Tabooo.id: Musik – Kalau kamu pikir cuma lagu pop dan sejenisnya yang bisa masuk nominasi AMI, siap-siap kaget. Film Rumah Dinas Bapak, yang dikenal dengan kombinasi absurd antara horor hutan jati dan komedi khas Dodit Mulyanto, resmi menembus nominasi AMI Awards 2025 untuk kategori Album Film Scoring Terbaik.
Dan enggak, ini bukan salah kategori. Ini justru momen langka, ketika dunia film dan musik saling menatap, bingung tapi kagum.
Dari Rumah Angker ke Ruang Orkestra
Di tangan Mikhael Alpha Beltsazar, musik di film Rumah Dinas Bapak bukan cuma latar, tapi napas. Dalam 17 trek berdurasi 27 menit, ia menciptakan suasana yang bisa berubah secepat tawa Dodit jadi jeritan. Satu detik kamu merasa aman, detik berikutnya kamu ngerasa ada yang ngintip dari balik pintu.
Filmnya sendiri diangkat dari kisah nyata masa kecil Dodit, anak mantri Perhutani yang harus tinggal di rumah dinas berhantu di tengah hutan. Jadi kalau musiknya terdengar “terlalu hidup”, mungkin memang begitu niatnya.
Antara Ketakutan dan Kejenakaan
Kategori yang digapai Mikhael bukan main-main. Ia bersaing dengan nama-nama besar seperti Ricky Lionardi (Pabrik Gula) dan Ofel Obaja (JUMBO).
Di tengah orkestra megah dan gamelan sakral, skor Rumah Dinas Bapak justru tampil sederhana — tapi tepat sasaran. Alih-alih mengejar kemewahan, Mikhael memilih efisiensi emosional, setiap nada dipakai untuk membangun suasana, bukan memamerkan teknik.
Mungkin yang bikin para juri AMI tertarik adalah keberanian membuat musik yang menakutkan sekaligus… lucu.
AMI Awards dan Paradoks “Bhinneka Tunggal Suara”
Tahun ini AMI mengusung tema “Bhinneka Tunggal Suara”, keberagaman dalam musik Indonesia. Lucunya, Rumah Dinas Bapak justru jadi contoh paling ekstrem, di mana gamelan bisa bertemu gesekan biola menyeramkan dan tawa karakter utama jadi ritme perkusinya sendiri.
Apakah itu keberagaman? Atau bentuk kekacauan yang artistik? Bagi Tabooo, dua-duanya bisa benar.
Jadi, Salah Masuk Kategori?
Enggak juga. Ini mungkin justru pembenaran.
Bahwa musik film, bahkan yang lahir dari rumah berhantu, pantas dihargai setara dengan album pop chart-topper.
Kalau Rumah Dinas Bapak menang, itu bukan cuma kemenangan Mikhael Alpha Beltsazar, tapi juga pembuktian bahwa suara takut pun bisa punya harmoni.
Dan kalau kalah? Setidaknya, dia udah bikin sejarah, satu-satunya film yang bikin juri musik mainstream mendengarkan suara dinding rumah dinas.
Di dunia hiburan yang makin homogen, karya kayak Rumah Dinas Bapak jadi pengingat: kreativitas sejati kadang terdengar… aneh. Tapi justru di situlah kejujuran berada.
Mungkin memang waktunya musik Indonesia berhenti takut pada yang menyeramkan — dan mulai belajar menari dengan bayangan.
Tapi, omong-omong kamu sudah nonton film-nya? @tabooo





