Tabooo.id: Talk – Pernah nggak sih kamu merasa semakin banyak orang bersedekah, tapi empati nyata justru makin jarang terlihat? Kita ngomongin bencana banjir dan tanah longsor yang menimpa Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat baru-baru ini. Tragedi ini mestinya bikin kita peduli, tapi beberapa orang malah berpikir, “Wah, momen ini pas banget buat pamer kebaikan di depan kamera.”
Sadar nggak, nalar berpikir semacam itu sebenarnya klasik alias homo economicus banget. Orang menghitung: kalau saya kasih bantuan, saya bakal dapat apa? Publik tahu saya baik, followers naik, likes nambah, dan self-reward instan di otak langsung menyala. Fenomena ini bikin geleng-geleng kepala sekaligus menampar prinsip gotong-royong yang seharusnya melekat di bangsa ini.
Altruisme Timbal Balik: Kebaikan yang Menghitung Imbalan
Fenomena “kedermawanan hitung-hitungan” dalam psikologi evolusi disebut altruisme timbal balik. Robert Trivers menjelaskan lewat artikelnya The Evolution of Reciprocal Altruism (1971) bahwa altruisme nggak selalu murni. Kadang orang berharap mendapat imbalan di masa depan, bukan hanya dari kerabat, tetapi dari siapa saja yang bisa menaruh budi. Dalam konteks bencana Sumatera, “imbalan” itu sering muncul sebagai citra diri sebagai orang baik di mata publik.
Contohnya gampang ditemui. Para influencer dan tokoh berbondong-bondong membagikan uang, sembako, atau barang, tapi mereka selalu mengabadikan momen itu di kamera. Mereka sebenarnya bisa membantu diam-diam, tapi… di mana dramanya kalau nggak dipublikasikan? Akibatnya, tragedi kemanusiaan berubah jadi panggung. Padahal, saudara-saudara kita yang terdampak banjir membutuhkan empati, akses bantuan, dan kelangsungan hidup yang layak, bukan kamera.
Dokumentasi atau Pencitraan?
Tentu, ada perspektif lain. Beberapa orang berargumen “Daripada nggak ada dokumentasi sama sekali, mending publik tahu. Siapa tahu orang lain terinspirasi ikut membantu.” Betul, argumen ini valid. Namun, jika motivasi utama adalah self-branding ketimbang kemanusiaan, masalahnya nyata. Perbedaan tipis antara inspirasi dan pencitraan kadang tidak kita sadari, tetapi efeknya jelas: tragedi kemanusiaan menjadi ajang pencitraan yang absurd.
Tanggung Jawab Kita Sebagai Publik
Tabooo.id berpikir begini: berderma itu sah-sah saja, malah dianjurkan. Namun, kalau tindakan itu cuma demi “likes” atau “good karma instan,” kita hanya terjebak logika pasar, bukan nurani kemanusiaan. Penyakit budaya semacam ini mudah dideteksi, tapi sulit diobati. Oleh karena itu, kita perlu mendorong partisipasi komunal, sikap empati, dan prinsip “bantu karena harus membantu, bukan karena kamera ada.”
Indonesia tetap luar biasa dermawannya. World Giving Index 2024 menempatkan kita di puncak dunia dengan skor 74 dari 100. Kita masih punya kapasitas untuk peduli, tetapi cara mengekspresikannya perlu dikritisi. Saat ini, tanggung jawab kita bukan sekadar ikut pamer kebaikan di media sosial. Kita harus membuka akses ke lokasi bencana, memastikan logistik sampai, dan melakukan pemulihan pascabencana dengan tepat. Infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dan tata kelola lingkungan harus kita bangun ulang secara sistematis.
Ironi Bencana: Deforestasi dan Alih Fungsi Lahan
Ironi terbesar muncul dari praktik deforestasi dan alih fungsi lahan yang memicu longsor dan banjir. Sementara sebagian orang sibuk berebut foto dan likes, hutan-hutan di hulu sungai hilang, dan ekosistem rusak. Pemerintah memang harus bergerak cepat, tetapi kita juga tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus mengawal kebijakan pascabencana, mendorong konservasi, dan menjaga bumi sebagai tanggung jawab kolektif.
Pilihan Moral Kita
Lalu, kamu di kubu mana? Yang suka pamer kebaikan demi eksistensi digital, atau yang masih percaya bahwa derma sejati itu diam-diam, tulus, dan fokus pada mereka yang menderita? Di tengah banjir dan tanah longsor ini, pilihan itu lebih dari sekadar moral. Pilihan itu menentukan bagaimana kita ingin bangsa ini menjaga nurani kemanusiaan. @dimas






