Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Tan Jin Sing: Nama yang Hilang di Balik Kebangkitan Borobudur

by teguh
Juni 1, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter
Saat ribuan lampion membubung ke langit Borobudur setiap perayaan Waisak, jutaan mata menatap salah satu warisan budaya paling megah di dunia. Cahaya-cahaya itu membawa doa, harapan, dan rasa syukur yang melintasi batas negara, bahasa, dan generasi. Namun dua abad lalu, pemandangan tersebut hampir tidak pernah terjadi.

Tabooo.id – Semak belukar menelan sebagian besar bangunan Borobudur. Tanah mengubur relief-relief yang kini menjadi daya tarik wisata dunia. Pepohonan tumbuh di antara batu-batu kuno yang perlahan hilang dari perhatian manusia.

Di balik kisah kebangkitan candi itu, terdapat seorang tokoh yang namanya jarang muncul dalam buku sejarah populer.

Namanya Tan Jin Sing Seorang keturunan Tionghoa yang membantu membuka jalan bagi dunia untuk kembali melihat Borobudur setelah berabad-abad terlelap dalam sunyi.

“Kadang sejarah tidak menghapus seseorang. Sejarah hanya berhenti menyebut namanya.”

Ketika Borobudur Hilang dari Perhatian Dunia

Jauh sebelum wisatawan memenuhi pelatarannya, Borobudur menjalani masa-masa yang nyaris membuatnya lenyap dari ingatan manusia.

Pergeseran kekuasaan politik dan agama di Jawa membuat candi itu kehilangan fungsi utamanya. Aktivitas keagamaan yang dahulu ramai perlahan berpindah ke wilayah lain. Waktu terus berjalan, sementara perhatian manusia semakin menjauh.

Ini Belum Selesai

Kolam Segaran: Jejak Majapahit di Atas Riak Air

Saujana Malam dan Monumen Perahu Penjaga Sejarah Mojokerto

Hutan mulai menguasai kawasan tersebut Pepohonan tumbuh tanpa kendali. Akar-akar besar menyusup ke sela batu.

Lumut menutupi relief yang menceritakan perjalanan hidup Siddhartha Gautama menuju pencerahan. Borobudur tetap berdiri Namun generasi demi generasi semakin jarang memperhatikannya.

Sejarawan Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Agus Aris Munandar, menjelaskan bahwa banyak situs kuno di Nusantara mengalami nasib serupa ketika masyarakat kehilangan hubungan dengan sejarahnya.

“Situs bersejarah sering tidak hilang secara fisik. Masyarakatlah yang perlahan kehilangan ingatan terhadapnya.”

Kalimat itu menggambarkan kondisi Borobudur pada awal abad ke-19. Bangunannya masih ada Tetapi dunia nyaris melupakannya.

Tan Jin Sing dan Perjalanan Seorang Anak Tionghoa di Tanah Jawa

Pada saat Borobudur tenggelam dalam kesunyian, seorang tokoh keturunan Tionghoa sedang membangun pengaruh di Yogyakarta. Namanya Tan Jin Sing.

Ia lahir dari keluarga Tionghoa yang telah lama menetap di Jawa. Kemampuannya membangun hubungan dengan berbagai kelompok membuat namanya cepat dikenal di lingkungan perdagangan maupun pemerintahan.

Masyarakat mengenalnya sebagai Kapiten Cina, pemimpin komunitas Tionghoa yang bertugas menjembatani hubungan antara warga Tionghoa dan penguasa.

Perannya jauh lebih besar daripada sekadar pemimpin komunitas. Kemampuan diplomasi membuatnya dekat dengan Kesultanan Yogyakarta.

Pemerintah Inggris yang menguasai Jawa setelah mengalahkan Belanda juga menghormatinya. Posisi itu menempatkan Tan Jin Sing di persimpangan berbagai identitas.

Ia berasal dari komunitas Tionghoa dan Keraton Jawa mempercayainya. Pemerintah Inggris juga mengandalkan bantuannya dalam berbagai urusan administratif.

Ketika Sultan Hamengku Buwono III naik takhta, kerajaan memberikan penghargaan besar atas jasa-jasanya.

Sultan kemudian menganugerahkan gelar Raden Tumenggung Secodiningrat kepada Tan Jin Sing. Gelar tersebut menjadikannya sebagai bupati keturunan Tionghoa pertama di Jawa.

Perjalanan hidupnya kembali berubah ketika ia memeluk Islam. Tan Jin Sing menjalani khitan dan memotong taucang, rambut kepang panjang yang menjadi simbol identitas laki-laki Tionghoa pada masa Dinasti Qing.

Langkah tersebut menunjukkan bagaimana identitas di Nusantara sejak lama tumbuh dari proses perjumpaan budaya.

Budayawan dan peneliti sejarah Tionghoa Indonesia, Prof. Leo Suryadinata, pernah menegaskan bahwa sejarah Indonesia tidak pernah lahir dari satu identitas tunggal.

“Hubungan antara komunitas Tionghoa dan masyarakat Nusantara berlangsung selama ratusan tahun dan menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia.”

Sebuah Laporan yang Mengubah Sejarah

Sekitar tahun 1813, seorang mandor dari wilayah Bumisegoro membawa kabar yang tidak biasa kepada Tan Jin Sing.

Ia melihat bangunan batu besar yang tersembunyi di tengah kawasan pedalaman.

Pada masa itu, kabar mengenai bangunan kuno bukan sesuatu yang luar biasa. Pulau Jawa menyimpan banyak peninggalan masa lalu yang belum mendapat perhatian serius.

Namun Tan Jin Sing memilih untuk tidak mengabaikannya. Ia segera meneruskan laporan tersebut kepada Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Inggris di Jawa.

Raffles memiliki ketertarikan besar terhadap sejarah dan kebudayaan Nusantara. Karena itu, informasi tersebut langsung menarik perhatiannya.

Alih-alih menyimpannya sebagai catatan biasa, Raffles meminta Tan Jin Sing memimpin peninjauan awal ke lokasi bersama warga yang mengenal wilayah tersebut.

Keputusan sederhana itu kelak membuka salah satu bab penting dalam sejarah Indonesia.

Bertemu Raksasa yang Tertidur

Perjalanan menuju lokasi tidak menghadirkan pemandangan yang megah. Tan Jin Sing dan rombongannya hanya melihat semak liar, pepohonan besar, dan timbunan tanah yang menutupi sebagian besar kawasan.

Meski demikian, bentuk struktur batu mulai terlihat ketika mereka mendekat. Warga sekitar mengenal tempat itu dengan nama Borobudur.

Nama tersebut hidup dalam ingatan masyarakat setempat, meski tidak banyak orang memahami makna sejarah yang tersimpan di dalamnya.

Tan Jin Sing menyaksikan langsung kondisi bangunan tersebut. Semak menutupi sebagian besar area. Tanah mengubur relief-relief kuno.

Akar pohon menjalar di berbagai sudut bangunan. Alam perlahan mengambil kembali ruang yang pernah dibangun manusia berabad-abad sebelumnya.

Setelah menyelesaikan peninjauan, Tan Jin Sing segera melaporkan temuannya kepada Raffles. Laporan itulah yang mendorong langkah besar berikutnya.

Dua Minggu yang Membuka Mata Dunia

Raffles kemudian menunjuk Christian Cornelius dan memerintahkan timnya membuka kawasan Borobudur.

Sekitar 200 warga lokal ikut terlibat dalam pekerjaan tersebut. Para pekerja menebang semak yang menutupi bangunan.

Sebagian warga menggali timbunan tanah yang mengubur struktur candi. Tim lainnya mencabut akar pohon dengan hati-hati agar tidak merusak susunan batu.

Pekerjaan berlangsung selama dua minggu. Hari demi hari menghadirkan kejutan baru. Relief-relief mulai muncul dari balik tanah. Tangga-tangga batu kembali terlihat.

Susunan stupa perlahan menunjukkan bentuk aslinya. Apa yang semula tampak seperti bukit biasa ternyata merupakan salah satu bangunan Buddha terbesar di dunia.

Tim Hanningan dalam buku Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa mencatat bahwa proses pembukaan awal tersebut menjadi titik penting dalam sejarah pelestarian Borobudur.

Dari momen itulah dunia kembali melihat kemegahan yang selama berabad-abad tersembunyi.

Nama yang Tenggelam di Balik Narasi Besar

Sejarah sering memberi panggung lebih besar kepada sebagian tokoh.Banyak buku menempatkan nama Thomas Stamford Raffles sebagai sosok utama dalam kisah kebangkitan Borobudur.

Dokumen arkeologi juga banyak membahas peran Christian Cornelius. Sebaliknya, masyarakat semakin jarang menyebut nama Tan Jin Sing.

Padahal ia menjadi penghubung yang membawa informasi awal kepada pemerintah. Ia juga termasuk orang pertama yang meninjau lokasi setelah menerima laporan warga.

Tanpa langkah awal tersebut, proses pembukaan Borobudur mungkin berjalan lebih lambat. Fenomena seperti ini bukan hal baru.

Narasi sejarah sering menyederhanakan peristiwa yang sebenarnya melibatkan banyak pihak. Akibatnya, beberapa nama terus dikenang, sementara nama lainnya perlahan menghilang dari ingatan publik.

Borobudur, Waisak, dan Kehidupan Masa Kini

Hari ini, Borobudur berdiri sebagai salah satu simbol Indonesia. Setiap tahun, ribuan umat Buddha berkumpul untuk merayakan Hari Raya Waisak.

Prosesi sakral dimulai dari Candi Mendut. Rombongan umat kemudian berjalan menuju Borobudur sambil membawa doa dan harapan.

Saat malam tiba, ribuan umat Buddha menerbangkan lampion ke langit. Cahaya-cahaya itu menciptakan pemandangan yang memukau sekaligus menyentuh.

Selain menjadi pusat spiritual, Borobudur juga menggerakkan kehidupan ekonomi masyarakat sekitar. Hotel tumbuh di berbagai sudut kawasan.

Pelaku UMKM menjual kerajinan khas daerah. Pemandu wisata membantu pengunjung memahami sejarah candi.

Restoran dan penginapan memperoleh manfaat dari jutaan wisatawan yang datang setiap tahun. Sebagian pengunjung datang untuk mempelajari sejarah.

Banyak wisatawan ingin menikmati keindahan arsitekturnya. Tidak sedikit pula yang sekadar ingin menyaksikan matahari terbit dari salah satu situs budaya paling terkenal di dunia.

Namun di tengah seluruh kemegahan itu, nama Tan Jin Sing masih jarang terdengar. Padahal jejaknya tetap hidup dalam salah satu bab penting kebangkitan Borobudur.

Ini Bukan Sekadar Kisah Penemuan Candi

Kisah Tan Jin Sing sebenarnya lebih besar daripada cerita tentang penemuan kembali sebuah bangunan kuno. Narasi ini berbicara tentang cara bangsa mengingat masa lalunya.

Cerita ini juga menunjukkan bahwa Indonesia tidak pernah lahir dari satu kelompok, satu budaya, atau satu identitas saja.

Berbagai komunitas ikut membentuk perjalanan bangsa. Beragam budaya saling bertemu dan saling memengaruhi. Dari proses itulah Indonesia tumbuh.

Borobudur berdiri megah hingga hari ini karena banyak generasi terus merawat dan menjaganya.

Buku-buku sejarah mencatat sebagian tokoh yang berperan dalam perjalanan panjang tersebut. Namun generasi berikutnya perlahan melupakan sejumlah nama yang kontribusinya tidak kalah penting.

Tan Jin Sing termasuk salah satu sosok yang mengalami keadaan itu. Langkahnya membuka jalan bagi kebangkitan Borobudur, tetapi narasi sejarah jarang memberinya ruang yang setara.

Padahal kisah hidupnya memperlihatkan wajah Indonesia yang sesungguhnya. Beragam budaya bertemu, saling memengaruhi, lalu bersama-sama membentuk identitas bangsa.

Karena itu, ketika kita berdiri di pelataran Borobudur atau menyaksikan lampion Waisak menerangi langit Magelang, kita tidak hanya melihat sebuah candi.

Kita juga melihat jejak banyak manusia yang pernah menjaga warisan itu. Dan di antara mereka, Tan Jin Sing layak mendapat tempat yang lebih terang dalam sejarah Indonesia. @teguh

Tags: BorobudurBudaya IndonesiaCagar BudayaIdentitas BangsaSejarah IndonesiaSejarah JawasejarawanTan Jin SingTionghoa IndonesiaUniversitas Gadjah MadaWaisakWarisan Dunia

Kamu Melewatkan Ini

Kolam Segaran: Jejak Majapahit di Atas Riak Air

Kolam Segaran: Jejak Majapahit di Atas Riak Air

by teguh
Juni 5, 2026

Fajar baru saja menyentuh langit Trowulan ketika cahaya keemasan perlahan memantul di permukaan Kolam Segaran. Udara pagi masih terasa sejuk....

Saujana Malam dan Monumen Perahu Penjaga Sejarah Mojokerto

Saujana Malam dan Monumen Perahu Penjaga Sejarah Mojokerto

by teguh
Juni 5, 2026

Malam perlahan menyelimuti Kota Mojokerto. Sisa cahaya senja tenggelam di balik cakrawala. Lampu-lampu jalan mulai mengambil alih tugas matahari dan...

Majapahit Tidak Dikalahkan Musuh, Tapi Ego Elitnya Sendiri

Majapahit Tidak Dikalahkan Musuh, Tapi Ego Elitnya Sendiri

by teguh
Juni 4, 2026

Kendaraan melintas tanpa henti. Klakson bersahutan di bawah terik matahari. Aktivitas ekonomi bergerak seperti biasa. Di tengah kesibukan itu, satu...

Next Post
Hasto Sebut Indonesia Jadi Otoriter Populis Sejak Era Jokowi

Hasto Sebut Indonesia Jadi Otoriter Populis Sejak Era Jokowi

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id