Purwanto menjadi generasi keempat pembuat canting di Solo. Ia menjaga warisan keluarga, mencari penerus, dan mengembangkan canting sebagai kerajinan khas Joyotakan.
Tabooo.id – Purwanto, generasi keempat pembuat canting di Kota Solo, terus menjaga keterampilan yang diwariskan keluarganya dari Mbah Canggah. Di tengah perubahan zaman dan tantangan regenerasi, ia tetap membuat canting sekaligus membuka diri untuk mengajari siapa pun yang ingin meneruskan warisan tersebut.
Satu canting memang tampak kecil bagi orang yang melihatnya sekilas. Bentuknya sederhana dan fungsinya terlihat jelas sebagai alat untuk membantu pembatik menorehkan malam pada kain. Namun bagi Purwanto, canting bukan sekadar alat. Benda kecil itu menyimpan perjalanan panjang keluarganya yang telah menjaga keterampilan tersebut selama empat generasi.
“Kalau canting itu turun-temurun dari Mbah Canggah, terus menurun sampai generasi saya,” kata Purwanto.
Perjalanan keluarga pembuat canting itu juga mengikuti perubahan ruang Kota Solo. Mbah Canggah dahulu tinggal di Kampung Setabelan, sebelah timur Pasar Legi. Seiring perkembangan zaman, keluarga tersebut berpindah ke Kampung Kauman, sebelah barat Alun-Alun Kidul. Setelah 1960-an, mereka bergeser ke Kampung Menangan, sebelah selatan Gading. Perjalanan itu kemudian berlanjut ke Danukusuman hingga Joyotakan.
Kampung boleh berganti, tetapi keterampilan membuat canting tetap mereka bawa.
Seminggu untuk Satu Canting
Di tangan Purwanto, sebuah canting tidak selesai dalam sehari. Ia membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk menghasilkan satu canting yang siap digunakan. Prosesnya melewati sembilan tahapan dan membutuhkan ketelitian pada setiap bagian.
Purwanto kemudian menjual hasil karyanya dengan harga mulai Rp5.000 hingga Rp30.000. Harga tersebut mengikuti jenis dan hasil pengerjaan canting.
Menariknya, Purwanto membuat sendiri hampir seluruh peralatan yang ia gunakan. Ia hanya membeli bahan tertentu, termasuk timah.
“Alat tidak ada yang beli, yang beli hanya timah dan semuanya alat buat sendiri,” jelasnya.
Dalam proses pembuatan, Purwanto juga menggunakan bahan yang terdengar tidak biasa. Salah satunya bahan yang ia sebut menggunakan kotoran ular.
“Yang paling kita pegang adalah bahan yang menggunakan kotoran ular,” ujarnya.
Bagi orang lain, bahan tersebut mungkin terdengar asing. Namun bagi Purwanto, bahan dan teknik itu menjadi bagian dari pengetahuan yang ia pelajari dari generasi sebelumnya.
Orang mungkin hanya melihat bentuk akhir sebuah canting. Mereka belum tentu melihat pengetahuan, ketelitian, dan waktu yang berada di balik benda tersebut.
Purwanto tidak sekadar membuat alat. Ia merawat sebuah keterampilan.
Ketika Regenerasi Menjadi Persoalan
Di balik ketekunannya, Purwanto menyimpan satu kegelisahan: siapa yang akan melanjutkan keterampilan tersebut?
Perubahan zaman membawa banyak pilihan pekerjaan bagi generasi muda. Sementara itu, membuat canting membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan waktu belajar yang panjang.
Orang yang ingin menguasainya harus belajar dari awal. Mereka perlu mencoba, menemukan kesalahan, memperbaiki teknik, lalu mengulanginya sampai mampu menghasilkan canting yang baik.
Purwanto memahami tantangan tersebut. Karena itu, ia tidak ingin menunggu sampai keterampilan membuat canting berhenti di tangannya.
Ia membuka pintu bagi siapa pun yang ingin belajar.
“Kalau ada yang mau belajar monggo, saya terbuka dan siap mengajari. Pedoman saya menguri-uri budaya warisan ini agar tidak punah,” terangnya.
Bagi Purwanto, penerus tidak harus berasal dari garis keluarganya. Siapa pun bisa belajar selama memiliki kemauan untuk menjaga keterampilan tersebut.
Ia tidak sekadar mencari orang yang bisa membuat canting. Ia ingin menemukan orang yang mau meneruskan pengetahuan.
Canting Harus Mengikuti Zaman
Purwanto juga tidak ingin menjaga tradisi dengan cara yang kaku. Ia sadar bahwa perubahan zaman membawa tantangan sekaligus peluang.
Karena itu, ia mulai melebarkan usaha ke dunia handycraft atau kerajinan tangan. Ia mengembangkan berbagai produk seperti gantungan kunci, lampu tidur, dan hiasan dengan tetap membawa canting sebagai ikon utama.
“Saya juga melebarkan sayap ke handycraft atau kerajinan tangan yang bisa menjadi buah tangan Kelurahan Joyotakan dan khususnya Kota Surakarta,” katanya.
Menurut Purwanto, langkah tersebut menjadi salah satu cara untuk menjawab tantangan zaman dan perubahan selera pasar.
“Untuk menjawab tantangan zaman, kami juga melebarkan sayap ke dunia handycraft craft, seperti gantungan kunci, lampu tidur, dan hiasan yang tidak meninggalkan canting sebagai ikon utama,” jelasnya.
Melalui cara itu, Purwanto mencoba membawa canting ke ruang yang lebih luas. Masyarakat tidak hanya mengenal canting sebagai alat membatik, tetapi juga sebagai bagian dari produk kerajinan dan buah tangan.
Canting tetap menjadi identitas.
Bentuk produknya boleh berubah, tetapi cerita di baliknya tetap sama.
Mengajak Lansia dan Pokdarwis Ikut Bergerak
Gagasan Purwanto tidak berhenti pada pengembangan produk. Ia juga ingin membangun ekosistem kerajinan yang melibatkan masyarakat Joyotakan.
Ia melihat kelompok sadar wisata atau Pokdarwis serta para lansia memiliki peluang untuk mengambil peran. Mereka bisa membantu mengemas produk dan mengenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas.
“Saya mempunyai gagasan untuk kerajinan canting agar semua bisa berdaya, mulai dari Pokdarwis dan lansia untuk bisa mempacking atau mempromosikan kerajinan, bahkan canting agar bernilai tinggi,” ujarnya.
Gagasan itu membuat canting tidak hanya menjadi produk seorang pengrajin. Purwanto ingin kerajinan tersebut memberi ruang ekonomi bagi lebih banyak warga.
Pengrajin membuat produk. Lansia bisa membantu pengemasan. Pokdarwis dapat membantu promosi. Masyarakat Joyotakan pun memiliki peluang untuk ikut menikmati manfaat ekonominya.
Pada titik itu, canting tidak hanya berbicara tentang budaya.
Ia juga berbicara tentang keberdayaan masyarakat.
Dari Warisan Keluarga Menjadi Identitas Kampung
Empat generasi telah menjaga keterampilan tersebut. Kini Purwanto mencoba membawa warisan itu ke tahap berikutnya.
Ia tidak hanya mempertahankan teknik lama. Ia juga mencari bentuk baru agar canting tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
Gantungan kunci, lampu tidur, dan hiasan menjadi salah satu jalannya.
Ia juga membuka ruang belajar bagi orang yang ingin mengenal proses pembuatan canting.
Di sisi lain, ia membayangkan Pokdarwis dan lansia ikut mengambil peran dalam pengemasan serta promosi.
Semua langkah itu berangkat dari satu tujuan: membuat canting tetap hidup.
Bagi Purwanto, menjaga budaya tidak selalu berarti mempertahankan semuanya persis seperti masa lalu. Tradisi juga bisa bertahan ketika pengrajinnya berani mencari bentuk baru tanpa kehilangan identitasnya.
Empat Generasi dan Satu Pertanyaan
Purwanto kini berada di antara dua zaman. Di satu sisi, ia memegang keterampilan yang keluarganya jaga selama empat generasi. Di sisi lain, ia menghadapi perubahan pasar dan persoalan regenerasi.
Namun ia memilih untuk tidak berhenti pada nostalgia.
Ia tetap membuat canting. Ia membuka ruang belajar. Ia mengembangkan handycraft. Ia juga mengajak masyarakat ikut mengambil bagian.
Semua itu ia lakukan agar canting tidak berhenti pada generasinya.
Sebab warisan budaya tidak cukup hanya tersimpan dalam cerita keluarga. Orang harus mempelajarinya, orang harus menggunakannya dan juga harus memberi ruang kepada generasi berikutnya untuk mengembangkan keterampilan tersebut.
Purwanto memang generasi keempat.
Namun pikirannya sudah melangkah menuju generasi kelima.
Canting itu kecil. Tetapi pengetahuan di baliknya terlalu besar jika ikut hilang bersama satu generasi.








