• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News Nasional

Pilkada DPRD Menguat, Demokrat Tahan Sikap

Desember 30, 2025
in Nasional, News
A A
Pilkada DPRD Menguat, Demokrat Tahan Sikap

Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat jumpa pers usai pembukaan Kongres VI DPP Partai Demokrat di Ballroom Ritz Carlton, Pasific Place, Jakarta, pada Senin (24/2/2025). (Foto istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Wacana pemilihan kepala daerah oleh DPRD kembali menghangat. Namun, Partai Demokrat memilih menahan langkah. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Syahrial Nasution, menegaskan partainya belum mengambil sikap resmi atas usulan tersebut. Hingga kini, Demokrat masih menimbang dua opsi besar: mempertahankan pilkada langsung atau mengalihkan pemilihan kepala daerah ke DPRD.

Syahrial menyampaikan bahwa diskursus ini terus bergerak di internal partai, meski belum mereka buka ke ruang publik. Melalui kajian itu, Demokrat ingin memastikan setiap keputusan politik tetap mengarah pada tujuan utama pemerintahan, yakni menyejahterakan rakyat.

Di saat yang sama, Syahrial mengakui bahwa kualitas demokrasi Indonesia dalam satu dekade terakhir terus menurun. Indeks demokrasi melemah, sementara oligarki semakin agresif mengintervensi proses politik dengan praktik pembelian suara. Kondisi tersebut mendorong munculnya kembali wacana pilkada melalui DPRD sebagai alternatif, meski menuai pro dan kontra di ruang publik.

Bayang-Bayang Masa Lalu dan Trauma Sejarah

Meski membuka ruang kajian, Syahrial secara tegas mengingatkan risiko besar di balik pilkada tidak langsung. Ia menilai sistem pemilihan kepala daerah oleh DPRD pernah melahirkan kekuasaan yang sangat terpusat dan otoriter pada masa Orde Baru.

Pengalaman sejarah itu, menurutnya, harus menjadi alarm politik. Demokrat tidak ingin perubahan sistem justru menyeret Indonesia mundur ke masa ketika elite politik memegang kendali penuh, sementara suara rakyat kehilangan bobotnya.

RelatedPosts

7.039 Pemudik Gratis Tiba di Tirtonadi, Mayoritas dari DKI Jakarta

Prabowo Sebut Penyiraman Aktivis KontraS Terorisme, Harus Usut Dalangnya

Karena alasan itu, Demokrat memilih bersikap hati-hati. Di tengah hiruk-pikuk perdebatan nasional, partai berlambang mercy ini enggan terjebak dalam tarik-menarik wacana politik yang berpotensi menjauhkan fokus dari persoalan riil masyarakat, terutama di daerah-daerah yang kini menghadapi bencana alam.

Pesan SBY: Utamakan Kerja Nyata

Syahrial menegaskan bahwa Demokrat saat ini memprioritaskan bantuan kepada pemerintah Presiden Prabowo Subianto dalam menangani bencana. Ia menyebut arahan tersebut datang langsung dari Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

SBY meminta seluruh kader Demokrat mengedepankan kepentingan rakyat yang terdampak bencana di berbagai provinsi. Dalam kondisi darurat, Demokrat menilai kerja nyata di lapangan jauh lebih mendesak dibanding perdebatan panjang soal sistem pemilu yang belum tentu segera diputuskan.

Gerindra Ambil Sikap, Efisiensi Jadi Dalih

Sementara Demokrat masih mengkaji, Partai Gerindra sudah mengambil sikap tegas. Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Sugiono, secara terbuka menyatakan dukungan terhadap usulan pemilihan kepala daerah oleh DPRD.

Gerindra memandang sistem tersebut lebih efisien, terutama dari sisi anggaran dan ongkos politik. Sugiono menyoroti lonjakan dana hibah pilkada dari APBD yang pada 2015 berada di kisaran Rp 7 triliun, lalu melonjak drastis menjadi lebih dari Rp 37 triliun pada Pilkada 2024.

Selain membebani keuangan negara, Sugiono menilai biaya kampanye calon kepala daerah semakin tidak rasional. Ongkos politik yang tinggi, menurutnya, justru menutup peluang bagi figur-figur kompeten yang tidak memiliki modal besar. Karena itu, Gerindra mendorong sistem yang memungkinkan calon berintegritas maju tanpa terhambat biaya kampanye yang bersifat “prohibitif”.

Rakyat Tetap di Tengah Tarik-Menarik Elite

Perdebatan ini akhirnya bermuara pada satu pertanyaan mendasar siapa yang paling terdampak? Jawabannya tetap sama rakyat. Pilkada langsung memberi ruang partisipasi luas, tetapi menelan anggaran besar dan rawan politik uang. Sebaliknya, pilkada melalui DPRD menawarkan efisiensi, tetapi berisiko mempersempit suara warga.

Di tengah tarik-menarik kepentingan elite, publik kembali menunggu arah kebijakan politik. Apakah negara akan menyederhanakan demokrasi atas nama efisiensi, atau tetap mempertahankannya meski mahal?

Satu hal tak berubah ketika elite sibuk menghitung biaya dan mekanisme, suara rakyat sering kali menjadi angka paling mudah dikesampingkan pelan, senyap, tetapi terasa.si dihitung hanya dengan angka dan anggaran, suara rakyat kerap menjadi variabel yang paling mudah disisihkan pelan-pelan, tapi terasa. @dimas

Tags: anggaranDemokrasiDemokratdprdEfisiensiGerindraHak PilihIndonesiaKepala DaerahNasionalPemilihanPilkadaPolitikrakyatReformasi
Next Post
Link Token Listrik Gratis Bikin Heboh, Ujungnya Hoaks

Link Token Listrik Gratis Bikin Heboh, Ujungnya Hoaks

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

5 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Kabar Duka: Bos Djarum Bambang Hartono Meninggal Dunia di Singapura

    Kabar Duka: Bos Djarum Bambang Hartono Meninggal Dunia di Singapura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Empat Prajurit TNI Terseret Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Iran Luncurkan Rudal ke Israel, Timur Tengah Kembali Memanas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Idul Fitri: Kita Kembali ke Diri, atau Sekadar Kembali ke Tradisi?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pantai Kuta Bali: Surga yang Dijual, atau Ilusi yang Disepakati?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.