Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pembalakan Liar, Banjir, dan Komitmen Negara di Sumatra

by dimas
Desember 13, 2025
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Air masih menggenang di halaman rumah itu. Lumpur menempel di dinding, setinggi lutut orang dewasa. Di sudut ruangan, sebuah kursi plastik terbalik, terseret arus yang datang tanpa aba-aba. Pada saat Presiden Prabowo Subianto berdiri di hadapan warga korban banjir di Sumatera Utara, Sabtu itu, suasana terasa berat dan senyap.

Tak ada pidato panjang. Retorika pun tak mengalir berlapis-lapis. Yang terlihat justru wajah-wajah lelah dan mata yang menunggu kepastian.

Banjir memang selalu datang setiap musim hujan. Namun kali ini, air turun jauh lebih cepat. Arus pun melaju lebih deras. Akibatnya, dampak yang ditinggalkan terasa jauh lebih merusak. Karena itu, publik kembali menyebut satu istilah lama yang tak pernah benar-benar selesai pembalakan liar.

Di hadapan kamera, Prabowo memilih kalimat singkat dan tegas.
“Pembalakan liar akan kita tertibkan. Sudah kita mulai tertibkan.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Meski begitu, maknanya di lapangan jauh lebih rumit.

Ini Belum Selesai

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

Pusaka Milik Raja atau Dinasti? Konflik Lama Karaton Solo yang Tak Pernah Selesai

Ketika Alam Tak Lagi Menyimpan Rahasia

Sumatra bukan wilayah tanpa sejarah luka. Selama dua dekade terakhir, hutan terus menyusut. Pada saat yang sama, jalan logging bertambah. Sementara itu, izin tumbuh lebih cepat daripada pepohonan. Akibatnya, setiap hujan deras selalu membawa ancaman.

Karena kondisi itulah, banjir kali ini terasa berbeda. Air tidak hanya membawa lumpur. Bersamaan dengan itu, arus juga menyeret kayu-kayu gelondongan. Bahkan, sisa-sisa hutan ikut terbawa, seolah alam sedang membuka rahasianya sendiri.

Kini, pemerintah mencoba mengubah arah. Prabowo menegaskan bahwa negara tengah menertibkan perusahaan yang beroperasi tanpa izin legal. Selain itu, ia menekankan bahwa langkah ini bukan reaksi sesaat, melainkan proses yang terus berjalan.

Di sisi lain, pemerintah memperkuat koordinasi lintas instansi. Aparat penegak hukum turun ke lapangan. Pengawasan pun diperketat. Namun demikian, banjir tidak pernah menunggu proses birokrasi. Air selalu datang lebih dulu.

Dua Belas Nama di Balik Air Bah

Beberapa hari sebelum kunjungan Presiden, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni membuka fakta penting. Dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, ia menyebut 12 subjek hukum yang terindikasi berkontribusi terhadap banjir di Sumatra Utara.

“Gakkum Kehutanan menemukan indikasi pelanggaran di 12 lokasi,” ujarnya.

Angka itu langsung memantik perhatian publik. Wilayah Batang Toru disebut berulang kali. Kawasan yang selama ini dikenal sebagai benteng terakhir ekosistem penting kini justru muncul dalam laporan pelanggaran.

Sementara itu, Direktorat Penegakan Hukum Kementerian Kehutanan masih melanjutkan inventarisasi. Mereka menelusuri dugaan pelanggaran di Aceh, Sumatera Barat, serta wilayah lain yang terdampak banjir. Dengan demikian, daftar ini belum selesai. Bahkan, angka dua belas bisa saja bertambah.

Ketika Warga Berhadapan dengan Arus

Di desa-desa terdampak, warga tidak membicarakan izin PBPH atau subjek hukum. Sebaliknya, mereka mengingat malam tanpa tidur. Mereka masih mendengar suara air yang datang tiba-tiba. Dalam ingatan itu pula, anak-anak digendong keluar rumah dalam gelap.

Seorang ibu di tepi sungai berkata lirih, “Dulu air naik pelan. Sekarang seperti mengejar.”

Di sungai, kayu-kayu besar tersangkut di jembatan. Sebagian masih berkulit. Sebagian tampak baru ditebang. Warga tidak lagi bertanya dari mana kayu itu berasal. Mereka sudah tahu. Namun, pertanyaan lain justru muncul: siapa yang akan bertanggung jawab?

Di titik inilah konflik batin menguat. Negara hadir membawa janji penertiban. Sementara itu, warga menyimpan harapan yang kerap patah di musim hujan sebelumnya.

Angka Izin dan Harapan yang Menggantung

Pemerintah kemudian memaparkan langkah konkret. Kementerian Kehutanan berencana mencabut sekitar 20 izin PBPH dengan luas mencapai 750 ribu hektare. Sebelumnya, kementerian telah mencabut 18 izin dengan total lebih dari 526 ribu hektare.

Di atas kertas, langkah ini tampak tegas. Angkanya besar. Dampaknya pun terlihat. Namun bagi warga di hilir sungai, pertanyaannya tetap sederhana: apakah hutan bisa pulih sebelum banjir berikutnya datang?

Selain itu, Kemenhut membentuk tim bersama Polri. Tim ini menelusuri asal kayu gelondongan yang terbawa arus banjir. Satgas Penertiban Kawasan Hutan ikut terlibat dalam proses tersebut. Dengan kata lain, negara mulai bergerak. Akan tetapi, alam sudah lebih dulu rusak.

Apa yang Tak Pernah Dibicarakan Sistem?

Di sinilah refleksi perlu berhenti sejenak. Selama ini, pembalakan liar sering diperlakukan sebagai kejahatan individual. Padahal, praktik itu tumbuh dari sistem yang longgar dan penuh celah.

Izin kerap tumpang tindih. Pengawasan sering melemah. Sanksi berjalan lambat. Akibatnya, pelanggaran terus berulang. Ketika banjir datang, perhatian publik meningkat. Kamera menyala. Janji pun keluar. Namun setelah air surut, ingatan perlahan ikut surut.

Tabooo melihat satu persoalan mendasar banjir bukan sekadar bencana alam, melainkan hasil dari keputusan manusia. Keputusan itu lahir di ruang rapat, jauh dari suara sungai dan rumah warga.

Oleh karena itu, penertiban hari ini hanya akan bermakna jika konsisten esok hari. Jika tidak, siklus lama akan kembali terulang.

Menunggu Keteguhan Negara

Pernyataan Prabowo memberi sinyal kuat. Negara ingin kembali mengendalikan, bukan sekadar menonton. Namun kehadiran itu harus bertahan lebih lama dari sorotan kamera.

Di Sumatra, air memang akan surut. Lumpur akan dibersihkan. Rumah akan dibangun kembali. Akan tetapi, hutan membutuhkan puluhan tahun untuk pulih.

Kini, pertanyaan berubah arah. Bukan lagi apakah negara mampu menertibkan pembalakan liar. Melainkan apakah negara mau bertahan ketika penertiban mulai menyentuh kepentingan besar.

Sebab di bawah setiap banjir, selalu ada hutan yang hilang. Dan di balik setiap janji penindakan, selalu ada ujian keberanian.

Air sudah berbicara.
Kini, negara harus menjawab dengan keteguhan yang konsisten, bukan sekadar kata. @dimas

Tags: Banjir SumatraKrisis LingkunganPenegakan HukumPrabowo Subianto

Kamu Melewatkan Ini

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

by dimas
Juni 9, 2026

Chatib Basri bertemu Prabowo selama dua jam di Istana. Apakah ini sekadar konsultasi ekonomi atau sinyal perubahan di Dewan Ekonomi...

Investasi Menjadi Kesejahteraan: Tantangan Terbesar di Balik Isu Reshuffle

Investasi Menjadi Kesejahteraan: Tantangan Terbesar di Balik Isu Reshuffle

by teguh
Juni 8, 2026

Investasi menjadi kesejahteraan adalah ujian terbesar yang sedang dihadapi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Di tengah ramainya spekulasi reshuffle kabinet, tantangan...

Nanik Dilantik Hari Ini, Tapi Apakah Korupsi di BGN Ikut Pergi?

Nanik Dilantik Hari Ini, Tapi Apakah Korupsi di BGN Ikut Pergi?

by dimas
Juni 8, 2026

Presiden Prabowo Subianto akan melantik Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN di tengah kasus korupsi MBG. Mampukah ia memulihkan kepercayaan...

Next Post
Evaluasi SOP MBG : Niat Baik Negara Justru Timbulkan Trauma

Evaluasi SOP MBG : Niat Baik Negara Justru Timbulkan Trauma

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id