Sabtu, Agustus 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Rakyat Turun Panggung: Ketika Pilihan Dialihkan ke DPRD

by dimas
Desember 7, 2025
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Edge – Malam minggu terasa damai. Lampu kamar temaram, AC berdenting pelan, dan kamu rebahan sambil menyapu layar TikTok tanpa beban. Tidak ada drama, tidak ada pemberitahuan mendadak setidaknya sampai sebuah notifikasi nongol dan merusak ketenangan itu.

Pesannya bukan dari gebetan.
Bukan voucher ongkir.
Bukan undangan nikahan teman yang tiba-tiba muncul begitu saja.

Yang muncul justru sesuatu yang jauh lebih menggelisahkan.

“Update Baru Sistem Demokrasi. Beberapa fitur di-reset. Tidak bisa undo.”

Jempolmu refleks berhenti, seolah wifi rumah macet saat hujan. Rasa penasaran langsung mengalahkan rasa takut, dan kamu membuka detail update tersebut. Tampilan pertama membuat alismu terangkat:

Ini Belum Selesai

Pengungsi Gempa NTT Makan Nasi Campur Kopi, Negara ke Mana?

Listyo Sigit Mau Pensiun, Tapi Siap Demo jika Desk Buruh Mandek?

“Pilkada tidak lagi dipilih langsung oleh rakyat. Voting dialihkan ke DPRD demi efisiensi.”

Wacana Serius yang Terasa Seperti Lelucon

Ini bukan parodi politik. Wacana tersebut muncul dari pernyataan Presiden Prabowo, yang menilai banyak negara memakai sistem serupa dan biayanya lebih rendah. DPR menanggapi dengan santai, hampir seperti admin grup keluarga yang sudah kebal broadcast:
“Silakan ajukan secara resmi, Pak.”

Sementara itu, Mahkamah Konstitusi tampak lelah. Mereka menyerupai kakek bijak yang berulang kali memperbaiki mainan rusak cucunya tetap mencoba membantu, meski wajahnya sudah menunjukkan rasa letih.

Mengapa Banyak Orang Merasa Waswas

Biaya Pilkada langsung memang tinggi. Konfliknya juga sering membara seperti komentar pertandingan sepak bola. Namun mengalihkan suara jutaan orang kepada beberapa puluh anggota DPRD memunculkan rasa janggal yang sulit diabaikan.

Analogi muncul tanpa perlu dipaksa. Guru yang berkata,
“Daripada mengawasi semua murid, nilai saya serahkan saja ke ketua kelas,”
atau developer game yang memilih menghapus mode multiplayer karena lelah memburu cheater.

Alasan bahwa DPRD lebih mudah diawasi pun terdengar manis, tetapi pengalaman publik berkisah sebaliknya. Orang-orang masih menyimpan ingatan tentang mahar politik, lobi di balik pintu tertutup, paket dukungan ala promo bundling, hingga transaksi kebijakan yang tampil seperti paket kuota harian.

Setiap kali muncul janji “nanti lebih bersih”, publik spontan teringat influencer skincare yang mengklaim wajah glowing tanpa filter klaim yang tidak selalu sesuai kenyataan.

Di Balik Layar: Mekanisme yang Tidak Kalah Ruwet dari Sinetron Panjang

Sementara percakapan publik berjalan setengah bingung, pemerintah dan DPR sudah berdiskusi soal revisi UU Pemilu, kodifikasi aturan, hingga antrean panjang Prolegnas yang mirip antrian flash sale. Putusan MK bertambah seperti chat mantan yang sengaja kamu baca tetapi tidak kamu balas.

Di luar ruang rapat, pertanyaan sederhana terus mengambang:
“Kapan rakyat diajak bicara soal ini?”

Kesan yang muncul menggambarkan negara yang menekan tombol “update” tanpa menampilkan user agreement.

Ketika Rakyat Berpindah Peran

Selama Pilkada langsung berlangsung, rakyat memegang peran sebagai pemain utama memilih, menentukan, dan memengaruhi hasil akhir. Perubahan sistem akan menggeser peran itu ke pinggir panggung.

Rakyat hanya bisa menyimak prosesnya, seperti akun guest yang menonton pertandingan tanpa bisa ikut bermain. Bayangkan RPG open world yang tiba-tiba berubah menjadi mode auto-battle karakter bergerak sendiri, sementara kamu hanya memandangi layar.

Ironi Terbesar: Demokrasi Mulai Menyusut

Pada akhirnya, wacana ini mengarah pada kenyataan pahit. Demokrasi kita sedang mengalami penyusutan. Bukan penyusutan korupsi, bukan penghematan biaya politik, tetapi penyusutan partisipasi rakyat.

Jika hak pilih langsung hilang, masyarakat hanya menerima dua kemungkinan: sistem tampak lebih sederhana, tetapi rasa kecewa justru melebar. Dan rakyat perlahan berubah menjadi NPC muncul lima tahun sekali tanpa dapat menentukan apa pun.

Silakan memilih selagi pilihan itu masih ada. @dimas

Tags: DemokrasidprdPilkadaPolitik IndonesiaSuara Rakyat

Kamu Melewatkan Ini

Candu Kekuasaan: Kenapa Kritik Terasa Seperti Musuh?

Candu Kekuasaan: Kenapa Kritik Terasa Seperti Musuh?

by dimas
Agustus 11, 2026

Candu kekuasaan membuat kritik terasa seperti ancaman. Saat penguasa hanya ingin didengar, demokrasi dan kewarasan publik ikut diuji. Tabooo.id -...

Kekuasaan: Candu yang Tak Pernah Masuk Daftar BNN

Kekuasaan: Candu yang Tak Pernah Masuk Daftar BNN

by dimas
Agustus 10, 2026

Kekuasaan bisa menjadi candu. Saat kritik dianggap ancaman, demokrasi diuji dan kewarasan publik menjadi benteng terakhir. Tabooo.id - Badan Narkotika...

Mental Feodal di Balik Seragam Kekuasaan

Mental Feodal di Balik Seragam Kekuasaan

by dimas
Juli 28, 2026

Kasus satpam di Bundaran HI mengungkap mental feodal yang masih mengakar. Saat jabatan mengalahkan martabat, demokrasi menghadapi ujian serius. Tabooo.id...

Next Post
Kraton Surakarta Resmikan Struktur Bebadan Baru

Kraton Surakarta Lengkapi Struktur Bebadan

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id