Tabooo.id: Global – Pemerintah Prancis memilih mundur dari panggung yang ditawarkan Washington. Paris memastikan akan menolak undangan bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza, inisiatif Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang diklaim bertujuan mengawasi pembangunan kembali Gaza pascaperang.
Sumber dekat Presiden Emmanuel Macron menyebut keputusan itu bukan tanpa alasan. Para pejabat Prancis menilai piagam dewan itu terlalu longgar dan melebihi mandatnya yang seharusnya hanya mencakup Gaza. Artinya, dewan ini berpotensi masuk ke wilayah politik yang lebih luas, termasuk urusan kedaulatan dan tata kelola kawasan.
“Piagamnya melampaui kerangka kerja Gaza,” kata sumber tersebut kepada AFP, Senin (19/1/2026). Bagi Paris, ini bukan soal teknis, melainkan prinsip.
Benturan dengan Prinsip PBB
Prancis menilai dewan versi Trump berisiko menggerus peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Padahal, bagi Paris, PBB tetap menjadi fondasi utama multilateralisme global. Di sana, hukum internasional, kesetaraan kedaulatan negara, dan penyelesaian damai seharusnya berdiri di depan, bukan politik kekuasaan.
Karena itu, Prancis menolak format yang dianggap bisa membuka ruang kesewenang-wenangan. Kemlu Prancis bahkan mengakui masih mengkaji kerangka hukum dewan tersebut bersama mitra internasional. Namun, kekhawatiran utamanya jelas: proyek ini tidak berhenti di Gaza.
Siapa Diuntungkan, Siapa Dirugikan
Bagi Amerika Serikat, dewan ini bisa menjadi alat kendali baru atas proses rekonstruksi Gaza. Pengaruh politik meningkat, peran strategis menguat. Namun, bagi banyak negara Eropa, termasuk Prancis, skema ini berpotensi merugikan tatanan internasional yang berbasis aturan.
Sementara itu, rakyat Gaza tetap berada di posisi paling rentan. Mereka membutuhkan rekonstruksi cepat, aman, dan adil. Ketika negara-negara besar berdebat soal format dan kewenangan, warga sipil menunggu rumah, listrik, dan air bersih.
Tetap Dukung Gencatan Senjata
Meski menolak dewan tersebut, Prancis menegaskan tidak menarik diri dari isu Gaza. Paris tetap berkomitmen mendukung gencatan senjata dan mendorong horizon politik yang kredibel bagi Palestina dan Israel. Artinya, Prancis menolak caranya, bukan tujuannya.
Sindiran Ringan
Gaza butuh damai, bukan panggung adu pengaruh. Jika pihak tertentu menjadikan rekonstruksi sebagai alat politik, mereka mungkin membangun gedung-gedung baru, tetapi keadilan bagi rakyat tetap runtuh. Dan di Timur Tengah, bangunan tanpa keadilan hanya menunggu waktu untuk kembali jadi puing. (red)





