Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Prabowonomics dan Risiko Kekuasaan yang Terlalu Nyaman

by dimas
Mei 25, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Prabowonomics memunculkan harapan baru tentang nasionalisme ekonomi. Namun, siapa yang akan mengawasi negara yang makin besar?

Tabooo.id – Indonesia sedang jatuh cinta pada gagasan tentang negara kuat.

Narasi itu terdengar gagah. Pemerintah ingin mengatur pasar lebih agresif. Negara ingin memimpin industrialisasi. Penguasa juga ingin mengendalikan sumber daya strategis demi kepentingan nasional. Setelah puluhan tahun hanya menjadi pemasok bahan mentah dunia, wacana nasionalisme ekonomi memang terasa menggoda.

Dua artikel terbaru majalah The Economist ikut memantik diskusi soal arah ekonomi Indonesia lewat istilah Prabowonomics. Publik sebelumnya juga mengenal istilah Jokowinomics, seperti dunia pernah mengenal Reaganomics milik Ronald Reagan dan Abenomics dari Shinzo Abe.

Fenomena itu menunjukkan perubahan besar dalam demokrasi modern: publik kini membaca kebijakan ekonomi lewat figur pemimpin.

Sebagian masyarakat menyambut arah baru ini dengan optimisme. Pemerintah memperluas hilirisasi. Negara memperbesar intervensi ekonomi. Elite politik menjadikan industrialisasi sebagai simbol kedaulatan nasional.

Ini Belum Selesai

Kompetensi atau Koneksi? Jalan Menuju Indonesia Emas

Masihkah Pemimpin Indonesia Percaya Laku Sebelum Bertahta?

Namun satu pertanyaan mendasar masih menggantung:

Kalau negara terus membesar, siapa yang memastikan kekuasaan tetap terkendali?

Masalah Indonesia Bukan Sekadar Pasar Bebas

Pendukung Prabowonomics sering menggambarkan neoliberalisme sebagai akar utama ketimpangan sosial. Mereka menilai pasar bebas membuat Indonesia terus bergantung pada kekuatan global.

Argumen itu memang terdengar menarik.

Sayangnya, realitas Indonesia jauh lebih rumit.

Indonesia sebenarnya tidak pernah menjadi negara neoliberal murni. Pemerintah tetap mengontrol subsidi, memperbesar peran BUMN, mengatur ekspor bahan mentah, dan menjaga intervensi harga dalam banyak sektor.

Persoalan terbesar Indonesia justru muncul dari lemahnya institusi.

Korupsi politik masih hidup. Birokrasi belum sepenuhnya meritokratis. Kepastian hukum sering berubah mengikuti arah kekuasaan. Selain itu, hubungan pengusaha dan elite politik juga terlalu dekat.

Ekonom Douglass North sejak lama mengingatkan bahwa pembangunan bergantung pada kualitas lembaga, bukan sekadar besarnya negara. Negara kaya sumber daya tetap bisa gagal ketika elite memakai kekuasaan demi kepentingan sempit.

Karena itu, memperbesar negara tanpa memperkuat pengawasan hanya akan melahirkan risiko baru: kekuasaan besar yang sulit dikontrol.

Demokrasi Bisa Melemah Secara Perlahan

Demokrasi modern jarang runtuh lewat kudeta militer.

Kekuasaan biasanya bergerak lebih halus.

Penguasa memperbesar koalisi politik. Oposisi kehilangan daya tekan. Kritik mulai dianggap pengganggu stabilitas. Ruang publik pun terasa makin sempit.

Bahkan sejumlah politisi mulai mengakui situasi itu secara terbuka.

Anggota DPR Benny K Harman pernah menggambarkan parlemen seperti “berada di dalam goa”. Ahmad Doli Kurnia juga mengaku banyak anggota dewan tidak lagi leluasa berbicara.

Situasi itu mengingatkan pada konsep delegative democracy dari Guillermo O’Donnell. Dalam kondisi tersebut, pemimpin yang menang secara demokratis merasa memiliki hak penuh untuk memerintah tanpa kontrol institusional yang kuat.

Padahal demokrasi tidak pernah dirancang untuk membuat penguasa nyaman.

Demokrasi hadir untuk membatasi kekuasaan.

Ilmuwan politik Steven Levitsky dan Lucan Way juga mengingatkan bahwa kemunduran demokrasi modern sering muncul lewat proses bertahap. Penguasa melemahkan oposisi, mengurangi independensi hukum, mengooptasi lembaga negara, lalu mengendalikan narasi publik.

Masyarakat sering tidak sadar ketika ruang kritik mulai mengecil sedikit demi sedikit.

Negara Besar Tidak Otomatis Bersih

Pendukung negara kuat sering menunjuk keberhasilan Asia Timur sebagai contoh.

Singapura, Jepang, dan Korea Selatan memang tumbuh lewat intervensi negara yang besar. Namun keberhasilan mereka tidak lahir hanya dari dominasi negara.

Mereka membangun birokrasi profesional, mereka menjaga meritokrasi dan mereka juga menciptakan sistem hukum yang disiplin dan relatif bersih dari rente politik.

Indonesia belum sepenuhnya berada di titik itu.

Perbandingan Danantara dengan Temasek Holdings atau Khazanah Nasional memang terdengar meyakinkan secara retoris. Namun Indonesia masih menghadapi patronase politik, nepotisme, dan lemahnya pengawasan publik.

Karena itu, pertanyaan paling penting bukan sekadar apakah negara boleh mengelola aset strategis.

Pertanyaan sesungguhnya jauh lebih sederhana: siapa yang mengawasi negara?

Daron Acemoglu dan James A. Robinson dalam buku Why Nations Fail menjelaskan bahwa negara tanpa institusi pengimbang berisiko melahirkan extractive institutions. Elite kemudian memakai negara untuk memperkaya diri sendiri, bukan melayani publik.

Sejarah terus menunjukkan pola yang sama.

Ketika pengawasan melemah, elite mulai mengubah negara menjadi alat konsolidasi kekuasaan.

Negara Harus Kuat, Tapi Tetap Terkendali

Konstitusi Indonesia sebenarnya sudah memberi arah yang jelas.

Pasal 33 UUD 1945 memberi mandat kepada negara untuk mengelola sumber daya alam demi kemakmuran rakyat. Namun Pasal 1 Ayat (3) juga menegaskan bahwa Indonesia adalah negara hukum.

Artinya, negara tidak boleh hanya kuat secara politik dan ekonomi.

Pemerintah juga harus tunduk pada hukum, transparansi, dan mekanisme pengawasan publik.

Tanpa kontrol yang sehat, nasionalisme ekonomi bisa berubah menjadi nasionalisme elite. Industrialisasi memang penting. Hilirisasi juga tetap diperlukan. Investasi sumber daya manusia pun masuk akal untuk masa depan.

Tetapi keberanian ekonomi saja tidak cukup.

Indonesia membutuhkan birokrasi profesional, hukum independen, dan ruang kritik yang tetap hidup. Negara memang harus hadir untuk rakyat. Namun rakyat juga harus tetap mampu mengawasi negara.

Karena sejarah selalu memberi peringatan yang sama:

Kekuasaan yang terlalu nyaman biasanya mulai berhenti mendengar.

“Negara kuat bisa melindungi rakyat. Tapi tanpa pengawasan, kekuasaan juga bisa berubah menjadi ancaman.” @dimas

Tags: Demokrasi IndonesiaIndonesia Emas 2045Nasionalisme EkonomiNegara KuatPrabowonomics

Kamu Melewatkan Ini

Hukum Tanpa Nurani: Saat Etika Tak Lagi Mengawal Kekuasaan

Hukum Tanpa Nurani: Saat Etika Tak Lagi Mengawal Kekuasaan

by dimas
Juli 17, 2026

Hukum tanpa nurani membuat kepercayaan publik terus terkikis. Mengapa Indonesia membutuhkan Peradilan Etika Nasional untuk menjaga integritas, akuntabilitas, dan masa...

Kompetensi atau Koneksi? Jalan Menuju Indonesia Emas

Kompetensi atau Koneksi? Jalan Menuju Indonesia Emas

by dimas
Juli 17, 2026

Kompetensi atau koneksi, mana yang menentukan masa depan Indonesia? Meritokrasi menjadi kunci menuju Indonesia Emas 2045, bukan patronase dan kedekatan...

Reformati: Ketika Jalanan Menjadi Pengadilan Kekuasaan

Reformati: Ketika Jalanan Menjadi Pengadilan Kekuasaan

by dimas
Juni 23, 2026

Reformati di Surabaya bukan sekadar demonstrasi. Aksi ini menjadi simbol perlawanan terhadap krisis demokrasi dan konsentrasi kekuasaan. Tabooo.id - Senja...

Next Post
Secangkir Kopi Tiap Hari: Ritual Produktif atau Alarm Tubuh yang Pelan-Pelan Menyala?

Secangkir Kopi Tiap Hari: Ritual Produktif atau Alarm Tubuh yang Pelan-Pelan Menyala?

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id