PGS Solo tidak tiba-tiba kehilangan pembeli. Konflik biaya, kepailitan, perubahan pengelolaan, dan eksodus tenant lebih dulu melemahkan ekosistem perdagangan di dalamnya.
Tabooo.id: Lorong pusat perbelanjaan yang kosong gampang melahirkan kesimpulan sederhana: pembelinya sudah pergi.
Namun, cerita Pusat Grosir Solo (PGS) tidak sesederhana itu.
Jauh sebelum pembeli semakin jarang terlihat, persoalan muncul dari dalam gedung. Konflik biaya mencuat, kepailitan datang, pengelolaan berganti, lalu struktur sewa berubah. Pedagang pun mulai meninggalkan kios satu per satu.
Perlahan, PGS kehilangan kekuatan utamanya yaitu ekosistem perdagangan yang selama bertahun-tahun memberi orang alasan untuk datang.
PGS memang akhirnya tutup. Namun, pertanyaan terbesarnya bukan sekadar kenapa pintunya terkunci.
Bagaimana sebuah pusat grosir yang pernah menampung ratusan pedagang akhirnya kehilangan hampir seluruh penghuninya?
Dari Simpul Perdagangan ke Lorong yang Kehilangan Pedagang
PGS berdiri sejak 2005 di kawasan Gladag, Surakarta. Selama lebih dari dua dekade, gedung lima lantai itu menjadi salah satu simpul perdagangan tekstil, batik, busana muslim, dan produk fesyen.
Pada masa jayanya, pedagang mengisi sekitar 700 dari kapasitas 900 kios. Angka tersebut penting karena pusat grosir tidak hidup hanya dari gedung besar. Pedagang, pembeli, pekerja, dan aktivitas transaksi membuat ruang itu bernyawa.
Semakin lengkap pilihan barang, semakin kuat alasan pembeli datang. Keramaian itu kemudian menarik lebih banyak pedagang untuk bertahan.
Ekosistem tersebut membentuk lingkaran yang saling menghidupi.
Masalah muncul ketika lingkaran itu berputar ke arah sebaliknya. Pandemi menekan perdagangan fisik. Perubahan perilaku konsumen juga menggeser transaksi ke ruang digital. Sementara itu, social commerce membuat persaingan harga semakin ketat.
Namun, tekanan dari luar bukan satu-satunya masalah. Di dalam PGS, hubungan antara pedagang dan pengelola mulai mengalami gesekan.
2022: Konflik Service Charge Mulai Terlihat
Salah satu titik penting muncul pada Maret 2022. Pedagang menolak rencana kenaikan service charge dari Rp57.500 menjadi Rp80.000 per meter persegi setiap bulan.
Bagi mereka, persoalannya bukan sekadar nominal.
Pedagang juga menyoroti kondisi fasilitas gedung, mulai dari kebocoran atap hingga menurunnya kinerja sistem pendingin ruangan.
Mereka kemudian menggelar aksi penolakan.
Pemerintah Kota Surakarta mencoba mempertemukan kedua pihak melalui mediasi. Namun, pedagang dan pemilik gedung gagal mencapai kesepakatan.
PGS memang belum berada di ujung cerita. Namun, retakan dalam hubungan bisnis mulai terlihat.
Kepercayaan antara pengelola dan orang-orang yang menghidupkan kios perlahan melemah.
Dalam bisnis pusat perdagangan, kepercayaan mungkin tidak muncul dalam neraca keuangan. Namun, ketika kepercayaan terkikis, dampaknya bisa menjalar sampai ke lorong pertokoan.
2024: PGS Masih Merancang Masa Depan
Ironisnya, dua tahun kemudian PGS belum membicarakan akhir. Manajemen justru merancang masa depan.
Pada awal 2024, mereka menyiapkan renovasi bertahap untuk membawa PGS menuju konsep one-stop shopping.
Rencananya cukup ambisius.
Manajemen ingin menggabungkan perdagangan fesyen dengan kuliner, oleh-oleh, zonasi tenant, hingga teknologi Customer Relationship Management atau CRM. Mereka menargetkan konsep baru tersebut mampu mengisi sekitar 900 tenant.
PGS juga menyiapkan integrasi marketplace, studio live streaming, fasilitas foto produk, serta pendampingan ekspor.
Rencana itu menunjukkan satu hal bahwa manajemen sebenarnya membaca perubahan pasar.
Konsumen bergerak ke digital. Persaingan semakin terbuka. Pusat grosir lama membutuhkan alasan baru agar orang tetap datang.
Manajemen mencoba menjawab perubahan tersebut melalui model hibrida yang menghubungkan perdagangan fisik dan digital. Namun, transformasi membutuhkan dua hal yang sulit digantikan oleh desain baru yaitu waktu dan stabilitas.
PGS kemudian kehilangan keduanya.
Putusan Pailit Mengubah Permainan
Titik balik PGS tidak bermula ketika lorongnya kosong.
Perubahan terbesar muncul saat persoalan bisnis memasuki wilayah hukum kepailitan.
Proses pengadilan niaga menyatakan PT Putera Griya Sentosa, perusahaan pemilik dan pengelola gedung PGS, pailit. Berita Negara Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2026 kemudian memuat pengumuman status tersebut.
Putusan itu mengubah penguasaan perusahaan terhadap asetnya.
Setelah kepailitan berlaku, tim kurator mengurus dan membereskan aset yang masuk dalam boedel pailit. PGS pun memasuki babak baru.
Sebelumnya, manajemen berfokus mempertahankan tenant, mengatur biaya, dan mengembangkan konsep perdagangan. Setelah kepailitan, mekanisme pemberesan aset ikut menentukan arah pengelolaan.
Kurator harus mengurus aset perusahaan sekaligus menjalankan proses pemberesan untuk memenuhi kewajiban kepada kreditur.
Pada titik inilah persoalan korporasi mulai menyentuh lantai perdagangan.
Tim kurator mengambil alih pengelolaan PGS dari manajemen lama. Bersamaan dengan perubahan itu, struktur penyewaan kios ikut bergeser.
Materi yang dihimpun mencatat skema lama menawarkan sewa jangka panjang sekitar Rp150 juta untuk 20 tahun.
Dalam skema pengelolaan kurator, biaya tersebut berubah menjadi sekitar Rp600 juta untuk 10 tahun. Sementara kontrak jangka pendek mencapai sekitar Rp40 juta untuk enam bulan.
Perubahan itu datang pada saat pedagang menghadapi tekanan dari berbagai arah.
Daya beli melemah. Persaingan digital semakin keras. Margin usaha menipis. Di tengah kondisi tersebut, pedagang juga harus menghitung ulang biaya mempertahankan ruang fisik.
Perkara kepailitan memang berlangsung di ranah hukum. Namun, pedagang merasakan konsekuensinya langsung melalui hitungan bisnis sehari-hari.
Mereka akhirnya menghadapi pertanyaan sederhana: masih masuk akalkah bertahan di PGS?
Bagi sebagian pedagang, jawabannya tidak. Mereka memilih meninggalkan kios.
Ketika jumlah pedagang yang keluar terus bertambah, persoalan hukum perusahaan berubah menjadi persoalan ekonomi pasar.
Putusan pailit memang tidak langsung mengosongkan sebuah pusat perdagangan. Namun, perubahan setelahnya dapat mengubah hitungan bisnis orang-orang yang selama ini membuat pusat perdagangan tetap hidup.
Ketika Pedagang Pergi, Pembeli Kehilangan Alasan Datang
Di sinilah cerita PGS menjadi lebih kompleks daripada narasi sederhana bahwa mal kalah melawan perdagangan online.
Jumlah tenant aktif menyusut dari sekitar 700 kios menjadi sekitar 60 menjelang akhir operasional.
Artinya, PGS kehilangan sekitar 91 persen tenant aktifnya. Efeknya tidak sulit dibayangkan.
Satu toko tutup mungkin tidak mengubah keadaan. Sepuluh toko mulai meninggalkan ruang kosong. Ketika ratusan kios berhenti beroperasi, karakter pusat grosir ikut berubah.
Pembeli datang karena pusat grosir menawarkan banyak pilihan dalam satu tempat. Mereka bisa membandingkan model, harga, bahan, dan pemasok tanpa berpindah jauh.
Ketika tenant menyusut drastis, keunggulan itu ikut menghilang. PGS kemudian masuk ke lingkaran yang sulit diputus.
Jumlah tenant menyusut, pilihan barang menipis, lalu traffic pembeli melemah. Penurunan pengunjung menekan omzet pedagang yang masih bertahan.
Ketika pendapatan turun, kemampuan menanggung biaya usaha ikut melemah. Kondisi itu memberi pedagang lain alasan lebih besar untuk pindah.
Traffic kembali turun. Sepi akhirnya bukan cuma penyebab. Sepi juga menjadi akibat.
Gedung Masih Berdiri, Ekosistemnya Lebih Dulu Runtuh
Bagian inilah yang sering luput ketika sebuah pusat perdagangan berhenti beroperasi.
Kita melihat pintu terkunci, lalu menganggap bisnis mati pada hari itu.
Padahal kematian ekonomi sering dimulai jauh sebelumnya.
Tandanya muncul ketika pedagang mengemas barang, pemilik toko mengurangi pegawai, kios sebelah kosong, dan pilihan produk terus menyusut.
Pembeli yang sebelumnya menemukan puluhan pilihan akhirnya hanya melihat beberapa toko.
Lalu muncul kalimat sederhana yang sangat berbahaya bagi sebuah pusat grosir: “Di sana sudah tidak selengkap dulu.”
Migrasi pedagang PGS kemudian ikut mengubah peta perdagangan di kawasan tersebut.
Sebagian memilih Beteng Trade Center (BTC). Pedagang lain bergerak menuju Pasar Klewer. Ada pula yang meninggalkan ruang fisik dan memusatkan penjualan melalui kanal digital.
Perdagangan tidak otomatis hilang. Ia berpindah tempat.
PGS justru kehilangan perannya sebagai titik yang selama bertahun-tahun mengumpulkan aktivitas tersebut.
Yang Ikut Pergi Bukan Cuma Pemilik Kios
Eksodus ratusan tenant membawa dampak yang lebih luas daripada kehilangan toko.
Sebab pusat grosir juga menjadi ekosistem pekerjaan.
Di dalamnya ada pramuniaga, petugas keamanan, tenaga kebersihan, pekerja ekspedisi, sopir, juru parkir, hingga pedagang makanan di sekitar kawasan.
Ketika toko pindah atau mengecilkan operasi, kebutuhan tenaga kerja ikut berubah.
Materi yang dihimpun menunjukkan perpindahan usaha turut mendorong efisiensi tenaga kerja. Salah satu pedagang yang sebelumnya mempekerjakan tujuh orang, misalnya, hanya mempertahankan tiga pekerja setelah pindah.
Di sinilah kepailitan perusahaan berubah menjadi persoalan kota.
Keputusan hukum mungkin berlangsung di tingkat korporasi. Namun, gelombangnya menyentuh pekerja yang bahkan mungkin tidak pernah membaca dokumen kepailitan.
Mereka tidak perlu memahami istilah boedel pailit atau mekanisme pemberesan aset untuk merasakan dampaknya.
Mereka cukup melihat satu kenyataan yaitu tempat mencari nafkah tidak lagi sama.
PGS Bukan Sekadar Cerita Ritel yang Kalah oleh Internet
Menyalahkan e-commerce memang mudah.
Narasinya juga sederhana: orang beralih belanja online, pasar fisik kehilangan pengunjung, kemudian pusat grosir tutup. Selesai.
Namun, perjalanan PGS menunjukkan persoalan yang lebih kompleks.
Tekanan digital memang nyata. Pandemi juga menghantam perdagangan fisik. Sementara itu, konflik service charge sudah muncul sejak 2022.
Meski begitu, pada 2024 manajemen masih mencoba beradaptasi.
Mereka merancang konsep one-stop shopping, menghubungkan toko fisik dengan marketplace, dan menyiapkan fasilitas perdagangan digital.
Kepailitan kemudian mengubah arah pengelolaan aset. Struktur sewa ikut bergeser dan pedagang harus menghitung ulang kelayakan bisnis mereka. Sebagian memilih pergi.
Ketika jumlah tenant terus menyusut, traffic pembeli ikut melemah. Penurunan pengunjung kemudian menekan omzet pedagang yang masih bertahan.
Lingkaran itu terus mengecil sampai biaya operasional gedung tidak lagi sebanding dengan arus kas yang masuk. Operasional akhirnya berhenti.
Karena itu, menyebut PGS mati karena “sepi” justru membalik urutan masalah.
Pertanyaan yang lebih penting bukan mengapa pembeli pergi, tetapi: apa yang lebih dulu membuat tempat itu kehilangan alasan untuk didatangi?
Pusat Perdagangan Hidup dari Hubungan, Bukan Beton
PGS meninggalkan pelajaran yang lebih besar daripada satu gedung kosong di Gladag.
Pusat perdagangan bukan sekadar kumpulan kios di dalam beton. Ia hidup sebagai jaringan hubungan.
Pengelola membutuhkan tenant. Pedagang membutuhkan pembeli. Konsumen membutuhkan pilihan. Pekerja membutuhkan toko yang terus beroperasi. Sementara kota membutuhkan aktivitas ekonomi yang tetap bergerak.
Ketika salah satu mata rantai melemah, tekanan merambat ke bagian lain.
Karena itu, mempertahankan pusat perdagangan tidak cukup dengan mempercantik fasad, membuka zona kuliner, atau memasang teknologi baru.
Model bisnis di dalamnya harus tetap masuk akal bagi orang-orang yang menjalankannya.
Pedagang bukan dekorasi pusat perbelanjaan. Mereka adalah alasan tempat itu hidup.
PGS memperlihatkan ironi tersebut dengan jelas. Gedungnya masih berdiri di lokasi strategis. Pasar tekstil Solo juga tidak tiba-tiba menghilang.
Namun, banyak orang yang dulu menghidupkan ruang tersebut telah berpindah.
Setelah cukup banyak pedagang pergi, pilihan menyusut. Ketika pilihan hilang, pembeli pun memiliki semakin sedikit alasan untuk datang.
Pada akhirnya, PGS meninggalkan satu pelajaran yang jauh lebih besar daripada cerita sebuah pusat grosir yang tutup.
Pusat perdagangan tidak selalu mati ketika pembelinya pergi. Kadang pembeli pergi setelah ekosistem di dalamnya lebih dulu runtuh. @waras








