Tabooo.id: Deep – Keindahan yang Masih Bertahan, Tapi Tidak Lagi Utuh
Langit masih indah. Matahari turun perlahan di ufuk barat. Orang-orang datang, berjalan, bermain, tertawa. Dari jauh, Bali masih terlihat seperti yang kita jual ke dunia.
Namun, saat kamu mendekat, realitanya berubah.
Di bawah kaki, pasir putih tergantikan oleh lapisan sampah. Plastik, kayu, dan sisa-sisa yang kehilangan makna. Laut datang membawa ombak, sekaligus mengembalikan apa yang kita buang.
Masalah yang Terlihat, Tapi Kita Biasakan
Ironisnya, semua ini terjadi di tempat yang paling sering kita banggakan.
Pantai Kuta bukan sekadar destinasi. Ia simbol. Ia wajah depan. Hari ini, wajah itu terlihat lelah. Bukan karena kehilangan pesona, tetapi karena kita membiarkannya menanggung beban terlalu lama.
Masalah ini bukan sekadar soal sampah. Kita menciptakan masalah ini saat kita membiasakan hal yang seharusnya mengganggu.
Dan di titik itu, masalah mulai tumbuh tanpa kita sadari.
Ketika Salah Jadi Kebiasaan
Saat kita menganggap sesuatu yang salah sebagai hal biasa, kita kehilangan kepekaan.
Fenomena sampah laut bukan hal baru. Setiap musim datang, pola yang sama kembali muncul. Namun, kita jarang berhenti untuk bertanya dengan jujur: kenapa ini terus terjadi?
Apakah sistem belum bekerja maksimal? Atau kita sendiri yang belum mau berubah? Atau kita sengaja memilih untuk tidak terlalu peduli?
Pertanyaan ini tidak nyaman. Tapi justru itu yang penting.
Laut Tidak Pernah Bohong
Ia tidak menciptakan sampah. Ia hanya mengembalikan.
Kita hidup di dekatnya, tetapi kita juga yang terus mengisinya dengan sisa, Kita ingin pantai tetap indah, tetapi kita masih meninggalkan jejak dan Kita ingin pariwisata hidup, tetapi kita lupa menjaga fondasinya.
Di sini, kontradiksi terlihat jelas.
Tabu yang Kita Lihat, Tapi Tidak Kita Pahami
Dalam cara berpikir Tabooology, kita tidak menghindari tabu. Kita membacanya. Sampah ini adalah “tabu visual” yang selalu muncul di depan mata, tetapi jarang kita pahami secara utuh.
Ini bukan sekadar kotor.
Ini sinyal.
Sinyal bahwa ada yang keliru dalam cara kita hidup, cara kita mengonsumsi, dan cara kita bertanggung jawab.
Pertanyaan yang Harus Kita Hadapi
Pantai ini tidak berubah dalam semalam.
Kita mengubahnya, sedikit demi sedikit. Kita melakukannya lewat kebiasaan kecil yang kita ulang tanpa pikir panjang.
Jadi mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukan lagi:
“Kenapa pantai ini kotor?”
Tapi: Seberapa lama kita mau terus melihat, tanpa benar-benar berubah?



