Selasa, Oktober 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pamer Kebaikan di Tengah Bencana: Nurani atau Algoritma?

by dimas
Desember 8, 2025
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Talk – Pernah nggak sih kamu merasa semakin banyak orang bersedekah, tapi empati nyata justru makin jarang terlihat? Kita ngomongin bencana banjir dan tanah longsor yang menimpa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat baru-baru ini. Tragedi ini mestinya bikin kita peduli, tapi beberapa orang malah berpikir, “Wah, momen ini pas banget buat pamer kebaikan di depan kamera.”

Sadar nggak, nalar berpikir semacam itu sebenarnya klasik alias homo economicus banget. Orang menghitung: kalau saya kasih bantuan, saya bakal dapat apa? Publik tahu saya baik, followers naik, likes nambah, dan self-reward instan di otak langsung menyala. Fenomena ini bikin geleng-geleng kepala sekaligus menampar prinsip gotong-royong yang seharusnya melekat di bangsa ini.

Altruisme Timbal Balik: Kebaikan yang Menghitung Imbalan

Fenomena “kedermawanan hitung-hitungan” dalam psikologi evolusi disebut altruisme timbal balik. Robert Trivers menjelaskan lewat artikelnya The Evolution of Reciprocal Altruism (1971) bahwa altruisme nggak selalu murni. Kadang orang berharap mendapat imbalan di masa depan, bukan hanya dari kerabat, tetapi dari siapa saja yang bisa menaruh budi. Dalam konteks bencana Sumatera, “imbalan” itu sering muncul sebagai citra diri sebagai orang baik di mata publik.

Contohnya gampang ditemui. Para influencer dan tokoh berbondong-bondong membagikan uang, sembako, atau barang, tapi mereka selalu mengabadikan momen itu di kamera. Mereka sebenarnya bisa membantu diam-diam, tapi… di mana dramanya kalau nggak dipublikasikan? Akibatnya, tragedi kemanusiaan berubah jadi panggung. Padahal, saudara-saudara kita yang terdampak banjir membutuhkan empati, akses bantuan, dan kelangsungan hidup yang layak, bukan kamera.

Dokumentasi atau Pencitraan?

Tentu, ada perspektif lain. Beberapa orang berargumen “Daripada nggak ada dokumentasi sama sekali, mending publik tahu. Siapa tahu orang lain terinspirasi ikut membantu.” Betul, argumen ini valid. Namun, jika motivasi utama adalah self-branding ketimbang kemanusiaan, masalahnya nyata. Perbedaan tipis antara inspirasi dan pencitraan kadang tidak kita sadari, tetapi efeknya jelas: tragedi kemanusiaan menjadi ajang pencitraan yang absurd.

Ini Belum Selesai

Langit Oranye, Napas Terancam: Kabut Asap Uji Tanggung Jawab Negara

Mengapa Publik Makin Skeptis terhadap Janji Pejabat?

Tanggung Jawab Kita Sebagai Publik

Tabooo.id berpikir begini: berderma itu sah-sah saja, malah dianjurkan. Namun, kalau tindakan itu cuma demi “likes” atau “good karma instan,” kita hanya terjebak logika pasar, bukan nurani kemanusiaan. Penyakit budaya semacam ini mudah dideteksi, tapi sulit diobati. Oleh karena itu, kita perlu mendorong partisipasi komunal, sikap empati, dan prinsip “bantu karena harus membantu, bukan karena kamera ada.”

Indonesia tetap luar biasa dermawannya. World Giving Index 2024 menempatkan kita di puncak dunia dengan skor 74 dari 100. Kita masih punya kapasitas untuk peduli, tetapi cara mengekspresikannya perlu dikritisi. Saat ini, tanggung jawab kita bukan sekadar ikut pamer kebaikan di media sosial. Kita harus membuka akses ke lokasi bencana, memastikan logistik sampai, dan melakukan pemulihan pascabencana dengan tepat. Infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan tata kelola lingkungan harus kita bangun ulang secara sistematis.

Ironi Bencana: Deforestasi dan Alih Fungsi Lahan

Ironi terbesar muncul dari praktik deforestasi dan alih fungsi lahan yang memicu longsor dan banjir. Sementara sebagian orang sibuk berebut foto dan likes, hutan-hutan di hulu sungai hilang, dan ekosistem rusak. Pemerintah memang harus bergerak cepat, tetapi kita juga tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus mengawal kebijakan pascabencana, mendorong konservasi, dan menjaga bumi sebagai tanggung jawab kolektif.

Pilihan Moral Kita

Lalu, kamu di kubu mana? Yang suka pamer kebaikan demi eksistensi digital, atau yang masih percaya bahwa derma sejati itu diam-diam, tulus, dan fokus pada mereka yang menderita? Di tengah banjir dan tanah longsor ini, pilihan itu lebih dari sekadar moral. Pilihan itu menentukan bagaimana kita ingin bangsa ini menjaga nurani kemanusiaan. @dimas

Tags: Banjir Sumatera

Kamu Melewatkan Ini

Banjir, Longsor, dan Gugatan: Ketika Warga Sumatera Melawan Negara

Banjir, Longsor, dan Gugatan: Ketika Warga Sumatera Melawan Negara

by dimas
Mei 10, 2026

Banjir, Longsor, dan Gugatan menjadi rangkaian peristiwa yang kini menandai bencana ekologis Sumatera 2025, ketika jutaan korban terdampak tidak hanya...

Banjir Sumatera Genap Sebulan: Korban Tewas Capai 1.135 Orang

Banjir Sumatera Genap Sebulan: Korban Tewas Capai 1.135 Orang

by dimas
Desember 26, 2025

Tabooo.id: Nasional - Banjir yang melanda Sumatera kini genap sebulan, namun kesedihan warga masih terasa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)...

Natal 2025: Umat Katolik Patungan untuk Korban Banjir Sumatera

Natal 2025: Umat Katolik Patungan untuk Korban Banjir Sumatera

by dimas
Desember 25, 2025

Tabooo.id: Nasional - Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo menegaskan bahwa umat Katolik di seluruh Indonesia bergerak bersama membantu korban...

Next Post
Dari Tauco ke Dunia: Inovasi Kecil yang Membesarkan Mimpi Yeti

Dari Tauco ke Dunia: Inovasi Kecil yang Membesarkan Mimpi Yeti

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id