Musim kemarau baru berlangsung, tetapi ribuan petani di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Juwana sudah menghadapi ancaman kekurangan air. Bendung Karet Juwana di Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, kembali bocor. Padahal pemerintah membangun proyek senilai sekitar Rp260 miliar itu melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Tabooo.id: Kerusakan tersebut bukan kali pertama terjadi. Bendung Karet Jumawa yang berfungsi menahan aliran Sungai Juwana agar tidak langsung mengalir ke laut itu juga mengalami kerusakan pada 2025. Kini, masalah serupa kembali muncul pada 2026. Kondisi itu memunculkan pertanyaan publik mengenai kualitas konstruksi, pengawasan proyek, serta efektivitas pengelolaan infrastruktur yang menjadi penopang ribuan hektare lahan pertanian di Kabupaten Pati.
Hingga Selasa (21/07/2026), pemerintah belum menyampaikan penjelasan resmi mengenai penyebab kebocoran maupun langkah yang akan diambil untuk mengatasi persoalan tersebut.
Air Tawar Terus Mengalir ke Laut
Bendung Karet Jumawa yang bocor tidak mampu lagi menahan aliran Sungai Juwana secara maksimal. Air tawar terus mengalir ke laut. Akibatnya, cadangan air yang selama ini menjadi sumber irigasi utama semakin berkurang.
Kondisi tersebut muncul ketika sebagian besar petani masih memasuki musim tanam ketiga. Curah hujan yang rendah membuat mereka hampir sepenuhnya bergantung pada pasokan air dari Sungai Juwana.
Ketua Serikat Petani Pati (SPP), Kamelan, mengatakan kebocoran bendung langsung memengaruhi ketersediaan air bagi petani.
“Kalau bendung bocor, air tidak tertahan dan langsung mengalir ke laut. Akibatnya debit air di Sungai Juwana cepat berkurang, padahal sekarang petani sangat membutuhkan air,” ujar Kamelan saat ditemui di lokasi, Selasa (21/07/2026).
Menurutnya, ribuan hektare sawah di sepanjang DAS Juwana masih membutuhkan pasokan air secara berkelanjutan. Sebagian lahan baru memasuki masa persemaian. Sebagian lainnya sudah ditanami padi yang berumur sekitar 40 hari.
“Ini musim kemarau. Hujan sulit diharapkan, sehingga satu-satunya sumber irigasi berasal dari Sungai Juwana,” katanya.
Intrusi Air Laut Mengancam Sawah
Kamelan mengingatkan bahwa kebocoran bendung tidak hanya mengurangi cadangan air tawar. Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko masuknya air laut ke badan Sungai Juwana.
Jika intrusi terjadi, kadar garam akan meningkat. Petani tidak lagi dapat memanfaatkan air sungai untuk mengairi tanaman padi.
“Kalau air laut masuk, jelas tidak bisa dipakai mengairi tanaman padi,” tegasnya.
Ia memperkirakan kerugian petani dapat mencapai puluhan miliar rupiah apabila pemerintah tidak segera memperbaiki bendung tersebut. Saat ini nilai produksi gabah berkisar Rp40 juta hingga Rp50 juta per hektare. Sementara itu, biaya produksi yang telah dikeluarkan petani mencapai sekitar Rp25 juta per hektare.
Menurut Kamelan, kegagalan menjaga pasokan air akan berdampak langsung terhadap produktivitas pertanian. Jika kondisi terus berlanjut, ribuan hektare sawah berpotensi mengalami gagal panen jika Bendung Karet Jumawa ini tidak segera diperbaiki.
Masyarakat Minta Audit Menyeluruh
Juru Bicara Jaringan Masyarakat Peduli Sungai Juwana (Jampisawan), Ari Subekti, meminta pemerintah tidak hanya memperbaiki titik kebocoran. Ia menilai pemerintah harus mengaudit seluruh proyek agar penyebab kerusakan dapat diketahui secara menyeluruh.
“Kalau kerusakan terjadi sampai dua kali, tentu harus ada evaluasi total. Jangan hanya diperbaiki, tetapi dicari penyebab utamanya agar kejadian serupa tidak terus berulang,” ujar Ari.
Ia meminta pemerintah memeriksa kualitas konstruksi, spesifikasi material bendung karet, metode pemasangan, hingga prosedur pengoperasian bendung ketika debit sungai meningkat.
Ari juga menyoroti pengoperasian pintu bendung beberapa pekan lalu. Menurutnya, operator harus menghitung tekanan air secara tepat agar konstruksi tidak menerima beban yang melampaui batas kemampuan desain.
Pengamat Soroti Tata Kelola Infrastruktur
Pengamat kebijakan publik menilai kerusakan yang berulang pada proyek bernilai ratusan miliar rupiah harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh. Pemerintah perlu membuka hasil pemeriksaan kepada publik agar masyarakat mengetahui penyebab utama kerusakan dan langkah pencegahan yang akan dilakukan.
Di sisi lain, sejumlah akademisi bidang pertanian juga mengingatkan bahwa infrastruktur irigasi memegang peran penting dalam menjaga produktivitas pangan. Gangguan pada sistem irigasi dapat menurunkan hasil panen, mengurangi pendapatan petani, sekaligus memengaruhi stabilitas pasokan beras di daerah.
Ketua organisasi petani nasional juga berulang kali menekankan bahwa keberhasilan program ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada benih dan pupuk. Infrastruktur pengairan yang berfungsi baik tetap menjadi syarat utama agar petani dapat mempertahankan produksi.
Pemerintah Belum Menjelaskan Penyebab Kebocoran
Hingga berita ini tayang, petugas yang berjaga di lokasi Bendung Karet Juwana belum memberikan keterangan resmi mengenai penyebab kebocoran. Instansi yang bertanggung jawab juga belum mengumumkan jadwal perbaikan maupun langkah darurat untuk menjaga pasokan air selama proses penanganan berlangsung.
Warga berharap pemerintah bergerak cepat. Mereka menilai setiap hari keterlambatan akan memperbesar risiko kekeringan di lahan pertanian. Harapan itu muncul karena sebagian besar petani masih bergantung pada Sungai Juwana untuk menyelamatkan tanaman mereka selama musim kemarau.
Yang Dipertaruhkan Bukan Sekadar Air
Bagi ribuan petani di Kabupaten Pati, bendung bukan sekadar bangunan pengendali air. Infrastruktur tersebut menjadi penentu keberhasilan musim tanam. Ketika bendung gagal menahan air, sawah kehilangan sumber kehidupan. Jika pemerintah tidak segera mengambil langkah nyata, kerugian tidak hanya menimpa petani, tetapi juga dapat mengganggu produksi pangan di wilayah tersebut.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari besarnya nilai proyek. Infrastruktur publik harus mampu menjalankan fungsinya secara berkelanjutan. Karena itu, publik kini menunggu jawaban yang sederhana, tetapi sangat penting: mengapa bendung senilai Rp260 miliar kembali bocor hanya dalam dua tahun, dan bagaimana pemerintah memastikan kejadian serupa tidak kembali terulang?. @teguh







