Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Rp285 Triliun Menguap: Kisah BBM yang Menjerat Rakyat

by dimas
Desember 24, 2025
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, deru AC dan bisik-bisik pengunjung tidak mampu menutupi ketegangan. Angka Rp285 triliun melayang di udara, menimpa para terdakwa, termasuk Alfian Nasution, mantan Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga (2021–2023). Bersama tujuh rekannya, Alfian menghadapi dakwaan merugikan keuangan dan perekonomian negara melalui pengelolaan minyak mentah dan produk kilang.

Angka Kerugian yang Mencekam

Jaksa Penuntut Umum memaparkan kerugian yang membuat kepala pusing keuangan negara Rp25,4 triliun, perekonomian Rp171,9 triliun, ditambah keuntungan ilegal 2,6 miliar dolar AS. Totalnya mencapai Rp285,1 triliun lebih besar dari APBD sebagian provinsi. Akibatnya, subsidi BBM yang seharusnya meringankan beban rakyat kini tergerus. Dampaknya dirasakan pengemudi ojek, petani, hingga ibu rumah tangga yang menimbang rupiah untuk kebutuhan sehari-hari.

Korupsi dalam Rantai Bisnis

Alfian dan rekan tidak bekerja sendiri. Mereka menandatangani kontrak sewa terminal BBM dengan PT Orbit Terminal Merak, memperkaya Riza Chalid dan keluarganya hingga Rp2,9 triliun. Mereka juga menetapkan harga solar dan biosolar kepada PT Adaro Indonesia tanpa mempertimbangkan nilai jual terendah maupun profitabilitas, memberi keuntungan Rp630 miliar dan kompensasi solar Rp13,1 triliun.

Selain itu, pengadaan minyak mentah dan produk kilang mengalir ke perusahaan asing, termasuk Trafigura PTE LTD, hingga ratusan juta dolar AS. Keputusan yang seharusnya transparan berubah menjadi jalur pengalihan kekayaan publik ke kantong pribadi.

Kehidupan Nyata di Balik Angka

Namun, angka dan laporan audit hanya memberi bayangan dingin. Pengemudi ojek menunggu solar bersubsidi agar bisa bekerja. Petani menyiapkan pupuk dan BBM untuk panen. Ibu rumah tangga menimbang rupiah agar anak tetap bisa sekolah. Mereka menanggung akibat dari keputusan terdakwa. Sementara itu, para terdakwa duduk tenang, dokumen kontrak menjadi tameng mereka.

Ini Belum Selesai

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

Pusaka Milik Raja atau Dinasti? Konflik Lama Karaton Solo yang Tak Pernah Selesai

Bagi publik, setiap angka adalah luka sosial. Dolar yang mengalir ke luar negeri atau kantong tertentu terasa nyata dalam kesejahteraan rakyat.

Sistem yang Membiarkan Keserakahan

Kasus ini membuka tabir besar sistem gagal ketika kontrol internal lemah, pengawasan minim, dan integritas digantikan kepentingan pribadi. Terdakwa memang tidak bertindak sendiri, tapi jaringan birokrasi dan bisnis memfasilitasi kerugian luar biasa. Akibatnya, masyarakat menanggung beban harga BBM naik, kepercayaan terhadap institusi publik menurun.

Refleksi Sosial yang Menyakitkan

Tabooo melihat kasus ini bukan hanya korupsi, tapi ketimpangan moral dan sosial. Dalam angka Rp285 triliun terselip cerita rakyat yang harus mengencangkan ikat pinggang. Cerita pengusaha kecil, pekerja harian, dan keluarga yang mengandalkan keadilan struktural. Sementara mereka yang duduk di meja sidang menikmati ruang aman, bahkan risiko hukum pun terasa jauh.

Negara yang Menunggu Keadilan

Ketika sidang berakhir dan pintu ruang persidangan tertutup, bayangan Rp285 triliun masih membayang di benak publik. Siapa paling dirugikan? Mereka yang hidup dari rupiah yang kini hilang. Siapa paling diuntungkan? Mereka yang menandatangani kontrak, mengatur angka, dan memindahkan kekayaan publik ke kantong pribadi.

Kasus Pertamina menantang kita bertanya sejauh mana sistem melindungi rakyat? Dan sejauh mana masyarakat bersedia menuntut transparansi dan keadilan? Sementara itu, manusia biasa tetap menatap harga BBM dan berjuang untuk hari esok yang lebih adil. @dimas

Tags: BBMKeadilanKorupsi di IndonesiaPertaminarakyatRiza ChalidSidangSosial & Publik

Kamu Melewatkan Ini

Minyak, PKI, dan Militer: Kisah Permigan yang Hilang dari Sejarah

Minyak, PKI, dan Militer: Kisah Permigan yang Hilang dari Sejarah

by dimas
Mei 29, 2026

Permigan pernah menjadi saingan serius Pertamina. Di baliknya tersimpan kisah perebutan minyak, ideologi, dan kekuasaan yang membentuk sejarah Indonesia. Tabooo.id...

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

by jeje
Mei 24, 2026

Lucu, ya. Kita hidup di zaman ketika semua orang tampak marah. Timeline penuh kritik. Warung kopi berubah jadi ruang debat...

Socrates Tidak Mati, Kita yang Berhenti Bertanya

Filsafat Socrates: Mengapa Berpikir Kritis Semakin Langka di Era Digital

by jeje
Mei 22, 2026

Ada sesuatu yang terasa janggal di zaman ini. Informasi datang tanpa henti. Namun, manusia justru semakin sulit membedakan mana pengetahuan...

Next Post
Tabrakan Maut Bus Rosalia Indah vs Truk Gandeng di Kebumen

Tabrakan Maut Bus Rosalia Indah vs Truk Gandeng di Kebumen

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id