Sabtu, Juni 6, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Skandal FH UI: Ini Bukan Candaan. Ini Luka Psikologis

by Anisa
Mei 8, 2026
in Health, Life
A A
Home Life Health
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Health – Kasus di Fakultas Hukum Universitas Indonesia tidak hanya menyoroti pelanggaran etika, tetapi juga membuka persoalan serius terkait kesehatan mental di era digital. Interaksi yang tampak ringan dalam grup tertutup justru memicu tekanan emosional yang mendalam bagi korban.

Pihak kampus mengonfirmasi laporan tersebut pada 12 April 2026 melalui pernyataan resmi:

“Pada tanggal 12 April 2026, Fakultas menerima laporan mengenai dugaan pelanggaran kode etik yang juga berpotensi mengandung unsur tindak pidana, terkait aktivitas sebagian mahasiswa,” tulis pernyataan resmi FH UI.

Peristiwa ini menegaskan bahwa ruang digital bukan sekadar media komunikasi, melainkan juga ruang yang dapat memperkuat dampak psikologis secara langsung.

Cedera Psikis yang Tidak Terlihat

Pelecehan digital sering meninggalkan luka yang tidak tampak, tetapi terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari korban. Dampak tersebut muncul melalui gangguan emosional yang kompleks dan berkepanjangan.

Pengurus Bidang Pengabdian Masyarakat PP-PDSKJI, dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, menjelaskan:

Ini Belum Selesai

“Jangan Buang Ibu”: Saat Rindu Tak Lagi Punya Waktu

Moral Self-Licensing: Kebaikan yang Berubah Jadi Alasan

“Luka psikologis tidak selalu ditentukan oleh bentuk tindakan, tetapi oleh makna pengalaman traumatis yang dirasakan korban.”

Korban merasakan penurunan harga diri, kehilangan rasa aman, dan melemahnya kepercayaan terhadap lingkungan sosial. Dalam kondisi tertentu, pengalaman ini berkembang menjadi gangguan serius seperti PTSD (Post Traumatic Stress Disorder).

Ia menambahkan:

“Secara psikologis, yang terluka adalah self-esteem (harga diri), sense of safety, trust terhadap lingkungan sosial, body image, dan rasa tidak berdaya.”

Dinamika Sosial yang Membentuk Perilaku

Lingkungan kelompok membentuk cara individu berpikir dan bertindak. Dalam kasus ini, percakapan grup menciptakan ruang yang mendorong perilaku menyimpang tanpa kontrol yang memadai.

Dua mekanisme psikologis menjelaskan fenomena ini. Pertama, group reinforcement mendorong anggota saling menguatkan perilaku negatif hingga terasa wajar. Kedua, disinhibition effect membuat individu bertindak lebih bebas karena interaksi terjadi di balik layar.

Dr. Lahargo menegaskan:

“Layar sering membuat seseorang lupa bahwa ada manusia yang terluka di balik nama dan foto profil.”

Situasi ini memperlihatkan bagaimana batas moral dapat melemah ketika individu tidak menghadapi konsekuensi secara langsung.

Normalisasi yang Berbahaya bagi Kesehatan Mental

Banyak pelaku menggunakan dalih “bercanda” untuk membenarkan tindakan yang merugikan orang lain. Pola ini membentuk kebiasaan yang perlahan mengikis empati.

Ketika seseorang terus mengulang perilaku tersebut, ia kehilangan kepekaan terhadap dampak emosional yang muncul. Kondisi ini tidak hanya melukai korban, tetapi juga merusak kualitas relasi sosial dalam kelompok.

Dalam jangka panjang, normalisasi ini meningkatkan risiko stres kronis, kecemasan sosial, dan isolasi psikologis. Lingkungan yang seharusnya aman justru berubah menjadi sumber tekanan.

Kesehatan Mental di Era Interaksi Tanpa Batas

Perkembangan teknologi memperluas cara manusia berinteraksi, tetapi tidak selalu diikuti dengan kematangan emosional. Kasus ini menunjukkan pentingnya kesadaran dalam menjaga kesehatan mental, termasuk saat berkomunikasi di ruang digital.

Dr. Lahargo menutup dengan peringatan tegas:
“Sesuatu tidak lagi dianggap candaan saat martabat orang lain menjadi korbannya. Di era digital, kata-kata dapat melukai sama dalamnya dengan tindakan fisik.”

Kesadaran kolektif menjadi kunci untuk menciptakan ruang interaksi yang lebih aman, empatik, dan bertanggung jawab.@anisa

Tags: Kekerasan SeksualKesehatan Mental

Kamu Melewatkan Ini

Moral Self-Licensing: Kebaikan yang Berubah Jadi Alasan

Moral Self-Licensing: Kebaikan yang Berubah Jadi Alasan

by dimas
Juni 2, 2026

Moral self-licensing membuat seseorang merasa berhak melakukan kesalahan setelah berbuat baik. Fenomena psikologis ini diam-diam memengaruhi keputusan sehari-hari. Tabooo.id -...

Keberanian Hidup dalam Kesadaran: Berhenti Lari dari Diri Sendiri

Keberanian Hidup dalam Kesadaran: Berhenti Lari dari Diri Sendiri

by dimas
Mei 30, 2026

Keberanian hidup dalam kesadaran dimulai ketika seseorang berhenti lari dari dirinya sendiri. Di balik kesibukan, rasa aman, dan rutinitas yang...

Tubuhmu Sebenarnya Kuat atau Cuma Bertahan Karena Kafein?

Tubuhmu Sebenarnya Kuat atau Cuma Bertahan Karena Kafein?

by teguh
Mei 26, 2026

Ada orang yang tidak bisa memulai pagi tanpa kopi. Ada juga yang merasa hidupnya “mati gaya” kalau belum menyeruput Americano...

Next Post
Banjir Solo: Bencana Alam atau Pola Kota yang Tak Pernah Beres?

Banjir Solo: Bencana Alam atau Pola Kota yang Tak Pernah Beres?

Madilog Series

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026
Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Mei 25, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id