Tabooo.id: Talk – Pernah nggak sih kamu ngerasa ada orang yang udah move on tapi tetap dikait-kaitin sama mantannya? Nah, itu kira-kira yang lagi dialami Prabowo sekarang. Bedanya, “mantan” yang dimaksud bukan pacar, tapi… Presiden ke-7 Republik Indonesia Joko Widodo alias Jokowi.
Belum sempat kursi presiden itu hangat dari hasil pelantikan, netizen dan pengamat udah sibuk debat: “Prabowo itu cuma penerus Jokowi aja!”, “Dia masih di bawah bayangan Jokowi!”, bahkan ada yang nyeletuk, “Kayak nonton spin-off film, bedanya cuma pemeran utama.”
Lucu tapi agak kasihan juga. Karena minggu ini, Prabowo akhirnya buka suara dan nadanya bukan defensif, tapi kayak orang capek di grup WhatsApp keluarga yang dituduh mulu.
“Enggak Ada Itu, Saya Nggak Takut Jokowi!”
Kutipan yang paling nyentil datang langsung dari Cilegon, di tengah acara peresmian pabrik petrokimia PT Lotte Chemical Indonesia. Di depan publik dan pejabat, Prabowo dengan tenang tapi tegas bilang, “Prabowo takut sama Jokowi? Nggak ada itu. Pak Jokowi nggak pernah nitip apa-apa ke saya.”
Boom. Satu kalimat yang kayaknya ditujukan buat dua kubu sekaligus kubu yang bilang dia dikendalikan, dan kubu yang pengen banget dia bentrok sama Jokowi.
Dan yang menarik, Prabowo bukan cuma ngebantah gosip, tapi juga… ngebela Jokowi. “Sudahlah, beliau memimpin 10 tahun, inflasi bagus, pertumbuhan bagus, dunia pun mengakui.”
Tuh, bahkan Prabowo aja masih tahu cara mengucapkan “terima kasih” politik sesuatu yang sering hilang di negeri yang hobi menghujat mantan pemimpinnya.
Budaya Baru: Dari Sanjung ke Sindir
Prabowo sempat nyeletuk hal yang sebenarnya lebih dalam dari sekadar gosip politik: “Pada saat berkuasa disanjung, setelahnya dicari-cari kesalahannya.”
Dan kalau kamu pikir-pikir, iya juga. Kita ini negara yang mudah banget jatuh cinta… dan sama gampangnya patah hati.
Ingat nggak, dulu Jokowi disanjung habis-habisan kayak “penyelamat rakyat kecil”? Tapi begitu periode keduanya jalan, timeline penuh dengan kritik dan meme sarkas soal tol laut sampai Ibu Kota Baru.
Dan sekarang, giliran Prabowo naik, siklusnya mulai lagi. Yang dulu benci Jokowi, tiba-tiba nempel ke Prabowo. Yang dulu cinta Jokowi, mulai sinis dan bikin analisis panjang di X (Twitter).
Kayak nonton sinetron politik tanpa jeda iklan. Cuma pemerannya yang ganti, ceritanya tetap: “Siapa sebenarnya yang berkuasa di balik layar?”
Tapi Gimana Kalau… Emang Gak Ada Bayangan?
Coba deh kita pikir logis.
Kalau Prabowo dan Jokowi masih sering tampil bareng, ya wajar mereka dulu satu koalisi, dan transisi kekuasaan yang mulus itu justru hal langka di politik kita.
Masalahnya, publik kita lebih percaya drama daripada data. Kalau lihat mereka senyum bareng, langsung bilang “Prabowo dikontrol.” Tapi kalau mereka nggak saling sapa, muncul lagi teori “pecah kongsi di dalam istana.”
Sejujurnya, yang dikontrol tuh bukan Prabowo, tapi… emosi kita sendiri sebagai penonton.
Karena di negeri +62 ini, gosip politik lebih cepat viral daripada klarifikasi resmi.
Jadi, Apa yang Mau Kita Percaya?
Mungkin, pernyataan Prabowo bukan sekadar pembelaan diri, tapi sindiran halus ke budaya politik yang makin toxic. Di mana setiap gestur harus ditafsir, setiap kalimat harus dikode, dan setiap hubungan antar-elit dianggap punya motif tersembunyi.
Padahal, mungkin kadang mereka cuma lagi saling menghormati bukan saling mengatur.
Tapi siapa yang mau percaya hal simpel kayak gitu kalau teori konspirasi lebih “seksi”, kan?
Akhirnya…
Kita boleh skeptis, tapi jangan lupa, politik bukan sinetron yang harus selalu punya tokoh antagonis. Kadang, dua orang bisa tetap punya hubungan baik tanpa harus ada yang “mengendalikan”.
Dan mungkin, yang perlu “move on” itu bukan Prabowo dari bayangan Jokowi… tapi kita, dari obsesi mencari drama di setiap perubahan kekuasaan. @dimas




