Senin, April 20, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Skandal FH UI: Ini Bukan Candaan. Ini Luka Psikologis

April 15, 2026
in Health, Lifestyle
A A
Home Lifestyle Health
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Health – Kasus di Fakultas Hukum Universitas Indonesia tidak hanya menyoroti pelanggaran etika, tetapi juga membuka persoalan serius terkait kesehatan mental di era digital. Interaksi yang tampak ringan dalam grup tertutup justru memicu tekanan emosional yang mendalam bagi korban.

Pihak kampus mengonfirmasi laporan tersebut pada 12 April 2026 melalui pernyataan resmi:

“Pada tanggal 12 April 2026, Fakultas menerima laporan mengenai dugaan pelanggaran kode etik yang juga berpotensi mengandung unsur tindak pidana, terkait aktivitas sebagian mahasiswa,” tulis pernyataan resmi FH UI.

Peristiwa ini menegaskan bahwa ruang digital bukan sekadar media komunikasi, melainkan juga ruang yang dapat memperkuat dampak psikologis secara langsung.

Cedera Psikis yang Tidak Terlihat

Pelecehan digital sering meninggalkan luka yang tidak tampak, tetapi terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari korban. Dampak tersebut muncul melalui gangguan emosional yang kompleks dan berkepanjangan.

Pengurus Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan:

BacaJuga

DJI Osmo Pocket 4 Datang: Kamera Kecil, Ambisi Besar

Sleepmaxxing: Saat Tidur Tak Lagi Santai, Tapi Jadi Target Sempurna

“Luka psikologis tidak selalu ditentukan oleh bentuk tindakan, tetapi oleh makna pengalaman traumatis yang dirasakan korban.”

Korban merasakan penurunan harga diri, kehilangan rasa aman, dan melemahnya kepercayaan terhadap lingkungan sosial. Dalam kondisi tertentu, pengalaman ini berkembang menjadi gangguan serius seperti PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).

Ia menambahkan:

“Secara psikologis, yang terluka adalah self-esteem (harga diri), sense of safety, trust terhadap lingkungan sosial, body image, dan rasa tidak berdaya.”

Dinamika Sosial yang Membentuk Perilaku

Lingkungan kelompok membentuk cara individu berpikir dan bertindak. Dalam kasus ini, percakapan grup menciptakan ruang yang mendorong perilaku menyimpang tanpa kontrol yang memadai.

Dua mekanisme psikologis menjelaskan fenomena ini. Pertama, group reinforcement mendorong anggota saling menguatkan perilaku negatif hingga terasa wajar. Kedua, disinhibition effect membuat individu bertindak lebih bebas karena interaksi terjadi di balik layar.

Dr. Lahargo menegaskan:

“Layar sering membuat seseorang lupa bahwa ada manusia yang terluka di balik nama dan foto profil.”

Situasi ini memperlihatkan bagaimana batas moral dapat melemah ketika individu tidak menghadapi konsekuensi secara langsung.

Normalisasi yang Berbahaya bagi Kesehatan Mental

Banyak pelaku menggunakan dalih “bercanda” untuk membenarkan tindakan yang merugikan orang lain. Pola ini membentuk kebiasaan yang perlahan mengikis empati.

Ketika seseorang terus mengulang perilaku tersebut, ia kehilangan kepekaan terhadap dampak emosional yang muncul. Kondisi ini tidak hanya melukai korban, tetapi juga merusak kualitas relasi sosial dalam kelompok.

Dalam jangka panjang, normalisasi ini meningkatkan risiko stres kronis, kecemasan sosial, dan isolasi psikologis. Lingkungan yang seharusnya aman justru berubah menjadi sumber tekanan.

Kesehatan Mental di Era Interaksi Tanpa Batas

Perkembangan teknologi memperluas cara manusia berinteraksi, tetapi tidak selalu diikuti dengan kematangan emosional. Kasus ini menunjukkan pentingnya kesadaran dalam menjaga kesehatan mental, termasuk saat berkomunikasi di ruang digital.

Dr. Lahargo menutup dengan peringatan tegas:
“Sesuatu tidak lagi dianggap candaan saat martabat orang lain menjadi korbannya. Di era digital, kata-kata dapat melukai sama dalamnya dengan tindakan fisik.”

Kesadaran kolektif menjadi kunci untuk menciptakan ruang interaksi yang lebih aman, empatik, dan bertanggung jawab.@anisa

Tags: Kekerasan SeksualKesehatan Mentalpelecehan seksual digitalPTSDskandal FH UItrauma psikologis

REKOMENDASI TABOOO

Sleepmaxxing: Saat Tidur Tak Lagi Santai, Tapi Jadi Target yang Harus Sempurna

Sleepmaxxing: Saat Tidur Tak Lagi Santai, Tapi Jadi Target Sempurna

by eko
April 19, 2026

Tabooo.id: Health - Dulu orang sering menyepelekan tidur. Sekarang banyak orang justru mengejarnya seperti proyek serius. Dari minum suplemen, memakai...

Incel: Ketika Kebencian pada Perempuan Lahir Diam-Diam di Ruang Tertutup

Incel: Ketika Kebencian pada Perempuan Lahir Diam-Diam di Ruang Tertutup

by dimas
April 18, 2026

Tabooo.id: Talk - Pertanyaan ini terasa tidak nyaman, tetapi penting kita ajukan sejak awal bagaimana mungkin calon penegak hukum justru...

Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Ilusi Relasi

Jasa Teman Jalan: Solusi Kesepian atau Ilusi Relasi

by dimas
April 17, 2026

Tabooo.id: Health - Pernah merasa harus terlihat punya seseorang?Di era media sosial, orang tidak hanya menjalani hidup, tapi juga menampilkannya....

Next Post
Banjir Solo: Bencana Alam atau Pola Kota yang Tak Pernah Beres?

Banjir Solo: Bencana Alam atau Pola Kota yang Tak Pernah Beres?

Recommended

May Day 2026: Perayaan atau Peringatan Keras untuk Pemerintah?

May Day 2026: Perayaan atau Peringatan Keras untuk Pemerintah?

April 18, 2026
Semaoen dan Era Bergolak: Ketika Buruh Tidak Lagi Diam

Semaoen dan Era Bergolak: Ketika Buruh Tidak Lagi Diam

April 15, 2026

Popular

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

Daftar Kekayaan Maidi: Ini Peta Aset Seorang Wali Kota Madiun

April 14, 2026

Cepuri Parangkusumo: Mitos, Perjanjian, atau Strategi Kekuasaan Mataram?

April 19, 2026

Labuhan Parangkusumo: Ritual Sakral atau Tradisi yang Mulai Kehilangan Makna?

April 19, 2026

Go Tik Swan: Dia Tionghoa, Tapi Jadi Jawa Sejati

April 19, 2026

Perempuan Indonesia Sudah Maju, Masih Diragukan?

April 19, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id