Aceh pernah membuat Belanda frustrasi. Meriam gagal, peluru mentok, kapal perang kelelahan. Namun kemudian penjajah memilih cara yang lebih licik membeli pengaruh, memecah persatuan, dan menyusup lewat sosok yang tampak saleh. Jadi, pola lama itu benar-benar mati atau hanya berganti kostum?.
Tabooo.id: Edge – Pada 1873–1904, Aceh menjadi mimpi buruk bagi Belanda. Perang berjalan panjang, mahal, dan menguras tenaga. Meski pasukan kolonial membawa senapan modern, rakyat Aceh tetap menjawab dengan keberanian, keyakinan, dan daya tahan.
Belanda lalu membaca kenyataan pahit: mereka sulit menang jika rakyat tetap kompak. Karena itu, mereka mengubah arah. Jika benteng tak bisa ditembus dari luar, maka celah harus dicari dari dalam.
Masuklah Christiaan Snouck Hurgronje, orientalis Belanda yang datang bukan sebagai tentara, melainkan sebagai peneliti. Ia memakai nama Abdul Ghaffar, mempelajari Islam, membaca kultur lokal, lalu mengirim peta sosial Aceh kepada pemerintah kolonial.
Ia tidak membawa meriam. Sebaliknya, ia membawa data. Sering kali, data justru lebih mematikan.
Resep Lama Penjajah: Rangkul Elite, Pukul Persatuan
Dalam banyak catatan sejarah, Snouck mendorong Belanda berhenti mengejar simbol kekuasaan. Setelah itu, ia meminta mereka memecah struktur sosial Aceh.
Strateginya terkenal keras:
“Berhenti mengejar Sultan. Rangkul para bangsawannya dengan jabatan, dan hancurkan ulama yang menjadi motor perlawanan.” Kalimat itu dingin, tetapi berhasil.
Belanda memberi posisi kepada bangsawan. Sementara itu, mereka memburu ulama. Pada saat yang sama, mereka menanam curiga di tengah rakyat. Akhirnya, persatuan mulai retak sedikit demi sedikit.
Apa yang gagal dilakukan peluru, ambisi justru menyelesaikannya.
Sejarawan Anthony Reid menilai kolonialisme sering menang bukan hanya karena senjata, melainkan karena kecakapan membaca konflik lokal. Artinya jelas penjajah jarang bekerja sendirian.
Jabatan Kerap Mengalahkan Harga Diri
Belanda membayar Snouck mahal. Namun biaya terbesar bukan gaji seorang agen. Justru kerugian terbesar muncul ketika elite rela menjual pengaruhnya.
Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah mengingatkan:
“Bangsa ini jarang kalah oleh musuh luar. Kita lebih sering kalah oleh pengkhianatan dari dalam.”
Ucapan itu terdengar pedas, tetapi sejarah berkali-kali mengiyakan.
Tokoh bangsa Mohammad Hatta juga pernah berkata:
“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Tetapi tidak jujur sulit diperbaiki.”
Masalah bangsa ini sering bukan kurang pintar. Sebaliknya, sebagian orang terlalu pintar mencari untung pribadi.
Kini Penjajah Tak Perlu Datang Naik Kapal
Hari ini kolonialisme jarang membawa meriam. Kini ia masuk lewat kontrak, propaganda, polarisasi, utang, dan elite yang lebih mencintai kursi daripada rakyat.
Dulu Aceh terbelah antara bangsawan dan ulama. Sekarang masyarakat bisa pecah karena agama, suku, partai, kelas sosial, bahkan isi media sosial.
Mantan Presiden Soekarno pernah berkata:
“Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
Ucapan itu terasa relevan ketika rakyat sibuk bertengkar, sedangkan sebagian elite duduk nyaman di meja yang sama.
Siapa Pengkhianat Modern?
Mereka tidak selalu hadir sebagai mata-mata asing. Kadang mereka muncul sebagai:
- penjual kebijakan demi sponsor
- pengadu rakyat demi suara
- penukar sumber daya demi komisi
- penyebar takut demi kuasa
- pengibar nasionalisme sambil menggadaikan masa depan
Mereka tak selalu memakai seragam. Kadang cukup memakai jas. Ada pula yang datang dengan senyum. Bahkan sebagian tampil lewat slogan.
Pesan Keras dari Aceh
Aceh memberi pelajaran penting: negeri kuat bukan karena pagar besi, tetapi karena integritas manusianya.
Saat rakyat mudah terpecah, negeri melemah. Ketika elite gampang dibeli, bangsa menjadi murah. Jika sejarah dilupakan, maka pengkhianatan akan kembali dijual sebagai strategi baru.
Sebab kehancuran negara sering tidak dimulai dari ledakan besar. Kadang semuanya berawal dari satu kalimat kecil “Apa untungnya buat saya?”
Closing
Belanda gagal menaklukkan Aceh dengan meriam. Namun mereka menang ketika menemukan orang dalam.
Sekarang pertanyaannya sederhana Jika pola itu datang lagi hari ini, siapa yang sedang membukakan pintu?. @teguh





