Tabooo.id: Nasional – Hari ketiga pencarian pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan pegunungan Maros, Sulawesi Selatan, akhirnya membawa secercah kejelasan di tengah duka. Tim SAR gabungan menemukan sejumlah barang milik pramugari Esther Aprilita, mulai dari dompet, KTP, tablet, hingga buku catatan harian.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI M. Syafi’i menyampaikan temuan tersebut kepada DPR di Gedung Senayan, Jakarta, Selasa (20/1/2016). Menurutnya, tim langsung mengamankan seluruh barang di posko utama untuk kepentingan identifikasi serta pendalaman lanjutan.
Lebih dari sekadar temuan personal, barang-barang itu memperkuat indikasi lokasi jatuhnya pesawat bernomor registrasi PK-THT. Selain itu, temuan tersebut menandai kemajuan signifikan setelah dua hari pencarian sebelumnya terhambat medan ekstrem dan cuaca buruk.
Dua Korban Ditemukan, Medan Menjadi Musuh Utama
Memasuki hari ketiga operasi, tim SAR baru berhasil menemukan dua dari sepuluh korban. Tim menemukan satu korban laki-laki dan satu korban perempuan di lokasi berbeda. Medan terjal, hutan lebat, dan lereng curam membuat proses evakuasi berjalan lambat sekaligus berisiko tinggi bagi petugas.
Syafi’i menjelaskan bahwa serpihan pesawat tersebar luas, bahkan jarak antarpotongan mencapai sekitar 700 meter. Pada awalnya, kondisi tersebut membuat tim pesimistis melihat peluang penyelamatan. Namun, temuan korban dengan kondisi relatif utuh kembali menumbuhkan harapan, terutama dalam mengejar waktu emas penyelamatan.
“Kami terus berharap, dalam golden time ini, tim masih bisa menemukan korban dalam kondisi hidup,” ujar Syafi’i.
Cuaca Buruk Terus Menguji Operasi Penyelamatan
Sejak pagi, tim SAR gabungan mengintensifkan pencarian melalui jalur udara dan darat. Basarnas mengerahkan helikopter Caracal dan Dauphin, lalu menambah dukungan pesawat Boeing TNI AU untuk pemantauan dari udara. Namun, kabut tebal dan hujan deras memaksa sebagian armada kembali ke pangkalan demi keselamatan kru.
Meski demikian, upaya darat tetap berjalan. Pada siang hari, tim menemukan korban perempuan kedua sekitar 130 meter dari lokasi korban pertama. Selang beberapa jam kemudian, tim berhasil mengidentifikasi barang-barang milik Esther Aprilita di sekitar area pencarian.
Sayangnya, cuaca kembali memburuk menjelang sore. Kondisi tersebut memaksa tim menunda evakuasi kedua korban hingga keesokan hari, sembari memastikan keamanan personel di lapangan.
Keluarga Menunggu, Publik Bertanya
Di balik operasi penyelamatan yang berpacu dengan waktu, keluarga korban terus menggantungkan harapan. Bagi mereka, setiap barang yang tim temukan bukan sekadar benda, melainkan sinyal bahwa pencarian masih berlanjut dan harapan belum padam.
Pada saat yang sama, tragedi ini memunculkan kembali pertanyaan publik tentang keselamatan penerbangan di wilayah dengan kontur ekstrem. Masyarakat juga menyoroti kesiapan sistem mitigasi serta respons darurat ketika kecelakaan terjadi di medan sulit.
Memang, keluarga korban menjadi pihak yang paling terdampak. Namun, peristiwa ini juga mengguncang rasa aman penumpang pesawat di seluruh negeri.
Pada akhirnya, tragedi Maros kembali mengingatkan satu hal mendasar: teknologi mampu membawa manusia melintasi jarak dan waktu, tetapi di langit yang sama, alam tetap memegang kendali terakhir. @dimas




