Tabooo.id: Nasional – Sejak pagi, Istora Senayan terasa sakral dan khidmat. Seiring waktu berjalan, ribuan jamaah Nahdlatul Ulama (NU) mulai memenuhi arena. Mereka bergerak tertib menuju tempat duduk masing-masing. Pada saat yang sama, barisan depan diisi para menteri Kabinet Merah Putih dan tokoh bangsa dengan busana seragam atasan putih, celana hitam, dan peci hitam.
Hari ini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100. Momentum ini menandai satu abad perjalanan NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia.
Tokoh Nasional dan Elite Politik Hadir
Dalam acara tersebut, sejumlah pejabat negara tampak hadir. Di antaranya, Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Menko PMK Pratikno. Selain itu, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko serta Menteri ATR/BPN Nusron Wahid turut mengikuti rangkaian acara.
Tak hanya pejabat aktif, tokoh nasional lain juga memeriahkan peringatan ini. Presiden ke-4 RI Sinta Nuriyah Wahid hadir bersama Yenny Wahid. Sementara itu, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua DPD RI Sultan Najamuddin, Ketua KPU Mochammad Afifuddin, dan Ketua Bawaslu Rahmat Bagja tampak duduk berjejer di area undangan.
Di sisi lain, panggung politik juga menunjukkan wajahnya. Ketua Umum PPP Mardiono, Presiden PKS Al Muzzamil Yusuf, serta Sekjen Partai Golkar Sarmuji ikut hadir. Dengan demikian, kehadiran lintas partai ini menegaskan posisi strategis NU dalam lanskap politik nasional.
Tema Abad Kedua NU
Pada Harlah ke-100 ini, NU mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia”. Menurut Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, tema tersebut mencerminkan arah besar NU di abad kedua. Karena itu, NU ingin memastikan semangat proklamasi tetap hidup dalam praktik berbangsa.
Lebih jauh, tema ini melanjutkan gagasan Harlah versi kalender hijriah yang digelar pada 8 Februari 2023. Saat itu, NU mengangkat tema “Mendigdayakan Nahdlatul Ulama, Menjemput Abad Kedua Menuju Kebangkitan Baru”.
“Kita ingin NU tetap menjadi penopang moral bangsa. Pada saat yang sama, NU harus menjadi pengawal peradaban umat manusia,” ujar Gus Yahya di hadapan ribuan jamaah.
Lebih dari Sekadar Seremoni
Peringatan Harlah ini tidak berhenti pada simbolisme. Sebaliknya, kehadiran pejabat negara dan elite politik menunjukkan kuatnya pengaruh NU. Dalam praktiknya, NU berperan aktif dalam isu sosial, pendidikan, hingga ekonomi nasional.
Bahkan, masyarakat yang menyaksikan acara ini secara daring ikut merasakan pesan tersebut. NU tidak hanya menjaga tradisi keagamaan. Namun demikian, NU juga menggerakkan nilai kebangsaan di ruang publik.
Pesan Sosial untuk Publik
Bagi masyarakat luas, pesan Harlah ke-100 NU terasa relevan. Terutama, nilai kemerdekaan, keadilan, dan peradaban kembali menjadi sorotan. Karena itu, NU menegaskan bahwa pembangunan tidak cukup hanya dengan infrastruktur.
Sebaliknya, pembangunan harus disertai moral, solidaritas, dan pemerataan kesejahteraan. Tanpa ketiganya, kemajuan akan kehilangan makna sosial.
Dinamika di Balik Panggung
Sementara acara berlangsung megah di panggung utama, panitia NU bekerja intensif di balik layar. Sejak awal, mereka mengatur keamanan, logistik, dan tata tempat duduk secara detail. Akibatnya, acara berjalan lancar tanpa hambatan berarti.
Situasi ini menunjukkan kapasitas NU sebagai organisasi besar. Tak hanya kuat secara simbolik, NU juga solid dalam pengelolaan teknis dan spiritual.
NU dan Diplomasi Moral
Di tingkat yang lebih luas, acara ini menjadi ruang diplomasi moral. Kehadiran pejabat negara bukan sekadar formalitas. Sebaliknya, kehadiran tersebut menandakan pengaruh NU terhadap arah kebijakan nasional.
Pada akhirnya, dampak kebijakan itu paling dirasakan warga sipil. Masyarakat merasakan langsung hasil kebijakan sosial, ekonomi, dan pendidikan yang turut dipengaruhi NU.
Penutup: Mengawal Peradaban
Pada peringatan satu abad ini, NU menegaskan pesan penting. Di tengah politik yang kerap penuh gesekan, NU tetap berdiri sebagai penjaga moral bangsa. Dengan tegas, NU mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan.
Lebih dari itu, kemerdekaan berarti menegakkan nilai kebaikan dan peradaban. Tantangan politik dan ekonomi boleh datang silih berganti. Namun, tanggung jawab mengawal peradaban tetap menjadi tugas bersama.
Dalam konteks Indonesia modern, NU menatap masa depan dengan sikap jelas. Mengawal peradaban bukan slogan. Melainkan, ia harus hadir sebagai aksi nyata yang dirasakan rakyat. @dimas







