Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pukulan di Kamar Hotel: Ketika Ego Remaja Lebih Keras dari Empati

by jeje
Maret 27, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Lampu kamar itu redup.
Namun, suasananya tidak tenang.

Seorang remaja terjatuh di lantai. Nafasnya berat. Tubuhnya tidak lagi melawan.
Di depannya, tiga remaja lain terus memukul. Tanpa ragu. Tanpa jeda.

Ini bukan adegan film.
Ini nyata. Dan lebih dekat dari yang kita kira.

Bukan Masalah Besar, Tapi Meledak Jadi Kekerasan

Kasus ini terlihat sederhana.
Empat pelaku. Semua masih di bawah umur. Satu masih buron.

Mereka marah.
Namun bukan karena pengkhianatan besar.

Ini Belum Selesai

Reformasi 1998: Luka yang Masih Menunggu Keadilan

Kebangkitan Aktivis Perempuan: Apa Artinya Bagi Demokrasi Indonesia?

Sebaliknya, mereka tersinggung karena temannya dibawa korban ke hotel.

Selesai.
Masalah kecil. Reaksi besar.

Dan justru di titik ini, kita harus berhenti menyederhanakan.

Karena ketika hal sepele berubah jadi kekerasan brutal, ada sistem yang gagal bekerja.

Kita Mengajarkan Banyak Hal, Tapi Bukan Cara Mengelola Emosi

Hari ini, remaja tahu banyak hal.
Mereka paham teknologi, cepat belajar tren dan aktif di dunia digital.

Namun di saat yang sama, mereka sering tidak tahu cara menghadapi emosi sendiri.

Ketika marah datang, mereka bingung menyalurkan.
Ketika kecewa muncul, mereka tidak punya ruang untuk memproses.

Akibatnya, emosi tidak selesai. Emosi menumpuk.
Lalu, emosi itu meledak.

Dan kekerasan menjadi jalan pintas.

Lalu, Maskulinitas Palsu Ikut Memperkeruh

Di banyak lingkungan, ada standar diam-diam yang terus diwariskan.

Jika diam, dianggap lemah, lalu mengalah, dianggap kalah. dan tidak membalas, dianggap tidak punya harga diri.

Masalahnya, standar ini jarang dipertanyakan.
Sebaliknya, semua orang ikut menjalankan.

Akibatnya, banyak remaja merasa harus “bertindak keras” untuk terlihat kuat.

Padahal, itu bukan kekuatan.
Itu hanya ketakutan yang disamarkan.

Sementara Itu, Kita Sibuk Jadi Penonton

Video itu viral.
Timeline penuh komentar.

Sebagian marah. Sebagian mengutuk.
Namun setelah itu, semua bergerak cepat ke isu lain.

Padahal pola ini terus berulang.

Pertama, kekerasan terjadi.
Lalu, seseorang merekam.
Kemudian, publik menonton.
Akhirnya, semua lupa.

Siklus ini berjalan tanpa jeda.

Dan tanpa sadar, kita ikut memeliharanya.

Hukum Bergerak, Tapi Akar Masalah Tetap Diam

Polisi sudah menangkap tiga pelaku.
Satu pelaku masih dalam pengejaran.

Hukum akan berjalan. Proses akan lanjut.
Namun pertanyaannya tidak berhenti di sana.

Apakah hukuman cukup untuk memperbaiki pola?

Dalam cara berpikir Tabooology, masalah tidak berhenti di permukaan. Kita harus membongkar alasan di baliknya. 

Karena kalau kita hanya fokus pada pelaku, kita akan melewatkan sistem yang membentuk mereka.

Jadi, Kita Sebenarnya Gagal di Mana?

Mungkin di rumah, saat emosi dianggap berlebihan.
Atau di sekolah, ketika konflik langsung dihukum tanpa dipahami.
Bahkan di lingkungan, saat kekerasan dianggap hal biasa.

Selain itu, kita juga sering menunda perhatian.
Kita menunggu sampai sesuatu menjadi viral, baru mulai peduli.

Padahal prosesnya sudah lama berjalan.

Penutup

Seorang remaja tergeletak di kamar hotel.
Tiga pelaku sudah diamankan. Satu masih dicari.

Kasus ini akan selesai di berita.
Namun masalahnya belum tentu selesai di kehidupan.

Karena selama kekerasan masih jadi cara tercepat untuk menyelesaikan emosi,
maka yang perlu kita pertanyakan bukan hanya siapa pelakunya

melainkan bagaimana kita membentuk mereka sejak awal. @jeje

Tags: kalimantan

Kamu Melewatkan Ini

Hutan Kalimantan Rusak: Paru-Paru Dunia Kini di Ujung Napas?

Hutan Kalimantan Rusak: Paru-Paru Dunia Kini di Ujung Napas?

by dimas
April 18, 2026

Tabooo.id: Talk - Hutan Kalimantan pernah jadi kebanggaan dunia. Kini, kondisinya berubah drastis. Kita tidak lagi bicara potensi, tetapi soal...

Konsep Otomatis

Buron Tiga Tahun, Aktor Tambang Ilegal Bukit Soeharto Disidang

by dimas
Januari 2, 2026

Tabooo.id: Regional - Penegakan hukum atas praktik penambangan batubara ilegal di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Soeharto memasuki fase...

Prabowo Resmikan 4 Infrastruktur Strategis

Prabowo Resmikan 4 Infrastruktur Strategis

by sigit
November 20, 2025

Tabooo.id: Nasional - Empat infrastruktur strategis yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto bersamaan dengan Jembatan Kabanaran di Bantul, Rabu (19/11/2025) bukan...

Next Post
Terjawab! Misteri Senyum Mona Lisa: Ini Makna di Baliknya

Terjawab! Misteri Senyum Mona Lisa: Ini Makna di Baliknya

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id