Tabooo.id: Regional – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 2026, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi kembali turun langsung ke pasar. Pada Rabu (4/3/2026), ia memantau harga dan stok pangan di Pasar Gondang, Kabupaten Sragen.
Luthfi tidak sekadar berkeliling. Ia berdialog langsung dengan pedagang dan pembeli. Ia menanyakan harga bawang putih, bawang merah, telur ayam ras, hingga cabai rawit merah. Ia juga memastikan pasokan tetap tersedia di tengah lonjakan permintaan menjelang Lebaran.
Langkah ini bukan seremoni. Setiap Ramadan, harga pangan selalu menjadi isu sensitif. Kenaikan kecil saja bisa memicu keresahan, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah yang mengalokasikan sebagian besar pendapatannya untuk kebutuhan pokok.
Stok Aman, Harga Mulai Merangkak
Dari hasil pemantauan, pemerintah provinsi menilai stok pangan di pasar tradisional masih aman. Namun, sejumlah komoditas mulai menunjukkan kenaikan harga. Permintaan meningkat, distribusi mengetat, dan pedagang menyesuaikan harga.
Secara umum, Luthfi menilai kenaikan tersebut masih dalam batas wajar. Meski begitu, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam jika lonjakan melampaui Harga Acuan Pemerintah (HAP).
Beberapa komoditas tercatat sudah berada di atas HAP, seperti cabai rawit merah, tepung terigu curah, dan bawang putih. Selain itu, pemerintah juga mewaspadai pergerakan harga telur ayam ras, daging ayam ras, bawang merah, dan gula konsumsi yang biasanya naik tajam mendekati Lebaran.
Di titik inilah dampak ekonomi mulai terasa. Keluarga kelas menengah bawah menjadi pihak paling terdampak. Ketika harga cabai melonjak, pedagang kecil, warung makan, hingga ibu rumah tangga harus menyesuaikan belanja harian. Pada akhirnya, tekanan itu bisa merambat ke harga makanan jadi.
Cabai Tembus Rp90 Ribu per Kilogram
Seorang pedagang Pasar Gondang, Nur, mengaku kenaikan harga cabai cukup membebani pembeli. Saat ini, harga cabai rawit merah berkisar Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram.
Menurutnya, Ramadan biasanya justru menurunkan volume pembelian karena konsumen menahan belanja. Namun ketika harga naik, daya beli makin tertekan.
“Bawang merah dan bawang putih stabil tinggi, tapi yang mahal cabai rawit setan,” ujarnya.
Lonjakan cabai bukan sekadar isu dapur. Cabai sering menjadi pemicu inflasi pangan di Indonesia. Ketika harganya melambung, inflasi daerah bisa ikut terdorong. Jika kondisi itu terjadi serentak di banyak wilayah, dampaknya bisa terasa hingga ke angka inflasi nasional.
Intervensi Pemerintah dan Peran BUMD
Untuk menjaga stabilitas harga, Luthfi meminta PT Jateng Agro Berdikari segera melakukan intervensi jika terjadi lonjakan tidak wajar. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menggencarkan program subsidi dan pasar murah.
Hingga awal Maret 2026, Gerakan Pangan Murah (GPM) telah digelar sebanyak 309 kali di berbagai daerah. Selain itu, pemerintah menyalurkan tiga ton subsidi cabai ke 15 kabupaten dengan lonjakan harga tertinggi.
Langkah intervensi ini penting, terutama untuk menjaga daya beli masyarakat menjelang Lebaran. Sebab pada periode ini, pengeluaran rumah tangga meningkat untuk kebutuhan konsumsi, mudik, dan persiapan hari raya.
Jika harga pangan tidak terkendali, maka tekanan ekonomi akan terasa paling berat bagi pekerja sektor informal dan buruh harian yang pendapatannya tidak tetap.
Ujian Stabilitas di Musim Lebaran
Pemerintah daerah kini menghadapi ujian klasik menjaga keseimbangan antara pasokan, harga, dan daya beli. Di satu sisi, petani dan distributor membutuhkan harga yang menguntungkan. Di sisi lain, konsumen berharap harga tetap terjangkau.
Pantauan langsung gubernur memberi sinyal bahwa pemerintah ingin hadir di tengah pasar. Namun pasar memiliki logikanya sendiri permintaan naik, harga mengikuti.
Menjelang Lebaran, publik tentu berharap harga tetap stabil. Sebab bagi banyak keluarga, momen hari raya bukan hanya soal tradisi, tetapi juga soal kemampuan bertahan di tengah tekanan biaya hidup. Dan seperti biasa, yang diuji bukan hanya stok pangan melainkan ketahanan dompet warga. @dimas





