Tabooo.id: Film – Pernah ngerasa hidup kayak film yang disutradarai semesta tapi tanpa skrip cadangan? Kira-kira kayak gitu vibe-nya Pangku, film debut Reza Rahadian sebagai sutradara, yang sukses bikin penonton di Busan International Film Festival (BIFF) 2025 nyesek berjamaah. Bayangin aja, baru tayang perdana udah langsung borong empat penghargaan internasional. Gila nggak?
Dari Busan ke Pantura: Cerita yang Nggak Sekadar “Kopi dan Pangkuan”
Disutradarai Reza Rahadian dan diproduseri Arya Ibrahim bareng Gita Fara, Pangku alias On Your Lap bercerita tentang Sartika (Claresta Taufan), ibu hamil besar yang kepepet cari kerja di tengah krisis moneter 1998. Dunia runtuh, harga naik, tapi hidup harus lanjut. Nasib membawanya ke warung kopi milik Maya (Christine Hakim), bukan warung biasa, karena ada “tradisi kopi pangku”: pelanggan disajikan kopi sambil… ya, dipangku.
Sartika terjebak dalam sebuah dilema, antara moral dan perut, antara cinta dan bertahan hidup. Lalu muncul Hadi (Fedi Nuril), sopir langganan warung yang jadi oase kecil di hidup Sartika yang getir. Sementara anaknya, Bayu (Shakeel Fauzi), dan temannya Gilang (Devano Danendra), jadi simbol kebebasan kecil di dunia orang dewasa yang sudah terlalu penat buat bermimpi.
Poster Manis, Cerita Pedih
Poster filmnya aja udah “baper trap”, Claresta duduk di pangkuan Fedi Nuril dengan senyum samar, sementara Christine Hakim di belakangnya menatap lembut sambil memegang anak kecil. Lampu temaram, suasana hangat, tapi ada kesedihan yang nggak diucapkan. Trailer-nya? Diiringi lagu Rayuan Perempuan Gila dari Nadin Amizah, bikin suasana makin sendu tapi indah.
Reza bilang, “Apa yang dialami Sartika adalah upaya bertahan hidup. Tidak ada waktu untuk mengasihani diri sendiri.” Dan kita tahu, kalimat itu bisa jadi mantra hidup banyak ibu di dunia nyata.
Dari Krisis ke Refleksi: Film yang Bikin Kita Lihat Ulang “Ibu”
Yang bikin Pangku terasa ngena adalah karena ini bukan sekadar drama “perempuan tangguh”. Ini potret brutal dari realita sosial: ketika krisis menelanjangi martabat, dan perempuan sering kali yang harus menanggung beban paling berat.
Tradisi kopi pangku di film ini bukan erotisasi, tapi metafora — tentang bagaimana tubuh perempuan sering dijadikan alat bertahan hidup di dunia yang nggak adil.
Ironisnya, justru dari situ muncul solidaritas, kasih, dan kekuatan yang nggak bisa dibeli.
Film ini adalah surat cinta Reza untuk ibunya — dan mungkin untuk semua perempuan yang pernah memilih bertahan meski dunia bilang menyerah.
Dunia Memuji, Kita Menangis Diam-Diam
Kritikus di Asian Movie Pulse menulis, “Claresta Taufan tampil luar biasa. Chemistry-nya dengan Christine Hakim berada di level tertinggi.”
Bahkan programmer BIFF, Park Sungho, menyebut film ini punya “pandangan pedih tentang perjuangan intim seorang perempuan.”
Dengan kata lain: dunia melihat kita, lewat kisah yang selama ini kita anggap terlalu “tabu” untuk dibicarakan.
Film yang Dekat di Hati, Nggak Butuh Plot Twist
Pangku tayang di bioskop Indonesia mulai 6 November 2025. Tapi lebih dari sekadar tontonan, film ini adalah cermin tentang cinta, krisis, dan keberanian hidup yang kadang cuma diselipkan di secangkir kopi hangat.
Jadi nanti waktu kamu duduk di warung kopi dan lihat ibu-ibu kerja lembur sambil senyum tipis, mungkin kamu akan ingat Sartika, dan sadar, beberapa pahlawan nggak butuh jubah, cukup sabar dan segelas kopi. @tabooo




