Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Puncak Harlah NU ke-100 di Istora Senayan Hadirkan Tokoh Nasional

by dimas
Januari 31, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Sejak pagi, Istora Senayan terasa sakral dan khidmat. Seiring waktu berjalan, ribuan jamaah Nahdlatul Ulama (NU) mulai memenuhi arena. Mereka bergerak tertib menuju tempat duduk masing-masing. Pada saat yang sama, barisan depan diisi para menteri Kabinet Merah Putih dan tokoh bangsa dengan busana seragam atasan putih, celana hitam, dan peci hitam.

Hari ini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100. Momentum ini menandai satu abad perjalanan NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Tokoh Nasional dan Elite Politik Hadir

Dalam acara tersebut, sejumlah pejabat negara tampak hadir. Di antaranya, Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Menko PMK Pratikno. Selain itu, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko serta Menteri ATR/BPN Nusron Wahid turut mengikuti rangkaian acara.

Tak hanya pejabat aktif, tokoh nasional lain juga memeriahkan peringatan ini. Presiden ke-4 RI Sinta Nuriyah Wahid hadir bersama Yenny Wahid. Sementara itu, Ketua MPR RI Ahmad Muzani, Ketua DPD RI Sultan Najamuddin, Ketua KPU Mochammad Afifuddin, dan Ketua Bawaslu Rahmat Bagja tampak duduk berjejer di area undangan.

Di sisi lain, panggung politik juga menunjukkan wajahnya. Ketua Umum PPP Mardiono, Presiden PKS Al Muzzamil Yusuf, serta Sekjen Partai Golkar Sarmuji ikut hadir. Dengan demikian, kehadiran lintas partai ini menegaskan posisi strategis NU dalam lanskap politik nasional.

Ini Belum Selesai

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Tema Abad Kedua NU

Pada Harlah ke-100 ini, NU mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia”. Menurut Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, tema tersebut mencerminkan arah besar NU di abad kedua. Karena itu, NU ingin memastikan semangat proklamasi tetap hidup dalam praktik berbangsa.

Lebih jauh, tema ini melanjutkan gagasan Harlah versi kalender hijriah yang digelar pada 8 Februari 2023. Saat itu, NU mengangkat tema “Mendigdayakan Nahdlatul Ulama, Menjemput Abad Kedua Menuju Kebangkitan Baru”.

“Kita ingin NU tetap menjadi penopang moral bangsa. Pada saat yang sama, NU harus menjadi pengawal peradaban umat manusia,” ujar Gus Yahya di hadapan ribuan jamaah.

Lebih dari Sekadar Seremoni

Peringatan Harlah ini tidak berhenti pada simbolisme. Sebaliknya, kehadiran pejabat negara dan elite politik menunjukkan kuatnya pengaruh NU. Dalam praktiknya, NU berperan aktif dalam isu sosial, pendidikan, hingga ekonomi nasional.

Bahkan, masyarakat yang menyaksikan acara ini secara daring ikut merasakan pesan tersebut. NU tidak hanya menjaga tradisi keagamaan. Namun demikian, NU juga menggerakkan nilai kebangsaan di ruang publik.

Pesan Sosial untuk Publik

Bagi masyarakat luas, pesan Harlah ke-100 NU terasa relevan. Terutama, nilai kemerdekaan, keadilan, dan peradaban kembali menjadi sorotan. Karena itu, NU menegaskan bahwa pembangunan tidak cukup hanya dengan infrastruktur.

Sebaliknya, pembangunan harus disertai moral, solidaritas, dan pemerataan kesejahteraan. Tanpa ketiganya, kemajuan akan kehilangan makna sosial.

Dinamika di Balik Panggung

Sementara acara berlangsung megah di panggung utama, panitia NU bekerja intensif di balik layar. Sejak awal, mereka mengatur keamanan, logistik, dan tata tempat duduk secara detail. Akibatnya, acara berjalan lancar tanpa hambatan berarti.

Situasi ini menunjukkan kapasitas NU sebagai organisasi besar. Tak hanya kuat secara simbolik, NU juga solid dalam pengelolaan teknis dan spiritual.

NU dan Diplomasi Moral

Di tingkat yang lebih luas, acara ini menjadi ruang diplomasi moral. Kehadiran pejabat negara bukan sekadar formalitas. Sebaliknya, kehadiran tersebut menandakan pengaruh NU terhadap arah kebijakan nasional.

Pada akhirnya, dampak kebijakan itu paling dirasakan warga sipil. Masyarakat merasakan langsung hasil kebijakan sosial, ekonomi, dan pendidikan yang turut dipengaruhi NU.

Penutup: Mengawal Peradaban

Pada peringatan satu abad ini, NU menegaskan pesan penting. Di tengah politik yang kerap penuh gesekan, NU tetap berdiri sebagai penjaga moral bangsa. Dengan tegas, NU mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan.

Lebih dari itu, kemerdekaan berarti menegakkan nilai kebaikan dan peradaban. Tantangan politik dan ekonomi boleh datang silih berganti. Namun, tanggung jawab mengawal peradaban tetap menjadi tugas bersama.

Dalam konteks Indonesia modern, NU menatap masa depan dengan sikap jelas. Mengawal peradaban bukan slogan. Melainkan, ia harus hadir sebagai aksi nyata yang dirasakan rakyat. @dimas

Tags: Ekonomi IndonesiaNasionalNUpbnuPendidikanPeradabanPolitik IndonesiaSenayanSosial

Kamu Melewatkan Ini

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

by dimas
Juni 9, 2026

Chatib Basri bertemu Prabowo selama dua jam di Istana. Apakah ini sekadar konsultasi ekonomi atau sinyal perubahan di Dewan Ekonomi...

Sosialisme: Kata Terlarang yang Terus Menghantui Kekuasaan

Sosialisme: Kata Terlarang yang Terus Menghantui Kekuasaan

by dimas
Juni 9, 2026

Sosialisme pernah menjadi bagian penting dari sejarah pergerakan Indonesia. Namun kekuasaan mengubahnya menjadi kata terlarang yang terus dibayangi stigma, ketakutan,...

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Next Post
Wisata Murah di Solo yang Diam-Diam Bangun Empati Anak

Wisata Murah di Solo yang Diam-Diam Bangun Empati Anak

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id