Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

PM Inggris Gandeng NATO Cegah Ambisi AS atas Greenland

by dimas
Januari 20, 2026
in Global, Reality
A A
Home Reality Global
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Global – Upaya mencegah krisis geopolitik baru di kawasan Arktik kini bergerak dari London. Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer menyiapkan langkah diplomatik untuk membujuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar menghentikan ambisi mencaplok Greenland, pulau strategis yang berada di bawah kedaulatan Kerajaan Denmark.

Berdasarkan laporan surat kabar The i Paper yang dikutip Antara pada Selasa (20/1/2026), Starmer memilih jalur kolektif ketimbang konfrontatif. Ia menggandeng sekutu-sekutu NATO untuk meyakinkan Washington bahwa Eropa mampu menjaga keamanan Arktik tanpa perlu perluasan wilayah Amerika Serikat.

Selain itu, langkah tersebut juga menandai upaya Inggris menahan eskalasi konflik yang berpotensi melebar. Starmer bersama para menteri kabinet senior Inggris secara aktif melancarkan kampanye diplomatik ke tokoh-tokoh kunci di Washington. Melalui jalur itu, mereka berusaha meredam dua ancaman sekaligus: rencana pencaplokan Greenland dan potensi perang dagang antara AS dan Eropa akibat perbedaan sikap politik.

Pulau Dingin dengan Api Kepentingan

Sekilas, Greenland tampak sunyi dan jauh dari hiruk-pikuk politik global. Namun, di balik hamparan es, pulau itu menyimpan kepentingan strategis besar. Jalur militer Arktik, cadangan sumber daya alam, serta posisinya di tengah rivalitas Barat dengan Rusia dan China membuat Greenland menjadi rebutan kekuatan besar.

Dalam beberapa kesempatan, Trump secara terbuka menyatakan bahwa Greenland “seharusnya menjadi bagian dari Amerika Serikat.” Pernyataan tersebut segera memicu ketegangan diplomatik. Pemerintah Denmark bersama otoritas Greenland pun merespons dengan peringatan tegas, sambil menuntut Washington menghormati integritas teritorial mereka.

Ini Belum Selesai

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Bagi Eropa, persoalan ini melampaui isu kedaulatan semata. Jika Amerika Serikat mengambil alih Greenland, keseimbangan kekuatan di Arktik akan berubah drastis. Karena itu, negara-negara Eropa khawatir kawasan tersebut bergeser dari zona kerja sama internasional menjadi arena unjuk kekuatan militer.

NATO Jadi Penyangga Politik

Melihat risiko itu, Starmer menempatkan NATO sebagai pilar utama pendekatannya. Dengan membawa isu Greenland ke dalam kerangka pertahanan kolektif, Inggris dan sekutunya ingin menyampaikan pesan jelas kepada Washington: Arktik bukan ruang kosong yang bisa diklaim sepihak.

Pada saat bersamaan, tekanan juga datang dari sisi ekonomi. Ancaman perang dagang yang Trump lontarkan kepada negara-negara Eropa yang menolak rencananya mendorong diplomasi Inggris bergerak lebih cepat. London pun berupaya menjaga dua kepentingan sekaligus, yakni stabilitas keamanan kawasan dan keberlanjutan hubungan ekonomi transatlantik.

Di titik inilah posisi Starmer menjadi serba rumit. Ia harus tetap tampil sebagai sekutu dekat Amerika Serikat, namun pada saat yang sama menunjukkan sikap tegas agar Eropa tidak terlihat tunduk pada tekanan politik Washington.

Manuver Militer di Tengah Diplomasi

Sementara diplomasi berjalan, kehadiran militer justru menambah ketegangan. Pesawat-pesawat militer dari Komando Pertahanan Dirgantara Amerika Utara (NORAD) dijadwalkan tiba di pangkalan Amerika Serikat di Greenland dalam waktu dekat.

NORAD menyebut pengerahan tersebut sebagai bagian dari kegiatan yang telah lama direncanakan. Dalam pernyataan resmi pada Senin (19/1/2026), organisasi gabungan AS-Kanada itu menegaskan bahwa mereka telah berkoordinasi dengan otoritas Denmark dan memberi tahu Pemerintah Greenland.

Meski demikian, publik Eropa sulit memisahkan manuver militer tersebut dari dinamika politik yang sedang berlangsung. Kehadiran pesawat tempur di wilayah sensitif Arktik muncul beriringan dengan wacana pencaplokan, sehingga memunculkan kesan intimidatif.

NORAD juga menegaskan bahwa pesawat-pesawat itu akan mendukung operasi pertahanan berkelanjutan dan beroperasi bersama armada lain dari daratan Amerika Serikat dan Kanada. Organisasi tersebut menyatakan bahwa mereka secara rutin menjalankan operasi tersebar untuk menjaga pertahanan Amerika Utara, sebagaimana dikutip AFP.

Dampak yang Menjalar ke Warga

Jika konflik ini terus membesar, dampaknya tidak akan berhenti di ruang diplomasi. Warga Greenland menghadapi ketidakpastian atas masa depan wilayah mereka. Di sisi lain, Denmark berisiko kehilangan kedaulatan simbolik sekaligus strategis. Negara-negara Eropa pun harus bersiap menghadapi tekanan ekonomi jika perang dagang benar-benar terjadi.

Secara global, Arktik kembali berubah dari kawasan beku menjadi titik panas geopolitik.

Starmer tampaknya memahami satu hal penting. Mencaplok wilayah mungkin terdengar seperti manuver lama ala abad ke-20. Namun, dampaknya justru terasa sangat modern mengganggu rantai pasok, memengaruhi harga energi, dan mengguncang stabilitas global.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tersisa terasa sederhana namun mengganggu jika pulau es pun kini diperebutkan dengan ancaman militer dan tarif dagang, masih adakah ruang yang benar-benar netral di dunia yang mengaku modern ini? @dimas

Tags: ArktikASDonald TrumperopaGeopolitikGlobalGreenlandKeamanan NegaraNATO

Kamu Melewatkan Ini

Dua Musuh, Satu Kepentingan

Dua Musuh, Satu Kepentingan

by dimas
Juni 7, 2026

Di balik ancaman dan negosiasi yang tak berujung, AS dan Iran ternyata terjebak dalam kepentingan yang sama: sama-sama membutuhkan lawannya...

Damai atau Jeda Perang? AS dan Iran Mulai Mainkan Narasi Baru

Damai atau Jeda Perang? AS dan Iran Mulai Mainkan Narasi Baru

by dimas
Mei 24, 2026

AS dan Iran menunjukkan sinyal damai baru. Namun di balik negosiasi dan pembukaan Selat Hormuz, dunia masih mencium ancaman konflik...

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

“Jangan Kau Minta Saja Terus”: Pesan Prabowo ke Buruh Bikin Publik Terbelah

by jeje
Mei 20, 2026

Buruh diminta jangan terlalu banyak menuntut. Pengusaha jangan diperas. Itulah pesan blak-blakan Presiden Prabowo Subianto saat berbicara di Rapat Paripurna...

Next Post
Pencarian ATR 42-500, Basarnas Temukan Barang Milik Pramugari

Pencarian ATR 42-500, Basarnas Temukan Barang Milik Pramugari

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id