Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pemerintah Bantah Teror Ketua BEM UGM, Pigai: Tidak Mungkin dari Kami

by dimas
Februari 21, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai memastikan pemerintah tidak melakukan teror terhadap Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Adrianto, maupun keluarganya. Ia menyampaikan pernyataan itu secara langsung di Gedung Kementerian HAM, Jakarta, pada Jumat (20/2/2026).

Pigai menolak keras dugaan yang mengaitkan pemerintah dengan intimidasi tersebut. Karena itu, ia menegaskan pemerintah tidak mungkin menjadi pelaku.

“Saya pastikan pemerintah tidak mungkin menjadi sumber teror ini,” ujar Pigai.

Selain itu, Pigai mengaku belum melihat secara langsung bentuk ancaman yang dialami Tiyo. Ia juga belum mengantongi informasi tentang pelaku. Menurut dia, pemerintah tidak memiliki alasan untuk melakukan tindakan seperti itu.

Presiden Tekankan Hukum Harus Lindungi, Bukan Menekan

Pigai kemudian mengutip sikap Presiden Prabowo Subianto yang menolak penggunaan hukum sebagai alat kekuasaan. Ia menjelaskan bahwa pemerintah harus melindungi hak warga, bukan membungkam kritik.

Ini Belum Selesai

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

“Presiden menegaskan penguasa tidak boleh memakai hukum untuk kepentingan pribadi atau menekan hak asasi manusia. Pemerintah tidak akan membungkam warga,” tambahnya.

Melalui pernyataan ini, Pigai ingin memperjelas posisi pemerintah. Ia menekankan bahwa negara harus menjaga kebebasan berpendapat, terutama di lingkungan kampus yang selama ini menjadi ruang kritik.

Ancaman Muncul Setelah Tiyo Angkat Kasus Sensitif

Sementara itu, Tiyo Adrianto mulai menerima ancaman setelah ia menyuarakan kasus bunuh diri seorang anak di Nusa Tenggara Timur. Ia aktif menyampaikan kritik melalui berbagai media, sehingga suaranya cepat menyebar ke publik.

Namun, setelah itu, situasi berubah.

Pada 9 hingga 11 Februari 2026, seseorang mengirim pesan ancaman penculikan dari nomor tak dikenal.

“Saya menerima pesan ancaman penculikan dari nomor yang tidak saya kenal,” ujar Tiyo.

Ancaman tidak berhenti di situ. Dua pria juga menguntit Tiyo saat ia berada di sebuah kedai pada 11 Februari 2026. Tiyo melihat mereka memotret dirinya dari kejauhan.

“Mereka menguntit dan mengambil foto dari jauh,” tambahnya.

Tiyo dan rekannya sempat mengejar kedua pria itu. Namun, mereka langsung melarikan diri dan menghilang.

Mahasiswa Hadapi Risiko Saat Menyuarakan Kritik

Kasus ini menunjukkan risiko nyata yang dihadapi mahasiswa ketika menyuarakan kritik. Tiyo sendiri menduga kritik yang ia sampaikan memicu reaksi pihak tertentu.

“Apa yang saya sampaikan mungkin membuat pihak tertentu tidak nyaman,” pungkasnya.

Situasi ini tidak hanya berdampak pada Tiyo. Mahasiswa lain juga ikut merasakan kekhawatiran. Mereka melihat ancaman bisa muncul setelah seseorang berbicara lantang di ruang publik.

Akibatnya, rasa aman di lingkungan akademik ikut terganggu.

Demokrasi Diuji oleh Rasa Takut

Kasus ini membuka pertanyaan besar tentang keamanan bagi suara kritis. Pemerintah memang membantah keterlibatan, tetapi rasa takut sudah terlanjur muncul.

Demokrasi sejatinya memberi ruang bagi kritik. Namun, ketika ancaman mengikuti suara mahasiswa, publik mulai bertanya: siapa sebenarnya yang takut pada suara itu? @dimas

Tags: AktivisBerpendapatDemokrasiHak Asasi ManusiaIntimidasiIsuKeamanan NegaraKebebasanketuaMahasiswaNasionalNatalius PigaiPrabowo SubiantoSuara

Kamu Melewatkan Ini

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

Kenapa Kota Kita Makin Penuh Coffee Shop Tapi Miskin Ruang Dialog?

by jeje
Mei 13, 2026

Di banyak kota, aroma kopi kini terasa lebih mudah ditemukan di coffee Shop daripada ruang bicara yang jujur. Sudut jalan...

Sekolah Rakyat dan Mimpi Anak Miskin: Pendidikan Putus Rantai Kemiskinan?

Sekolah Rakyat dan Mimpi Anak Miskin: Pendidikan Putus Rantai Kemiskinan?

by teguh
Mei 13, 2026

Di banyak sudut Nusa Tenggara Timur (NTT), sekolah tidak selalu terasa dekat dengan mimpi. Bagi sebagian anak, ruang kelas justru...

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

Profil Dandhy Laksono: Jurnalis yang Memilih Bertanya Saat Banyak Orang Diam

by jeje
Mei 12, 2026

Dandhy Laksono kembali jadi sorotan. Bukan karena kontroversi biasa, tetapi karena film dokumenternya, Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, memicu rasa...

Next Post
Toko Emas Legendaris di Nganjuk Terseret Kasus Pencucian Uang

Toko Emas Legendaris di Nganjuk Terseret Kasus Pencucian Uang

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id