Tabooo.id: Deep – Industri film Indonesia hidup di era data. Namun, kita masih bergerak tanpa peta yang jelas. Kita melihat angka penonton beredar di media sosial, tetapi kita tidak pernah benar-benar memahami siapa penontonnya, di mana mereka berada, dan apa yang mereka cari.
Masalahnya bukan pada ketersediaan data. Masalahnya terletak pada akses dan keterbukaan.
Data Tersebar, Sistem Tidak Terhubung
Pemerintah merancang Pusat Data Nasional Perfilman untuk menyatukan sistem. Tujuannya jelas: efisiensi, transparansi, dan integrasi.
Namun, implementasinya belum berjalan optimal.
Bioskop menyimpan data penonton secara mandiri. Platform OTT mengelola data pengguna dengan sistem tertutup. Sementara itu, lembaga pemerintah mengembangkan database masing-masing tanpa sinkronisasi yang kuat.
Akibatnya, tidak ada satu sistem yang benar-benar menyatukan semuanya.
Seorang praktisi film mengatakan:
“Semua pihak punya data. Tapi mereka memilih menyimpannya sendiri.”
Budaya Lama Masih Menghambat
Masalah utama tidak berasal dari teknologi. Masalahnya muncul dari cara berpikir yang belum berubah.
Banyak institusi masih menganggap data sebagai aset internal. Mereka ingin mengontrol, bukan berbagi.
Karena itu, integrasi berjalan lambat. Bahkan, beberapa pihak secara tidak langsung menolak perubahan.
Di sisi lain, pelaku industri terus mengambil keputusan tanpa dasar data yang kuat. Produser menebak tren. Distributor memperkirakan pasar. Kreator mengandalkan intuisi.
Konflik Kepentingan di Balik Data
Semua pihak sepakat bahwa digitalisasi penting. Namun, kepentingan berbeda mulai muncul ketika pembahasan masuk ke tahap implementasi.
Data berarti kekuasaan.
Karena itu, transparansi sering memicu kekhawatiran. Ketika data dibuka, performa akan terlihat jelas. Dan tidak semua pihak siap menghadapi realitas tersebut.
Situasi ini menciptakan konflik yang tidak selalu terlihat, tetapi nyata.
Dampaknya Langsung ke Penonton
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pemerintah atau industri. Penonton juga merasakan efeknya.
Tanpa data yang terbuka, kamu tidak memiliki referensi yang jelas tentang performa film nasional. Kamu juga tidak bisa menilai tren secara objektif.
Selain itu, industri akan terus bergerak tanpa arah yang presisi. Kreator akan mengulang pola lama karena tidak memiliki insight yang cukup.
Akhirnya, kamu akan terus melihat cerita yang terasa familiar, tetapi jarang berkembang.
Solusi Ada, Tapi Butuh Keputusan Tegas
Pemerintah perlu mempercepat penyusunan regulasi teknis. Selain itu, standar interoperabilitas harus segera diterapkan.
Namun, kebijakan saja tidak cukup.
Pemerintah perlu memberikan insentif bagi institusi yang mau berintegrasi. Di saat yang sama, tekanan regulasi juga harus diterapkan agar perubahan benar-benar terjadi.
Seorang analis kebijakan digital menyatakan:
“Tanpa dorongan kuat, integrasi hanya akan berhenti di konsep.”
Ini Soal Keberanian
Masalah ini bukan sekadar soal sistem.
Ini soal keberanian untuk membuka data, soal kesiapan untuk berbagi kontrol dan soal komitmen untuk menghadapi realitas.
Data bukan hanya angka. Data mencerminkan kondisi sebenarnya.
Penutup
Selama ini, kita sering membicarakan masa depan industri film Indonesia. Kita menyebut potensi besar dan peluang yang luas.
Namun tanpa data yang terbuka, semua itu hanya asumsi.
Pertanyaannya sekarang sederhana:
apakah kita siap melihat realita yang sebenarnya? @jeje







