tinggi tetap penting. Ia memperluas pengetahuan, melatih cara berpikir, membangun jaringan, dan membuka peluang yang mungkin tidak tersedia tanpa pendidikan formal.

Namun pendidikan tidak boleh berhenti pada seremoni wisuda.

Kampus perlu membangun jembatan yang lebih kuat menuju pekerjaan. Industri perlu memberi ruang bagi pekerja pemula untuk memperoleh pengalaman. Pemerintah perlu menciptakan pekerjaan berkualitas sekaligus memperbaiki hubungan antara kebutuhan ekonomi dan pendidikan.

Mahasiswa pun tetap harus belajar beradaptasi karena dunia kerja terus berubah.

Tetapi adaptasi individu tidak boleh menjadi alasan bagi sistem untuk berhenti berbenah.

Seorang sarjana tidak membawa selembar ijazah saja ketika keluar dari kampus. Ia membawa bertahun-tahun pendidikan, biaya yang dikeluarkan keluarga, pengetahuan yang dibangun, serta harapan untuk hidup mandiri.

Maka ketika hampir satu juta lulusan universitas pernah tercatat sebagai penganggur dalam satu periode, kita tidak cukup bertanya apakah mereka sudah berusaha mencari pekerjaan.

Pertanyaan yang lebih besar menunggu di depan pintu.

Mungkin persoalannya bukan karena sarjana tidak memiliki tiket. Mereka sudah membawa kunci, tetapi pintu yang tersedia belum tentu cukup banyak, cukup sesuai dengan kompetensi mereka, atau cukup terbuka bagi mereka yang baru memulai. Di situlah tanggung jawab kampus, industri, dan pemerintah bertemu memastikan pendidikan benar-benar terhubung dengan kebutuhan pekerjaan, memberi ruang bagi lulusan untuk memperoleh pengalaman, serta menciptakan ekonomi yang mampu menyerap kemampuan manusia yang telah bertahun-tahun dididik.

Dan apakah negara sudah membangun ekonomi yang mampu menyerap manusia yang telah bertahun-tahun dididiknya?

Mungkin persoalannya bukan karena sarjana tidak memiliki tiket.

Mungkin mereka sudah membawa kunci.

Yang belum tersedia adalah cukup banyak pintu. @dimas

Tags: Dunia KerjaIjazahPasar KerjaPengangguran SarjanaSarjana Indonesia

Kamu Melewatkan Ini

Fenomena Profesional Turun Kelas, Ada Apa dengan Dunia Kerja?

Fenomena Profesional Turun Kelas, Ada Apa dengan Dunia Kerja?

by dimas
Oktober 6, 2026

Fenomena profesional turun kelas mencerminkan perubahan pilihan karier. Kepastian kerja kini kerap lebih menarik daripada ambisi, posisi, dan peluang berkembang....

Dua Penyandang Disabilitas Masuk Dunia Kerja, Kesempatan Jadi Nyata

Dua Penyandang Disabilitas Masuk Dunia Kerja, Kesempatan Jadi Nyata

by dimas
Agustus 21, 2026

Dua penyandang disabilitas tuli diterima bekerja di Indomaret Surakarta. Kesempatan ini menjadi bukti bahwa inklusi kerja dapat diwujudkan secara nyata....

PHK Naik, Pengangguran Turun: Ada yang Salah di Pasar Kerja?

PHK Naik, Pengangguran Turun: Ada yang Salah di Pasar Kerja?

by dimas
Agustus 14, 2026

PHK meningkat saat angka pengangguran turun. Benarkah pasar kerja Indonesia membaik, atau pekerja hanya berpindah ke pekerjaan yang lebih rentan?...

Next Post
Indonesia Berdaulat, Tapi Siapa Yang Memegang Kendali?

Indonesia Berdaulat, Tapi Siapa Yang Memegang Kendali?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id