Tabooo.id: Musik –Pernah merasa lagu favoritmu terdengar di mana-mana di kafe, mal, wedding, sampai story Instagram namun penciptanya tetap hidup sederhana?
Kalau iya, kamu tidak berlebihan. Sebenarnya, kamu sedang menyaksikan fenomena klasik: royalti musik sering kabur diam-diam, pergi tanpa pamit, lalu menghilang begitu saja.
Ironisnya, di era digital yang orang klaim transparan ini, urusan royalti justru makin gelap. Banyak orang memutar musik tanpa pikir panjang. Pelaku usaha memakai seni sebagai pemikat suasana. Publik menikmati karya tanpa bertanya asal-usulnya. Namun, saat obrolan soal bayaran muncul, hampir semua pihak memilih diam. Akibatnya, uang royalti lenyap perlahan.
Fakta Utama: Musik Diputar, Duit Nyasar
Untuk memahami persoalan ini, kita perlu menarik garis tegas sejak awal.
Royalti adalah hak ekonomi pencipta lagu, musisi, penulis, dan seniman atas karya mereka. Setiap kali seseorang memutar lagu di ruang publik, platform digital, atau acara komersial, aturan jelas mewajibkan pembayaran. Sayangnya, praktik di lapangan sering berjalan berlawanan.
Banyak musisi mengeluhkan royalti digital yang kecil, datang terlambat, atau bahkan tidak jelas asalnya. Di satu sisi, lagu mereka menembus jutaan streaming. Di sisi lain, nominal yang masuk ke rekening sering kali hanya cukup untuk kebutuhan kecil.
Sementara itu, pelaku usaha memutar lagu bebas di kafe, hotel, gym, hingga event besar. Namun, mereka sering mengabaikan laporan penggunaan. Sistem penarikan royalti terasa rumit. Banyak pihak saling lempar tanggung jawab. Pada saat bersamaan, pelaku usaha berlindung di balik alasan aman: “kami tidak tahu harus bayar ke siapa.”
Akibatnya, pola lama terus berulang tanpa perubahan.
Platform terus mengeruk keuntungan.
Penikmat tetap menikmati hiburan.
Lalu siapa yang menanggung akibatnya? Senimannya sendiri.
Analisis Tabooo: Seni Dipuja, Seniman Dilupa
Masalah ini tidak berhenti pada urusan teknis. Lebih jauh lagi, persoalan ini menyentuh cara kita memandang seni.
Setiap hari, kita memuja seni. Kita menyebut musik sebagai penyelamat hidup. Lagu menemani patah hati, begadang, hingga pelarian dari realitas. Namun, ketika pembicaraan bergeser ke hak ekonomi penciptanya, perhatian kita mendadak menghilang.
Selain itu, mentalitas lama masih bertahan kuat. Banyak orang menganggap seni sebagai passion, bukan profesi. Mereka percaya musisi bisa hidup dari tepuk tangan dan like. Bahkan, sebagian orang mengira apresiasi sudah cukup untuk menggantikan penghasilan.
Padahal, di balik satu lagu berdurasi tiga menit, ada jam latihan panjang, biaya produksi mahal, tekanan mental, dan risiko gagal. Seni tidak muncul secara instan. Kerja keras melahirkannya, bukan sekadar rasa.
Ironisnya, di era konten serba cepat ini, publik mengonsumsi karya seni dengan sangat mudah. Sebaliknya, penghargaan yang adil justru makin jarang muncul. Semua orang ingin memakai lagu viral. Akan tetapi, hanya sedikit yang mau memikirkan izin dan kompensasi.
Lebih parah lagi, sistem sering mendorong seniman ke posisi paling lemah. Minim literasi hukum, akses terbatas, dan kuasa tawar rendah membuat banyak seniman menyerah. Sebagian memilih diam. Sebagian lain lelah melawan.
Penutup: Dengarkan Lagunya, Hargai Orangnya
Sekarang, mungkin kita perlu berhenti sejenak. Turunkan volume. Lalu, ajukan pertanyaan sederhana: apakah kita sudah adil pada mereka yang menghibur kita?
Menghargai seni tidak cukup lewat share, applause, atau caption puitis. Sebaliknya, kita membutuhkan sistem yang berpihak dan kesadaran bersama.
Membayar royalti bukan beban. Itu etika.
Mengurus izin bukan ribet. Itu tanggung jawab.
Sebab, jika royalti terus menghilang tanpa pamit, jangan heran ketika suatu hari seninya ikut pergi. Saat itu, kita mungkin hanya bisa bertanya pelan,
“Kenapa jadi sepi, ya?”
Diskusi yuk. Seni memang gratis untuk dinikmati, tetapi tidak pernah gratis untuk diciptakan. @eko




