Tabooo.id: Nasional – Presiden Prabowo Subianto mengundang para presiden dan wakil presiden Republik Indonesia terdahulu ke Istana Merdeka Selasa (3/3/2026) malam. Agenda yang dijadwalkan pukul 19.30 WIB itu disebut sebagai silaturahmi dan diskusi, tetapi konteks waktunya memberi bobot politik dan ekonomi yang tidak kecil.
Ajudan Presiden ke-7 RI Joko Widodo, AKBP Syarif Fitriansyah, memastikan Jokowi akan hadir. Ia menjelaskan bahwa Prabowo mengundang Jokowi untuk mengikuti pertemuan silaturahmi dan diskusi di Istana. Namun, Syarif tidak merinci siapa saja tokoh lain yang dipastikan datang dan meminta publik menunggu keterangan resmi dari Istana.
Di saat yang sama, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Herman Khaeron memastikan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono juga akan memenuhi undangan tersebut. Herman menegaskan bahwa SBY selalu menghadiri undangan resmi Presiden. Meski demikian, ia mengaku belum mengetahui secara detail agenda pembahasan malam itu.
Forum Mendengar dan Memberi Update
Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad memberikan gambaran lebih luas mengenai tujuan pertemuan tersebut. Ia menyebut Prabowo ingin mendengarkan pandangan dan masukan dari para pemimpin terdahulu, terutama dalam merespons dinamika geopolitik global yang sedang berkembang.
Menurut Dasco, Presiden ingin menyerap saran strategis sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan mitigasi dampak terhadap bangsa dan negara. Ia juga menyampaikan bahwa Prabowo berencana memberi pembaruan informasi mengenai situasi global terkini setelah melakukan kunjungan luar negeri.
Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah memandang situasi global bukan sekadar isu luar negeri, melainkan faktor yang berpotensi memengaruhi stabilitas domestik.
Geopolitik dan Dampaknya ke Dalam Negeri
Ketegangan geopolitik dunia, termasuk konflik di Timur Tengah dan gangguan jalur energi global, telah mendorong volatilitas harga minyak dan pasar keuangan. Indonesia sebagai negara net importir minyak sangat rentan terhadap lonjakan harga energi.
Jika harga minyak dunia naik signifikan, pemerintah akan menghadapi tekanan fiskal akibat beban subsidi. Kenaikan biaya energi juga berpotensi memicu inflasi dan menaikkan harga kebutuhan pokok. Dalam situasi seperti itu, masyarakat berpenghasilan rendah menjadi kelompok paling terdampak karena daya beli mereka paling sensitif terhadap kenaikan harga.
Pelaku usaha, khususnya sektor transportasi, logistik, dan industri manufaktur, juga menghadapi risiko peningkatan biaya produksi. Ketidakpastian global dapat menahan ekspansi bisnis dan memperlambat investasi. Karena itu, konsolidasi elite politik menjadi penting untuk menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar.
Simbol Persatuan atau Strategi Krisis?
Pertemuan lintas presiden dan wakil presiden ini mengandung pesan simbolik yang kuat. Prabowo terlihat ingin membangun komunikasi lintas generasi kepemimpinan nasional di tengah tekanan eksternal. Ia tidak hanya merangkul pengalaman SBY yang pernah menghadapi krisis finansial global 2008, tetapi juga pengalaman Jokowi yang memimpin saat pandemi dan gejolak ekonomi dunia.
Namun publik tentu menunggu substansi. Silaturahmi politik akan bermakna jika menghasilkan langkah konkret yang mampu melindungi ekonomi nasional dan menjaga stabilitas sosial.
Hingga Selasa sore, Istana belum mengumumkan daftar lengkap undangan maupun agenda resmi secara terperinci. Meski demikian, pertemuan ini sulit dipisahkan dari kebutuhan pemerintah untuk memperkuat koordinasi nasional menghadapi risiko global yang kian kompleks.
Pada akhirnya, ruang diskusi di Istana mungkin terasa hangat oleh percakapan para elite. Tetapi yang paling menentukan bukanlah siapa yang duduk di meja pertemuan, melainkan bagaimana hasilnya mampu menjaga harga tetap stabil dan dapur rakyat tetap mengepul. @dimas




