Tabooo.id: Boyolali – Puluhan nasabah Koperasi Bahana Lintas Nusantara (BLN) dari Jawa Timur rela jauh-jauh ke Jawa Tengah demi satu hal: menagih uang tabungan mereka yang tak pernah kembali. Tapi, yang mereka temui hanya rumah kosong sang bos BLN, Nicholas Nyoto Prasetyo, di depan perumahan Graha Sejahtera, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Mojosongo, Boyolali, Rabu (1/10/2025) sore.
Dari Malang Sampai Madiun, Semua Jadi Korban
Anton Sopahella, nasabah asal Surabaya, mengaku datang bersama rombongan dari Malang, Nganjuk, Kediri, Madiun, hingga Blitar. Sejak Maret 2025, bagi hasil mereka macet.
“Kami ke sini untuk klarifikasi ke rumah Pak Nicho yang informasinya dia di sini. Ada puluhan orang di sini, kami minta pertanggungjawaban ke Pak Nicho selaku bos BLN,” kata Anton. “Janji manisnya mana, gara-gara Pak Nicho banyak korban yang meninggal,” imbuhnya penuh emosi.
Anton sendiri mengaku kehilangan Rp400 juta. Ia mengatakan menabung secara bertahap mulai dari Rp100 juta, Rp120 juta, Rp80 juta, dan Rp120 juta.
“Saya sendiri pada 6 Maret 2025 memasukkan uang Rp120 juta. Ternyata tanggal 15 Maret ada masalah, sehingga uang saya tidak kembali. Tidak dikembalikan sama sekali. Kami pertanyakan ke pengurus BLN, katanya nunggu info. Tapi sampai sekarang enggak balik,” terangnya.
Rumah Bos BLN Jadi Sasaran
Rombongan sempat mendatangi kantor BLN di Solo, hasilnya nihil. Lanjut ke rumah Nicholas Nyoto Prasetyo di Boyolali, lagi-lagi tak ketemu.
Tak menyerah, mereka bergerak ke Salatiga. Di Jalan Merdeka Selatan, rumah besar milik Nicho digedor, dicorat-coret, bahkan sempat diduduki nasabah. Tapi bos BLN tetap tak muncul.
“Kita datang baik-baik untuk bertemu dengan Nicho, sebagai ketua pengurus BLN ini. Untuk menagih janji yang mana, katanya, 30 September 2025 akan diselesaikan,” ujar Moko, salah satu korban.
Bukan Ngemis, Tapi Nuntut Hak
Para nasabah menegaskan mereka bukan mau merampas. Mereka hanya menagih uang yang dijanjikan kembali.
“Jadi kami datang ke sini untuk menagih hak kami. Kita bukan mengambil punya Nicho, tapi kami meminta kembali (hak kita),” tegas Moko.
Bagi mereka, diam sama saja membiarkan diri terus dipermainkan. Banyak nasabah jatuh sakit, bahkan ada yang meninggal karena stres dan terjebak dalam lilitan hutang.
Koperasi Runtuh, Hidup Ikut Ambruk
Kasus BLN ini membuka lagi luka lama: bagaimana koperasi—yang seharusnya jadi pilar ekonomi rakyat, bisa berubah jadi jebakan investasi bodong.
Lalu, sampai kapan kasus-kasus seperti ini terus berulang? Rakyat kecil menabung dengan harapan, tapi yang mereka dapat justru trauma, kematian, dan rumah kosong sang bos. @tabooo




