Tabooo.id: Nasional – Presiden Prabowo Subianto menghadiri Mujahadah Kubro dalam rangka peringatan Hari Lahir (Harlah) Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Malang, Jawa Timur, Minggu pagi. Sejak dini hari, ribuan nahdliyin sudah memadati lokasi, menunggu kehadiran orang nomor satu di Indonesia itu.
Prabowo tiba sekitar pukul 06.50 WIB, didampingi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Begitu alunan sholawat Thola’al Badru Alaina menggema, suasana yang semula khidmat langsung berubah riuh namun tetap tertib.
Presiden tak sekadar datang lalu duduk manis. Ia berjalan ke barisan depan, menyalami peserta satu per satu. Momen paling mencuri perhatian terjadi saat Prabowo menyapa ibu-ibu jamaah yang membalas dengan lambaian tangan dan doa. Hangat, akrab, dan sangat “NU”.
Elite Kabinet Turun Gunung
Sejumlah menteri Kabinet Merah Putih ikut hadir, mulai dari Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Menteri ATR Nusron Wahid, Mensos Saifullah Yusuf, Mensesneg Prasetyo Hadi, Menlu Sugiono, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Angga Raka Prabowo, hingga Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Para ulama kharismatik dan jajaran PWNU Jawa Timur juga tampak memenuhi area stadion.
Mujahadah Kubro yang berlangsung pada 7–8 Februari 2026 ini menjadi puncak perayaan Harlah Satu Abad NU versi PWNU Jatim. Panitia memperkirakan sekitar 105 ribu orang hadir langsung.
Angka ini bukan sekadar statistik. Dampaknya terasa nyata: hotel penuh, pedagang kecil kebanjiran pembeli, transportasi lokal ramai, dan ekonomi warga sekitar ikut bergerak. UMKM, tukang parkir, sampai penjual air mineral ikut kecipratan rezeki.
NU Tak Cuma Doa, Tapi Juga Ekonomi
Rangkaian Harlah 1 Abad NU sebenarnya sudah berjalan sejak Januari. Dimulai dari sarasehan pesantren di Unisma, ziarah muassis NU se-Jatim, hadrah di Surabaya, hingga pameran lukisan nasional di Dewan Kesenian Surabaya.
PWNU Jatim juga menggelar program parenting, pesantren sehat di berbagai daerah, sampai NUConomic dan GenZINU Bootcamp di Blitar. Fokusnya jelas: memperkuat tiga pilar ekonomi NU UMKM, filantropi, dan pertanian.
Artinya, perayaan ini tidak berhenti di tikar doa. NU sedang mendorong jamaahnya terutama generasi muda untuk naik kelas secara ekonomi.
Bagi masyarakat akar rumput, acara sebesar ini memberi dua hal sekaligus: penguatan spiritual dan peluang penghidupan. Bagi pemerintah, ini sinyal kuat bahwa NU tetap menjadi simpul penting stabilitas sosial sekaligus mesin ekonomi umat.
Dan mungkin, di tengah hiruk pikuk politik nasional, pesan dari Stadion Gajayana sederhana saja: ketika ulama, umat, dan negara duduk bersama, yang bergerak bukan cuma sholawat tapi juga roda ekonomi. Tinggal pertanyaannya, setelah lampu stadion padam, siapa yang benar-benar menjaga nyalanya?@eko




