Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Rakyat Turun Panggung: Ketika Pilihan Dialihkan ke DPRD

by dimas
Desember 7, 2025
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Edge – Malam minggu terasa damai. Lampu kamar temaram, AC berdenting pelan, dan kamu rebahan sambil menyapu layar TikTok tanpa beban. Tidak ada drama, tidak ada pemberitahuan mendadak setidaknya sampai sebuah notifikasi nongol dan merusak ketenangan itu.

Pesannya bukan dari gebetan.
Bukan voucher ongkir.
Bukan undangan nikahan teman yang tiba-tiba muncul begitu saja.

Yang muncul justru sesuatu yang jauh lebih menggelisahkan.

“Update Baru Sistem Demokrasi. Beberapa fitur di-reset. Tidak bisa undo.”

Jempolmu refleks berhenti, seolah wifi rumah macet saat hujan. Rasa penasaran langsung mengalahkan rasa takut, dan kamu membuka detail update tersebut. Tampilan pertama membuat alismu terangkat:

Ini Belum Selesai

Seblak Pedas, Burnout, dan Perempuan Modern

Katanya Reformasi Polri Total, Tapi Kenapa Praktik Lama Belum Benar-Benar Hilang?

“Pilkada tidak lagi dipilih langsung oleh rakyat. Voting dialihkan ke DPRD demi efisiensi.”

Wacana Serius yang Terasa Seperti Lelucon

Ini bukan parodi politik. Wacana tersebut muncul dari pernyataan Presiden Prabowo, yang menilai banyak negara memakai sistem serupa dan biayanya lebih rendah. DPR menanggapi dengan santai, hampir seperti admin grup keluarga yang sudah kebal broadcast:
“Silakan ajukan secara resmi, Pak.”

Sementara itu, Mahkamah Konstitusi tampak lelah. Mereka menyerupai kakek bijak yang berulang kali memperbaiki mainan rusak cucunya tetap mencoba membantu, meski wajahnya sudah menunjukkan rasa letih.

Mengapa Banyak Orang Merasa Waswas

Biaya Pilkada langsung memang tinggi. Konfliknya juga sering membara seperti komentar pertandingan sepak bola. Namun mengalihkan suara jutaan orang kepada beberapa puluh anggota DPRD memunculkan rasa janggal yang sulit diabaikan.

Analogi muncul tanpa perlu dipaksa. Guru yang berkata,
“Daripada mengawasi semua murid, nilai saya serahkan saja ke ketua kelas,”
atau developer game yang memilih menghapus mode multiplayer karena lelah memburu cheater.

Alasan bahwa DPRD lebih mudah diawasi pun terdengar manis, tetapi pengalaman publik berkisah sebaliknya. Orang-orang masih menyimpan ingatan tentang mahar politik, lobi di balik pintu tertutup, paket dukungan ala promo bundling, hingga transaksi kebijakan yang tampil seperti paket kuota harian.

Setiap kali muncul janji “nanti lebih bersih”, publik spontan teringat influencer skincare yang mengklaim wajah glowing tanpa filter klaim yang tidak selalu sesuai kenyataan.

Di Balik Layar: Mekanisme yang Tidak Kalah Ruwet dari Sinetron Panjang

Sementara percakapan publik berjalan setengah bingung, pemerintah dan DPR sudah berdiskusi soal revisi UU Pemilu, kodifikasi aturan, hingga antrean panjang Prolegnas yang mirip antrian flash sale. Putusan MK bertambah seperti chat mantan yang sengaja kamu baca tetapi tidak kamu balas.

Di luar ruang rapat, pertanyaan sederhana terus mengambang:
“Kapan rakyat diajak bicara soal ini?”

Kesan yang muncul menggambarkan negara yang menekan tombol “update” tanpa menampilkan user agreement.

Ketika Rakyat Berpindah Peran

Selama Pilkada langsung berlangsung, rakyat memegang peran sebagai pemain utama memilih, menentukan, dan memengaruhi hasil akhir. Perubahan sistem akan menggeser peran itu ke pinggir panggung.

Rakyat hanya bisa menyimak prosesnya, seperti akun guest yang menonton pertandingan tanpa bisa ikut bermain. Bayangkan RPG open world yang tiba-tiba berubah menjadi mode auto-battle karakter bergerak sendiri, sementara kamu hanya memandangi layar.

Ironi Terbesar: Demokrasi Mulai Menyusut

Pada akhirnya, wacana ini mengarah pada kenyataan pahit. Demokrasi kita sedang mengalami penyusutan. Bukan penyusutan korupsi, bukan penghematan biaya politik, tetapi penyusutan partisipasi rakyat.

Jika hak pilih langsung hilang, masyarakat hanya menerima dua kemungkinan: sistem tampak lebih sederhana, tetapi rasa kecewa justru melebar. Dan rakyat perlahan berubah menjadi NPC muncul lima tahun sekali tanpa dapat menentukan apa pun.

Silakan memilih selagi pilihan itu masih ada. @dimas

Tags: DemokrasidprdPilkadaPolitik IndonesiaSuara Rakyat

Kamu Melewatkan Ini

Ketika Pembangunan Terlihat Megah, Tapi Rakyat Tetap Gelisah

Ketika Pembangunan Terlihat Megah, Tapi Rakyat Tetap Gelisah

by dimas
Mei 11, 2026

Pembangunan tampak megah lewat angka pertumbuhan, gedung tinggi, dan proyek infrastruktur besar yang terus dipamerkan. Namun bagi banyak orang, kemajuan...

IKN Dulu Dibilang Kota Hantu, PBB Mulai Lihat: Kita Pindah Beneran Kapan?

IKN Dulu Dibilang Kota Hantu, PBB Mulai Lihat: Kita Pindah Beneran Kapan?

by teguh
Mei 11, 2026

Dulu IKN dibilang kota hantu dan banyak yang menyebut Ibu Kota Nusantara (IKN) seperti proyek ambisi yang terlalu cepat diumumkan,...

IKN Dipuji Dunia, Tapi Kenapa Sebagian Warga Masih Ragu?

IKN Dipuji Dunia, Tapi Kenapa Sebagian Warga Masih Ragu?

by teguh
Mei 11, 2026

Kalau badan PBB mulai melirik Ibu Kota Nusantara (IKN) bahkan IKN dipuji dunia, apa itu bikin kamu lebih yakin proyek...

Next Post
Kraton Surakarta Resmikan Struktur Bebadan Baru

Kraton Surakarta Lengkapi Struktur Bebadan

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id