Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Persis Solo Nunggak Rp 2 M: Drama Lapangan Beralih ke Meja Tagihan

by teguh
April 15, 2026
in Reality, Sports
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Sports – Sepak bola biasanya bicara soal gol, strategi, dan euforia tribun. Tapi kali ini, Persis Solo justru terseret ke “pertandingan” lain urusan finansial. DPRD Kota Solo mengungkap klub kebanggaan itu menunggak sewa Stadion Manahan hingga Rp 2 miliar untuk periode 2024–2025.

Pertanyaannya sederhana tapi menusuk kalau klub tak mampu bayar rumah sendiri, bagaimana bisa tetap kompetitif di lapangan?

Tunggakan Terungkap, Cicilan Baru Seujung Kuku

Fakta ini mencuat dalam rapat kerja Komisi II DPRD Kota Solo bersama dinas terkait. Ketua Komisi II, Agung Harsakti Pancasila, terang-terangan kaget melihat angka tunggakan.

“Baru dicicil Rp 40 juta,” ujar Agung pada Senin, 13 April 2026.

Angka itu terasa kontras. Di satu sisi, miliaran rupiah menumpuk. Di sisi lain, cicilan baru setara “pemanasan ringan”. Dalam dunia olahraga profesional, ini bukan sekadar angka ini alarm.

DPRD Mendesak: Stadion Butuh Nafas, Bukan Janji

Agung tak ingin masalah ini berlarut. Ia langsung mendorong langkah tegas dari dinas terkait.

Ini Belum Selesai

Harley, Valas, dan Uang Rp145 Miliar: Jejak Korupsi Silmy Karim

Timnas Indonesia Hajar Oman 3-0, Herdman: Ini Kemenangan Kami Tunggu 38 Tahun

“Mengingatkan kepala dinas untuk segera menagih. Monggo pakai cara apa, yang penting uang masuk,” tegasnya.

Masalahnya jelas Stadion Manahan bukan cuma tempat bertanding. Ia butuh biaya perawatan besar rumput, fasilitas, hingga operasional harian. Tanpa pemasukan, stadion bisa jadi simbol megah yang pelan-pelan kehilangan nyawa.

Sepinya Tribun, Sepinya Kas Klub

Di balik angka tunggakan, ada cerita yang lebih sunyi penonton yang mulai menjauh. Kepala dinas menyebut penurunan jumlah penonton sebagai salah satu penyebab kondisi keuangan klub memburuk.

Agung mengamini hal itu. “Keuangan Persis Solo lagi tidak baik-baik saja,” katanya.

Sepak bola modern memang tak lagi hidup dari tiket saja. Tapi ketika tribun kosong, efek domino tak terhindarkan sponsor ragu, pemasukan seret, dan akhirnya utang menumpuk.

Manajemen Bungkam, Pemerintah Masih Mengecek

Sementara DPRD mulai bersuara keras, respons dari pihak lain masih dingin. Wali Kota Solo, Respati Ardi, mengaku belum mendapat laporan detail.

“Apa iya. Tak cek dulu,” ujarnya singkat.

Di sisi lain, Direktur Utama Persis, Ginda Ferachtriawan, memilih diam. Hingga Selasa, 14 April 2026, pesan dan panggilan tak mendapat respons. Dalam dunia olahraga yang penuh sorotan, diam sering kali lebih bising dari pernyataan.

Dari Lapangan ke Realita: Siapa yang Bertanggung Jawab?

Kasus ini membuka satu hal yang sering luput sepak bola bukan cuma soal passion, tapi juga manajemen. Ketika klub gagal menjaga finansial, dampaknya bukan cuma ke internal tapi juga ke publik, stadion, bahkan identitas kota.

Persis Solo bukan sekadar tim. Ia simbol kebanggaan. Tapi sekarang, simbol itu sedang diuji bukan oleh lawan di lapangan, tapi oleh angka di laporan keuangan.

Lalu pertanyaannya sekarang kalau klub sebesar Persis saja bisa goyah karena finansial, apakah sepak bola kita benar-benar sudah profesional atau masih sekadar euforia tanpa fondasi?. @teguh

Tags: FinansialKlubPenontonProfesionalRealitaSoloStadion

Kamu Melewatkan Ini

Anti-Swapraja: Ketika Feodalisme Dianggap Musuh

Anti-Swapraja: Ketika Feodalisme Dianggap Musuh

by Tabooo
Mei 29, 2026

Gerakan anti swapraja Surakarta bukan sekadar penolakan terhadap keraton. Ia lahir dari benturan Republik, feodalisme, ketimpangan agraria, dan kemarahan kelas...

Surakarta dan Keistimewaannya: Luka yang Belum Usai

Surakarta dan Keistimewaannya: Luka yang Belum Usai

by Tabooo
Mei 25, 2026

Surakarta pernah memiliki dasar hukum sebagai daerah istimewa. Namun gejolak politik, konflik elite, dan keputusan pusat membuat status itu membeku...

Sertifikasi Naik, Tekanan Ikut Naik: Kisah Sunyi di Balik Profesi Guru

Sertifikasi Naik, Tekanan Ikut Naik: Kisah Sunyi di Balik Profesi Guru

by teguh
Mei 2, 2026

Pagi itu, di sebuah ruang kelas sederhana pada masa awal kemerdekaan, seorang guru berdiri tanpa seragam resmi, tanpa tunjangan, bahkan...

Next Post
Skandal FH UI: Ini Bukan Candaan. Ini Luka Psikologis

Skandal FH UI: Ini Bukan Candaan. Ini Luka Psikologis

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id