Jumat, September 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Hutan Kalimantan Rusak: Paru-Paru Dunia Kini di Ujung Napas?

by dimas
April 18, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Talk – Hutan Kalimantan pernah jadi kebanggaan dunia. Kini, kondisinya berubah drastis. Kita tidak lagi bicara potensi, tetapi soal bertahan atau hilang.

Dalam lima tahun terakhir, Kalimantan kehilangan sekitar 1,95 juta hektar tutupan hutan. Angka ini bukan sekadar data. Bayangkan tiga kali luas Pulau Bali lenyap dalam waktu singkat.

Lebih jauh lagi, kerusakan ini tidak terjadi diam-diam. Kita melihatnya, kita membaca datanya, tetapi sering kali kita memilih untuk mengabaikannya.

Deforestasi Meningkat: Pola yang Terus Berulang

Data menunjukkan tren yang jelas. Tahun 2023 mencatat kehilangan hutan terbesar, mencapai lebih dari 563.000 hektar. Sebelumnya, angka sempat turun pada 2021, tetapi kemudian melonjak kembali.

Artinya, masalah ini bukan kebetulan. Pola yang sama terus berulang.

Ini Belum Selesai

Purbaya Dicopot Usai Rombak Pajak dan Bea Cukai, Kebetulan atau Konflik?

Karhutla Meluas, Tanggung Jawab Korporasi Jadi Sorotan

Direktur Save Our Borneo, Muhammad Habibi, menegaskan bahwa tekanan terhadap hutan datang dari berbagai arah.

“Aktivitas manusia seperti konversi lahan dan industri ekstraktif terus mendorong deforestasi,” jelasnya.

Selain itu, kebakaran hutan dan tata kelola yang lemah ikut memperparah situasi. Akibatnya, hutan kehilangan daya tahan alaminya.

Antara Ekonomi dan Ekologi: Konflik yang Tidak Pernah Selesai

Di satu sisi, pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun di sisi lain, ekspansi lahan terus menggerus kawasan hutan.

Data Satgas Penertiban Kawasan Hutan menunjukkan lebih dari 4 juta hektar kebun sawit berada di kawasan hutan. Sebagian perusahaan sudah membayar denda, tetapi sebagian lain masih berproses.

Di titik ini, pertanyaan penting muncul siapa yang sebenarnya mengendalikan arah pemanfaatan lahan?

Ironisnya, kita sering melihat perlindungan hutan hanya kuat di regulasi, tetapi lemah dalam pelaksanaan.

Hutan Kalimantan: Lebih dari Sekadar Lanskap Hijau

Hutan Kalimantan menyimpan sistem kehidupan yang kompleks. Penelitian CIFOR membuktikan hal itu melalui pemetaan vegetasi berskala besar.

Penelitian tersebut menemukan lebih dari 60 jenis vegetasi dan ratusan spesies. Bahkan, satu wilayah di Kalimantan Barat mencatat 214 spesies burung.

Ilmuwan ekologi Yves Laumonier menjelaskan pentingnya keberagaman ini.

“Semakin kaya vegetasi, semakin besar manfaat ekosistem bagi manusia dan satwa,” ujarnya.

Dengan kata lain, hutan menyediakan air bersih, pangan alami, hingga keseimbangan iklim. Ketika hutan rusak, seluruh sistem ikut terganggu.

Upaya Pemerintah: Bergerak, Tapi Masih Berpacu dengan Waktu

Pemerintah mulai mengambil langkah konkret. Salah satunya melalui percepatan penetapan hutan adat seluas 1,4 juta hektar hingga 2029.

Selain itu, pemerintah juga menertibkan kawasan hutan yang dikuasai secara ilegal.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengakui adanya tantangan besar.

“Kapasitas pengamanan belum sebanding dengan luas kawasan hutan,” ujarnya.

Namun demikian, langkah ini tetap penting. Setidaknya, negara mulai mengakui bahwa model lama tidak lagi cukup.

Masyarakat Adat: Penjaga Hutan yang Konsisten

Sementara itu, masyarakat adat menunjukkan cara berbeda dalam menjaga hutan. Mereka tidak hanya memanfaatkan, tetapi juga merawat.

Di Sintang, Iskandaria Roniati menggunakan tanaman hutan sebagai bahan pewarna tenun.

“Hutan bukan sekadar sumber hidup, tapi bagian dari tradisi kami,” katanya.

Selain itu, masyarakat Dayak di Sekadau menerapkan aturan ketat dalam menebang pohon.

Ketua adat Niko Thomas Kinga menegaskan:

“Kami hanya mengambil sesuai kebutuhan, tidak berlebihan.” tegasnya.

Bahkan, mereka membangun sistem ekonomi mandiri melalui Credit Union Keling Kumang. Langkah ini membuktikan bahwa kesejahteraan tidak harus datang dari eksploitasi.

Ini Bukan Sekadar Isu Lingkungan

Masalah hutan Kalimantan bukan hanya soal pohon. Ini soal arah masa depan.

Ketika hutan hilang, kita tidak hanya kehilangan keanekaragaman hayati. Kita juga kehilangan sumber air, stabilitas iklim, dan ketahanan pangan.

Lebih dari itu, dampaknya akan terasa luas. Bukan hanya di Kalimantan, tetapi juga di seluruh Indonesia.

Jadi, Kita Mau Diam atau Bergerak?

Saat ini, Kalimantan sedang memberi peringatan. Namun, respons kita masih setengah hati.

Kita bisa terus membicarakan pembangunan. Tetapi sekarang saatnya kita bertanya pembangunan seperti apa yang kita inginkan?

Karena pada akhirnya, setiap pilihan punya konsekuensi.

Dan jika hutan benar-benar hilang, kita tidak hanya kehilangan alam. Kita kehilangan keseimbangan hidup itu sendiri. @dimas

Tags: ekologikalimantanKrisis IklimKrisis LingkunganLingkungan Hidup

Kamu Melewatkan Ini

Karhutla Kalsel: 11 Perusahaan Disorot, Sanksi Mengintai

Karhutla Kalsel: 11 Perusahaan Disorot, Sanksi Mengintai

by dimas
Agustus 24, 2026

Karhutla Kalsel menyeret 11 perusahaan dalam sorotan. Kementerian LH mengusut dugaan pembakaran lahan dengan ancaman sanksi hingga Rp15 triliun. Tabooo.id...

Target Bebas Gunungan Sampah 2027, Realistis atau Sekadar Janji?

Target Bebas Gunungan Sampah 2027, Realistis atau Sekadar Janji?

by dimas
Agustus 13, 2026

Target bebas gunungan sampah pada akhir 2027 dinilai ambisius. Mampukah pemerintah membenahi sistem pengelolaan sampah atau sekadar menghilangkan tumpukan? Tabooo.id...

El Nino Ekstrem Mengintai, Krisis Pangan dan Air Ancam Indonesia

El Nino Ekstrem Mengintai, Krisis Pangan dan Air Ancam Indonesia

by dimas
Juli 26, 2026

El Nino ekstrem diperkirakan menjadi yang terkuat dalam 150 tahun terakhir. Indonesia menghadapi ancaman krisis pangan, kekeringan, kebakaran hutan, dan...

Next Post
May Day: Perayaan atau Pengingat Bahwa Tidak Ada yang Berubah?

May Day: Perayaan atau Pengingat Bahwa Tidak Ada yang Berubah?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id