Senin, April 6, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo Today
  • Tabooo
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Programmer Mulai Tergeser AI, Tapi Guru Masih Aman, Kok Bisa?

April 6, 2026
in Lifestyle, Teknologi
A A
AI Bisa Ngoding, Tapi Gak Bisa Ngajar: Kenapa Guru Masih Kebal dari Mesin?

Guru yang sering diremehkan justru masih sulit disentuh AI. (Ilustrasi: Tabooo)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Teknologi – Di tengah hype kecerdasan buatan yang makin brutal, riset terbaru dari Anthropic justru menampar ekspektasi banyak orang. Bukan buruh kasar yang paling terancam. Bukan juga pekerjaan lapangan. Justru profesi “elit” seperti programmer mulai goyah.

Sementara itu? Guru yang sering diremehkan justru masih sulit disentuh AI.

Programmer Mulai Tergeser, Guru Masih Bertahan

Laporan Anthropic berjudul “Labor Market Impacts of AI” menunjukkan fakta yang agak bikin mikir AI makin jago mengambil alih tugas-tugas digital.

Coding, debugging, update software semua itu sekarang bisa dikerjakan AI dengan cepat dan presisi. Bahkan, chatbot seperti Claude sudah digunakan langsung oleh profesional untuk mengerjakan pekerjaan harian mereka. Sebaliknya, tugas guru di ruang kelas masih belum tergantikan.

AI memang bisa bantu nilai tugas. Bisa bantu bikin materi. Tapi saat bicara soal mengelola kelas, memahami emosi siswa, atau membaca situasi sosial AI masih “buta rasa”. Dan di situlah manusia menang.

10 Profesi yang Mulai “Dijajah” AI

Ironisnya, pekerjaan yang paling dekat dengan layar justru paling rentan. Berikut daftar profesi dengan paparan AI tertinggi:

  • Programmer (74,5%)
  • Customer service (70,1%)
  • Data entry (67,1%)
  • Spesialis rekam medis (66,7%)
  • Analis riset pasar & pemasaran (64,8%)
  • Sales grosir & manufaktur (62,8%)
  • Analis keuangan & investasi (57,2%)
  • QA software tester (51,9%)
  • Analis keamanan informasi (48,6%)
  • Spesialis support komputer (46,8%)

Polanya jelas Semakin repetitif dan digital pekerjaannya, semakin mudah AI mengambil alih.

Yang “Kebal” Justru yang Humanis

Di sisi lain, ada profesi yang justru relatif aman. Bukan karena teknologinya belum sampai tapi karena pekerjaannya terlalu manusiawi. Beberapa di antaranya:

  • Guru dan tenaga pendidik
  • Perawat dan praktisi kesehatan
  • Pekerja lapangan (petani, mekanik, koki)
  • Profesi berbasis interaksi langsung

Kenapa? Karena pekerjaan ini butuh empati, improvisasi, dan kehadiran nyata hal-hal yang belum bisa direplikasi mesin. AI bisa pintar. Tapi belum bisa peduli.

Gaji Tinggi Belum Tentu Aman dari AI

Ini bagian paling “menampar”. Data menunjukkan pekerja yang paling terpapar AI justru berasal dari kalangan berpendidikan tinggi:

  • Lulusan sarjana: 37,1%
  • Pascasarjana: 17,4%

Rata-rata gaji mereka juga lebih tinggi (sekitar 32,69 USD/jam) dibanding pekerjaan yang tidak terpapar AI (22,23 USD/jam).

Artinya? Semakin “pintar” dan digital pekerjaanmu, justru makin dekat dengan risiko otomatisasi.

Tabooo Insight: Kita Terlalu Lama Mengukur Nilai dari Skill, Bukan Rasa

Selama ini, dunia kerja mengagungkan skill teknis. Coding. Data. Analisis.

RelatedPosts

Zero Post: Saat Gen Z Capek Jadi Konten, Tapi Masih Jadi Penonton

6G Di Depan Mata: RI Tak Kejar Sinyal Cepat, Tapi Otak di Baliknya

Tapi AI datang dan berkata “Semua itu bisa saya pelajari.” Yang tidak bisa? Empati. Intuisi. Relasi manusia.

Guru bukan sekadar penyampai materi. Mereka membaca suasana, memahami karakter, dan membentuk manusia bukan sekadar output.

Dan mungkin, di era AI, itu justru jadi skill paling mahal.

Jadi, Harus Takut atau Adaptasi?

Riset ini bukan alarm kiamat. Tapi jelas jadi peringatan.

AI tidak akan menggantikan semua pekerjaan. Tapi akan mengubah cara kita bekerja. Pertanyaannya sekarang bukan “Apakah AI akan menggantikan kita?”

Tapi Apa yang kita punya yang AI tidak? Karena di dunia yang makin otomatis, jadi manusia sepenuhnya mungkin justru jadi keunggulan terakhir. @teguh

Tags: AIAmanAnthropicChatbotClaudeCodingDebuggingGajiguruHumanisManusiaManusiawiProgrammerRepetitifrisetSkillSoftwareTeknisTinggiUpdate

Recommended

Dukun Cabul di Magetan: Wajah Gelap ‘Pengobatan’ di Magetan

Dukun Cabul di Magetan: Wajah Gelap ‘Pengobatan’ di Magetan

April 4, 2026
Beasiswa Rp 898 Juta ke Inggris Dibuka: Kesempatan atau Ujian Mental?

Beasiswa Rp 898 Juta ke Inggris Dibuka: Kesempatan atau Ujian Mental?

April 4, 2026

Popular News

  • Motor Matic: Pilihan Praktis atau Tanda Kita Makin Malas?

    Motor Matic: Pilihan Praktis atau Tanda Kita Makin Malas?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dolar Perkasa, Rupiah Melemah di Tengah Gejolak Global

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo dan Janji Keadilan: Retorika atau Perubahan Nyata?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • El Nino Datang Lagi: Petani Terancam Gagal Panen?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dr. Moewardi: Dokter Rakyat yang Hilang Tanpa Jejak

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.