Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Petani Punk, Teknologi Alam, dan Masa Depan yang Sedang Ditanam

by teguh
Mei 8, 2026
in Reality, Teknologi
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Teknologi – Di era ketika kata “teknologi” identik dengan aplikasi, robot, dan kecerdasan buatan, sekelompok anak muda di Gunungkidul justru menawarkan definisi berbeda. Mereka tidak membangun startup, tidak menjual mimpi digital, dan tidak sibuk mengejar tren. Sebaliknya, mereka menanam masa depan lewat pertanian organik.

Pemandangan itu terlihat di Padukuhan Kalangan, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Di bawah matahari cerah, sejumlah pria berpakaian hitam dan bertato berjalan menuju sawah. Sekilas mereka tampak seperti komunitas musik jalanan. Namun nyatanya, mereka adalah petani yang sedang bekerja.

Dari Tawa Kecil, Lahir Kesadaran Besar

Perwakilan komunitas itu, SiBagz, menceritakan awal perubahan hidupnya pada Selasa, 14/04/2026. Saat itu, ia mengenang momen ketika dirinya duduk di pinggir sawah bersama teman-temannya.

Awalnya, mereka menertawakan para petani tua yang masih bekerja keras di lahan. Namun sesudah pulang ke rumah, pikirannya berubah. Ia sadar bahwa hampir tidak ada anak muda yang mau menggantikan generasi lama.

“Saat itu mentertawakan petani yang sudah tua masih bekerja. Tapi setelah pulang, saya sadar petani tidak ada regenerasi,” kata SiBagz.

Dari situ, ia mulai melihat masalah yang lebih besar. Jika generasi muda tidak mengenal sawah, siapa yang akan menanam pangan di masa depan?

Ini Belum Selesai

Harley, Valas, dan Uang Rp145 Miliar: Jejak Korupsi Silmy Karim

Timnas Indonesia Hajar Oman 3-0, Herdman: Ini Kemenangan Kami Tunggu 38 Tahun

Modal Nekat, Hasil Bermartabat

Karena terdorong rasa gelisah, SiBagz meminjam sertifikat tanah orang tuanya senilai Rp25 juta sebagai modal awal. Keputusan itu berisiko besar, apalagi ia belum punya pengalaman bertani.

Meski demikian, ia tetap melangkah. Bersama sekitar 15 anak jalanan dari berbagai daerah, ia mulai menanam bawang merah di lahan sekitar 1.500 meter persegi.

Perjalanan mereka tentu tidak mulus. Mereka salah memakai alat, keliru membaca musim, bahkan sempat dihantui rasa takut gagal.

“Kami takut. Kalau gagal mengangsur, orang tua saya bisa ikut jadi punk juga, jadi gembel,” ujarnya sambil tertawa.

Akan tetapi, keberanian itu berbuah manis. Mereka sukses panen, melunasi kewajiban, lalu membuktikan bahwa kesempatan kedua bisa tumbuh dari tanah.

Petani Punk, Teknologi Alam, dan Masa Depan yang Sedang Ditanam
Bersama sekitar 15 anak jalanan dari berbagai daerah, ia mulai menanam bawang merah dan Cabai

Teknologi yang Tidak Selalu Berbentuk Mesin

Sementara banyak orang mengejar alat modern, komunitas ini memilih inovasi yang lebih dekat dengan alam. Mereka membuat pupuk dan pestisida sendiri dari bahan sederhana.

Campurannya berasal dari urin kambing, air leri, serta empon-empon. Murah, mudah didapat, dan ramah lingkungan.

“Kita memanfaatkan potensi yang ada untuk pupuk dan pestisida,” jelas SiBagz.

Dengan kata lain, teknologi tidak selalu harus mahal atau rumit. Kadang, solusi terbaik justru lahir dari pengetahuan lokal yang selama ini diremehkan.

Mengajak Anak Muda Turun ke Sawah Lagi

Seiring waktu, SiBagz melihat banyak pemuda desa tidak tertarik bertani. Padahal, sebagian besar berasal dari keluarga petani.

Karena itu, pada 2022, ia mulai mengajak anak muda belajar bercocok tanam. Mereka memakai lahan kosong di sekitar makam dan menyiapkan sekitar 1.500 polybag untuk cabai.

Hasilnya cukup mengejutkan. Panen berhasil, minat tumbuh, dan gerakan kecil itu terus meluas.

Kini, sekitar 120 pemuda menjadi binaannya dalam bidang pertanian.

“Goal saya adalah ada anak muda yang mengerti bertani. Tujuan kita bukan untuk diri sendiri, tapi agar petani ada regenerasi,” tegasnya.

Saat Sawah Jadi Ruang Perlawanan

Di tengah arus urbanisasi, banyak desa kehilangan tenaga muda. Sementara itu, lahan perlahan diburu investor. Jika keadaan ini terus dibiarkan, masyarakat lokal bisa saja hanya menjadi penonton di tanah sendiri.

Karena alasan itulah, langkah komunitas Petani Punk Gunungkidul terasa penting. Mereka tidak sekadar menanam cabai atau bawang. Mereka sedang menanam keberanian, kemandirian, dan masa depan.

Closing: Masa Depan Kadang Tumbuh Diam-Diam

Tidak semua perubahan datang lewat aplikasi baru. Tidak semua inovasi lahir dari ruang rapat. Kadang, masa depan justru tumbuh pelan di sawah yang sepi.

Pertanyaannya sekarang sederhana ketika semua orang sibuk menatap layar, siapa yang masih mau menjaga tanah?. @teguh

Tags: cabaiGunungkidulinovasiInvestorMomenPestisidaPetaniPunkRegenerasi

Kamu Melewatkan Ini

BRIN 5 Tahun: Inovasi Jalan, Birokrasi Jangan Jadi Rem Tangan

BRIN 5 Tahun: Inovasi Jalan, Birokrasi Jangan Jadi Rem Tangan

by teguh
April 29, 2026

BRIN merayakan usia lima tahun dengan tema Inovasi untuk Negeri. Temanya besar, pesannya kuat. Tetapi publik tetap berhak bertanya inovasi...

Dari Jasad ke Tanah: Ketika Kematian Tak Lagi Akhir, Tapi Proses

Dari Jasad ke Tanah: Ketika Kematian Tak Lagi Akhir, Tapi Proses

by Naysa
April 25, 2026

Empat puluh lima hari. Itu saja yang dibutuhkan untuk mengubah tubuh manusia menjadi tanah hidup. Bukan dikubur, bukan dibakar tapi...

Dari Abu ke Tanah Subur: Industri Duka Masuk Era Teknologi Hijau

Dari Abu ke Tanah Subur: Industri Duka Masuk Era Teknologi Hijau

by teguh
Mei 8, 2026

Selama ini, kematian identik dengan dua pilihan membakar atau mengubur. Kini teknologi menghadirkan jalur ketiga yang mulai dilirik banyak orang...

Next Post
Polisi Geger: Bripka Alexander Tewas, Utang Jadi Dugaan Awal

Polisi Geger: Bripka Alexander Tewas, Utang Jadi Dugaan Awal

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id