Tabooo.id: Global – Presiden Prabowo Subianto melangkah masuk ke gedung United States Institute of Peace di Washington DC, pada Kamis, (19/2/2026), dengan satu pesan yang tak tertulis: Indonesia ingin duduk di meja yang menentukan arah perdamaian dunia.
Ia mengenakan jas abu-abu, kemeja putih, dasi biru muda, dan peci hitam penampilan formal yang menjadi simbol diplomasi klasik Indonesia. Namun, di balik simbol itu, ada agenda besar. Prabowo menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi perdana Board of Peace atau Dewan Perdamaian Gaza, forum baru yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Iring-iringan kendaraan yang membawa Prabowo tiba sekitar pukul 08.00 waktu setempat. Sebelumnya, aparat keamanan telah mensterilkan jalan-jalan utama di sekitar lokasi sejak pukul 07.00. Washington pagi itu tidak hanya menyambut seorang kepala negara, tetapi juga menyambut negara yang ingin memainkan peran lebih besar dalam konflik global.
Indonesia Duduk di Antara Poros-Poros Dunia
Di dalam ruang konferensi, Prabowo duduk di antara delegasi Uni Emirat Arab dan Kazakhstan. Ia sempat berbincang santai dengan perwakilan Kazakhstan sambil menunggu acara dimulai. Percakapan itu terlihat ringan, tetapi posisinya mencerminkan realitas baru: Indonesia kini berada di tengah percaturan geopolitik yang semakin kompleks.
Selain Indonesia, forum ini mempertemukan pemimpin dan delegasi dari berbagai negara, termasuk Bahrain, Pakistan, Vietnam, Arab Saudi, hingga Israel. Mereka datang dengan kepentingan masing-masing, tetapi berbicara dalam satu tema besar: perdamaian Gaza.
Trump membuka forum tersebut sebagai tuan rumah dan inisiator. Ia memberi kesempatan kepada setiap pemimpin, termasuk Prabowo, untuk menyampaikan pandangan mereka. Kesempatan berbicara itu bukan sekadar formalitas, tetapi peluang untuk mempengaruhi arah diplomasi global.
Indonesia Ingin Jadi “Jembatan”, Bukan Penonton
Kehadiran Prabowo menegaskan ambisi Indonesia untuk menjadi pemain, bukan sekadar penonton. Selama ini, Indonesia dikenal sebagai pendukung kuat perjuangan Palestina. Namun kini, Indonesia melangkah lebih jauh dengan ikut terlibat langsung dalam forum yang berpotensi membentuk solusi politik.
Prabowo datang tidak sendirian. Ia membawa Menteri Luar Negeri Sugiono dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya sebagai bagian dari tim diplomasi.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya ingin hadir secara simbolik, tetapi juga ingin berperan aktif dalam pembicaraan.
Langkah ini penting, terutama bagi Indonesia yang selama ini mengklaim diri sebagai negara non-blok dan pendukung perdamaian dunia. Dengan duduk di forum ini, Indonesia berusaha membuktikan bahwa posisi itu bukan sekadar slogan.
Dampaknya: Antara Prestise Diplomasi dan Harapan Publik
Bagi masyarakat Indonesia, kehadiran Prabowo di forum ini membawa dua makna sekaligus. Pertama, Indonesia mendapatkan pengakuan sebagai negara yang diperhitungkan dalam diplomasi global. Kedua, publik berharap peran itu menghasilkan dampak nyata, bukan sekadar foto dan pernyataan.
Di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda berakhir, forum seperti ini menjadi panggung penting bagi negara-negara untuk menunjukkan posisi mereka.
Namun, pada akhirnya, pertanyaan paling sederhana tetap menggantung apakah kehadiran para pemimpin dunia akan benar-benar membawa perdamaian, atau hanya menambah daftar panjang pertemuan yang menghasilkan lebih banyak pidato daripada solusi. @dimas





