Minggu, September 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Penjajah Selalu Menang Saat Elite Lokal Siap Dijual

by teguh
April 27, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Aceh pernah membuat Belanda frustrasi. Meriam gagal, peluru mentok, kapal perang kelelahan. Namun kemudian penjajah memilih cara yang lebih licik membeli pengaruh, memecah persatuan, dan menyusup lewat sosok yang tampak saleh. Jadi, pola lama itu benar-benar mati atau hanya berganti kostum?.

Tabooo.id: Edge – Pada 1873–1904, Aceh menjadi mimpi buruk bagi Belanda. Perang berjalan panjang, mahal, dan menguras tenaga. Meski pasukan kolonial membawa senapan modern, rakyat Aceh tetap menjawab dengan keberanian, keyakinan, dan daya tahan.

Belanda lalu membaca kenyataan pahit: mereka sulit menang jika rakyat tetap kompak. Karena itu, mereka mengubah arah. Jika benteng tak bisa ditembus dari luar, maka celah harus dicari dari dalam.

Masuklah Christiaan Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang datang bukan sebagai tentara, melainkan sebagai peneliti. Ia memakai nama Abdul Ghaffar, mempelajari Islam, membaca kultur lokal, lalu mengirim peta sosial Aceh kepada pemerintah kolonial.

Ia tidak membawa meriam. Sebaliknya, ia membawa data. Sering kali, data justru lebih mematikan.

Resep Lama Penjajah: Rangkul Elite, Pukul Persatuan

Dalam banyak catatan sejarah, Snouck mendorong Belanda berhenti mengejar simbol kekuasaan. Setelah itu, ia meminta mereka memecah struktur sosial Aceh.

Ini Belum Selesai

Pegawai SPPG Olok-olok Korban MBG, Empati Jadi Sorotan

Sopir Truk Meninggal di Tengah Antrean Solar SPBU Ogan Ilir

Strateginya terkenal keras:

“Berhenti mengejar Sultan. Rangkul para bangsawannya dengan jabatan, dan hancurkan ulama yang menjadi motor perlawanan.” Kalimat itu dingin, tetapi berhasil.

Belanda memberi posisi kepada bangsawan. Sementara itu, mereka memburu ulama. Pada saat yang sama, mereka menanam curiga di tengah rakyat. Akhirnya, persatuan mulai retak sedikit demi sedikit.

Apa yang gagal dilakukan peluru, ambisi justru menyelesaikannya.

Sejarawan Anthony Reid menilai kolonialisme sering menang bukan hanya karena senjata, melainkan karena kecakapan membaca konflik lokal. Artinya jelas penjajah jarang bekerja sendirian.

Jabatan Kerap Mengalahkan Harga Diri

Belanda membayar Snouck mahal. Namun biaya terbesar bukan gaji seorang agen. Justru kerugian terbesar muncul ketika elite rela menjual pengaruhnya.

Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah mengingatkan:

“Bangsa ini jarang kalah oleh musuh luar. Kita lebih sering kalah oleh pengkhianatan dari dalam.”

Ucapan itu terdengar pedas, tetapi sejarah berkali-kali mengiyakan.

Tokoh bangsa Mohammad Hatta juga pernah berkata:

“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Tetapi tidak jujur sulit diperbaiki.”

Masalah bangsa ini sering bukan kurang pintar. Sebaliknya, sebagian orang terlalu pintar mencari untung pribadi.

Kini Penjajah Tak Perlu Datang Naik Kapal

Hari ini kolonialisme jarang membawa meriam. Kini ia masuk lewat kontrak, propaganda, polarisasi, utang, dan elite yang lebih mencintai kursi daripada rakyat.

Dulu Aceh terbelah antara bangsawan dan ulama. Sekarang masyarakat bisa pecah karena agama, suku, partai, kelas sosial, bahkan isi media sosial.

Mantan Presiden Soekarno pernah berkata:

“Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Ucapan itu terasa relevan ketika rakyat sibuk bertengkar, sedangkan sebagian elite duduk nyaman di meja yang sama.

Siapa Pengkhianat Modern?

Mereka tidak selalu hadir sebagai mata-mata asing. Kadang mereka muncul sebagai:

  • penjual kebijakan demi sponsor
  • pengadu rakyat demi suara
  • penukar sumber daya demi komisi
  • penyebar takut demi kuasa
  • pengibar nasionalisme sambil menggadaikan masa depan

Mereka tak selalu memakai seragam. Kadang cukup memakai jas. Ada pula yang datang dengan senyum. Bahkan sebagian tampil lewat slogan.

Pesan Keras dari Aceh

Aceh memberi pelajaran penting: negeri kuat bukan karena pagar besi, tetapi karena integritas manusianya.

Saat rakyat mudah terpecah, negeri melemah. Ketika elite gampang dibeli, bangsa menjadi murah. Jika sejarah dilupakan, maka pengkhianatan akan kembali dijual sebagai strategi baru.

Sebab kehancuran negara sering tidak dimulai dari ledakan besar. Kadang semuanya berawal dari satu kalimat kecil “Apa untungnya buat saya?”

Closing

Belanda gagal menaklukkan Aceh dengan meriam. Namun mereka menang ketika menemukan orang dalam.

Sekarang pertanyaannya sederhana Jika pola itu datang lagi hari ini, siapa yang sedang membukakan pintu?. @teguh

Tags: BangsaBudayawanEliteModernpresidensejarawanTokoh

Kamu Melewatkan Ini

MK Tutup Celah Relawan Laporkan Penghinaan Presiden

MK Tutup Celah Relawan Laporkan Penghinaan Presiden

by dimas
Agustus 12, 2026

MK menegaskan hanya Presiden atau Wakil Presiden yang dapat melaporkan dugaan penghinaan. Relawan dan simpatisan tak bisa mengadu. Tabooo.id -...

Warung Kopi Diganti Coffee Shop: Modern atau Kehilangan Ruang Sosial?

Warung Kopi Diganti Coffee Shop: Modern atau Kehilangan Ruang Sosial?

by eko
Agustus 6, 2026

Coffee shop terus bermunculan di berbagai kota. Di balik tren itu, muncul pertanyaan: apakah kita sedang memodernisasi budaya ngopi atau...

Saat Budaya Tunduk Menjadi Kearifan Lokal

Saat Budaya Tunduk Menjadi Kearifan Lokal

by Tabooo
Juni 11, 2026

Kritik feodalisme bukan berarti membenci budaya. Yang digugat adalah cara elite memakai tradisi untuk membuat orang kecil tetap menunduk.

Next Post
Amir Syarifuddin: Dari Perdana Menteri ke Regu Tembak

Amir Syarifuddin: Dari Perdana Menteri ke Regu Tembak

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id