Selasa, November 3, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

BMKG: Separuh Indonesia Masuk Kemarau, Ancaman Kekeringan Kian Meluas

by eko
Juli 14, 2026
in Reality
A A
Home Reality
BMKG menyebut 48,9 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sebanyak 92,64 persen wilayah diprakirakan mengalami curah hujan rendah, meningkatkan risiko kekeringan dan gangguan sektor pertanian.

Tabooo.id – Musim kemarau selalu datang tanpa suara. Langit memang tampak lebih cerah, tetapi di balik birunya langit, jutaan orang mulai menghadapi persoalan yang sama: air semakin sulit, tanah mulai retak, dan harapan para petani perlahan ikut mengering. Kemarau tidak pernah sekadar soal cuaca. Ia selalu menguji ketahanan hidup banyak orang.

Hampir Separuh Indonesia Mulai Mengering

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat hampir separuh wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau pada awal Juli 2026. Sebanyak 342 Zona Musim (ZOM) atau 48,9 persen kini berada dalam fase kemarau.

BMKG juga melihat penurunan curah hujan di hampir seluruh Indonesia. Pada Dasarian II Juli 2026, hujan diperkirakan hanya turun dalam kategori rendah di sebagian besar wilayah. Data BMKG menunjukkan 92,64 persen wilayah Indonesia berpotensi menerima curah hujan kurang dari 50 milimeter per dasarian.

Angka itu memperlihatkan satu kenyataan sederhana. Indonesia mulai kehilangan pasokan hujan secara bertahap.

Hari Tanpa Hujan Terus Bertambah

Kemarau tidak hanya terlihat dari langit yang bersih. BMKG juga mencatat peningkatan Hari Tanpa Hujan (HTH) di berbagai daerah.

Ini Belum Selesai

Ketika Polisi Dilarang Nge-Vape, Siapa yang Mengawasi Pengawas?

Banjir Lahar Dingin Semeru Jebol Tanggul, Akses Jalan Lumajang Terputus

Sebanyak 329 titik pengamatan mengalami HTH kategori sangat panjang dengan durasi 31 hingga 60 hari. Jumlah itu mencapai sekitar 6,77 persen dari seluruh titik pengamatan BMKG dan terus bertambah dibandingkan periode sebelumnya.

Semakin lama hujan tidak turun, semakin besar pula tekanan terhadap sumber air, lahan pertanian, hingga kawasan hutan yang rentan terbakar.

Udara Kering Menekan Pertumbuhan Awan

BMKG mengamati pergerakan massa udara kering dari selatan Indonesia melalui citra satelit terbaru. Massa udara itu bergerak dari Samudra Hindia menuju Jawa hingga Nusa Tenggara.

Udara kering tersebut membuat awan hujan sulit berkembang, terutama di wilayah selatan Indonesia seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Selain itu, fenomena El Niño masih bertahan di Samudra Pasifik. BMKG mencatat indeks Niño 3.4 berada di angka +1,25, sedangkan Southern Oscillation Index (SOI) mencapai -24,7.

Kombinasi kedua fenomena tersebut terus menekan peluang terbentuknya hujan di berbagai wilayah Indonesia.

Sebagian Besar Indonesia Menghadapi Hujan Minim

BMKG memperkirakan hujan kategori rendah akan mendominasi Indonesia sepanjang Dasarian II Juli 2026.

Hanya 0,04 persen wilayah Indonesia yang berpeluang menerima hujan kategori tinggi. Sementara itu, 7,32 persen wilayah masih berpotensi mengalami hujan kategori sedang. Sisanya, yaitu 92,64 persen, akan menghadapi hujan dengan intensitas rendah.

Kondisi tersebut mencakup sebagian besar wilayah Sumatra, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga sebagian Papua.

Meski begitu, BMKG tetap mengingatkan bahwa hujan lokal masih mungkin muncul. Aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan dampak tidak langsung Siklon Tropis Bavi masih mampu memicu hujan di sejumlah daerah.

Namun hujan itu hanya bersifat lokal dan belum cukup mengubah kondisi kemarau secara keseluruhan.

Yang Terancam Bukan Hanya Sawah

Kemarau selalu membawa cerita yang lebih panjang daripada sekadar berkurangnya hujan.

Petani mulai menghitung sisa air di saluran irigasi. Warga di sejumlah daerah mulai mengawasi debit sumur. Pemerintah daerah juga harus bersiap menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan.

Jika kondisi ini terus berlangsung, sektor pertanian akan menghadapi tekanan lebih besar. Produksi pangan dapat menurun, sementara biaya produksi meningkat karena kebutuhan irigasi bertambah. Pada akhirnya, masyarakat luas ikut merasakan dampaknya melalui harga bahan pangan yang semakin mahal.

Bagi sebagian orang di kota, kemarau mungkin hanya berarti udara terasa lebih panas. Namun bagi jutaan warga yang hidup dari hasil bumi, kemarau berarti pertaruhan terhadap penghasilan, persediaan air, dan keberlangsungan hidup keluarga.

Krisis Selalu Datang Perlahan

Kemarau tidak pernah datang seperti bencana yang tiba-tiba menghantam. Ia bergerak perlahan, tetapi dampaknya menjalar ke banyak sisi kehidupan.

Hari ini langit hanya terlihat lebih cerah. Beberapa minggu kemudian sawah mulai mengering. Setelah itu produksi pangan menurun, harga naik, dan masyarakat ikut menanggung akibatnya.

Inilah yang sering luput dari perhatian. Kemarau bukan sekadar pergantian musim. Kemarau menjadi pengingat bahwa perubahan iklim dan fenomena global terus mengubah cara Indonesia bertahan hidup. Ketika hujan semakin jarang turun, pertanyaan terbesarnya bukan lagi kapan musim hujan datang, melainkan seberapa siap kita menghadapi masa yang semakin kering.@eko

Tags: bmkgEl NiñoHujanKekeringanmusim kemarau

Kamu Melewatkan Ini

Hujan Ekstrem 349 Milimeter, Cilacap-Banyumas Dikepung Banjir dan Longsor

Hujan Ekstrem 349 Milimeter, Cilacap-Banyumas Dikepung Banjir dan Longsor

by dimas
Oktober 31, 2026

Hujan ekstrem mencapai 349 milimeter mengguyur Cilacap dan Banyumas. Banjir serta longsor melanda sejumlah wilayah, sementara BPBD terus melakukan pemantauan...

Pemalang Kering Tiga Bulan: 10.764 KK Menunggu Air, Ketahanan Sistem Diuji

Pemalang Kering Tiga Bulan: 10.764 KK Menunggu Air, Ketahanan Sistem Diuji

by teguh
September 26, 2026

Pemalang kering tiga bulan tanpa kepastian air mengubah kemarau menjadi persoalan sehari-hari bagi ribuan keluarga di Pemalang, Jawa Tengah. Tabooo.id...

Kekeringan Tiga Bulan di Pemalang, 10.764 KK Kini Bergantung pada Kiriman Air

Kekeringan Tiga Bulan di Pemalang, 10.764 KK Kini Bergantung pada Kiriman Air

by teguh
September 26, 2026

Kekeringan Tiga Bulan di Pemalang masih berlansung dan air bersih yang biasanya tinggal membuka keran kini berubah menjadi barang yang...

Next Post
Kemarau Meluas, Benarkah Indonesia Sudah Kekeringan?

Kemarau Meluas, Benarkah Indonesia Sudah Kekeringan?

Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id