• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Deep

Ogoh-Ogoh: Saat Manusia Mengarak Ketakutannya Sendiri di Tengah Jalan

Maret 19, 2026
in Deep
A A
Ogoh-Ogoh: Saat Manusia Mengarak Ketakutannya Sendiri di Tengah Jalan

Ogoh-Ogoh "Satya Ning Caraka" by Banjar Legian Kulod, Bali. (Dok. Tabooo Network Indonesia )

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Deep – Asap dupa naik, api bergetar, dan malam langsung terasa tegang. Di tengah jalan, ogoh-ogoh berdiri tinggi, bukan sekadar patung, tapi sesuatu yang terasa hidup. Orang-orang mengelilinginya, berteriak, tertawa, dan mengabadikan momen itu.

Tapi malam itu bukan cuma soal perayaan.
Malam itu tentang sesuatu yang lebih jujur: manusia sedang memperlihatkan sisi gelapnya sendiri.

Ritual yang Berubah Arah

Secara tradisi, masyarakat Bali membuat ogoh-ogoh untuk merepresentasikan Bhuta Kala, energi negatif yang harus dilepaskan. Mereka lalu mengaraknya keliling desa, kemudian membakarnya sebagai simbol penyucian.

Namun sekarang, maknanya mulai bergeser.

Ogoh-ogoh tidak lagi sekadar simbol spiritual. Ia berubah jadi panggung. Komunitas berlomba membuat bentuk paling besar, paling detail, paling mencolok. Kamera menyala di mana-mana. Sorak-sorai menggantikan keheningan.

Akibatnya, ritual perlahan berubah jadi pertunjukan.

Dari Mengusir, Menjadi Menikmati

Dulu, masyarakat mengarak ogoh-ogoh untuk menyingkirkan energi buruk.
Sekarang, banyak orang justru menikmatinya.

Ironisnya, kita tidak lagi terburu-buru membakar kegelapan. Kita malah memotretnya, merekamnya, lalu menyebarkannya.

Fenomena ini terasa familiar, kan?

Kemarahan jadi konten.
Kesedihan jadi estetika.
Kekacauan jadi tontonan.

Kita tidak benar-benar menyelesaikan masalah. Kita hanya mengemasnya supaya terlihat menarik.

Di Balik Keramaian, Ada Manusia

Meski begitu, kita tidak bisa mengabaikan satu hal: ogoh-ogoh tetap lahir dari kerja keras manusia.

Anak-anak muda begadang berbulan-bulan. Komunitas banjar bergotong royong. Seniman lokal menuangkan imajinasi mereka tanpa batas.

Di titik ini, ogoh-ogoh bukan cuma simbol gelap. Ia juga jadi simbol kreativitas dan identitas.

Namun pertanyaannya tetap menggantung:
apakah kita masih memahami maknanya, atau hanya menikmati prosesnya?

Kita Adalah Ogoh-Ogoh Itu

Kalau kita jujur, ogoh-ogoh sebenarnya bukan tentang makhluk mitologi.

Ia tentang kita.

Tentang ego yang sulit dikendalikan, amarah yang terus dipelihara dan ketakutan yang tidak pernah benar-benar kita hadapi.

Kita membentuknya, mengaraknya, dan kita rayakan.

Lalu, kita berharap api bisa menyelesaikan semuanya.

Padahal, yang terbakar hanya bentuknya, bukan sifatnya.

Antara Budaya dan Tontonan

Hari ini, ogoh-ogoh berdiri di dua dunia sekaligus.

Di satu sisi, ia tetap menjadi bagian dari ritual sakral.
Namun di sisi lain, ia masuk ke ruang publik digital, menjadi konten, menjadi hiburan, bahkan menjadi identitas visual Bali di mata dunia.

Masalahnya bukan pada perubahan. Budaya memang selalu bergerak.

Tapi yang perlu kita tanyakan:
apakah makna masih ikut bergerak, atau justru tertinggal?

Lalu, Apa yang Sebenarnya Kita Bakar?

Setiap tahun, api melahap ogoh-ogoh sampai jadi abu. Orang-orang bersorak. Ritual selesai.

Namun setelah itu, hidup kembali berjalan seperti biasa.

Amarah tetap ada.
Ego tetap tumbuh.
Ketakutan tetap tinggal.

Jadi, apa yang sebenarnya kita bakar?

Ogoh-ogoh mungkin hilang dalam semalam.
Tapi sisi gelap manusia tidak pernah benar-benar pergi.

RelatedPosts

Gelombang Tidak Salah, Tapi Cara Pikir Kamu Yang Salah!

Manusia Mesin: Teknologi, Kekuasaan, dan Manusia Kehilangan Batas

Dan mungkin, di situlah letak kejujurannya.

Karena yang paling tabu bukanlah monster yang kita arak di jalan,
melainkan yang kita simpan diam-diam di dalam diri sendiri. @jeje

Tags: balibanjar legian kuloddenpasarLegianNyepiOgoh-ogohSatya Ning Caraka
Next Post
Nyepi: Kita Tidak Takut Sepi, Kita Takut Diri Sendiri

Nyepi: Kita Tidak Takut Sepi, Kita Takut Diri Sendiri

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

5 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Kabar Duka: Bos Djarum Bambang Hartono Meninggal Dunia di Singapura

    Kabar Duka: Bos Djarum Bambang Hartono Meninggal Dunia di Singapura

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Empat Prajurit TNI Terseret Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Iran Luncurkan Rudal ke Israel, Timur Tengah Kembali Memanas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Idul Fitri: Kita Kembali ke Diri, atau Sekadar Kembali ke Tradisi?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pantai Kuta Bali: Surga yang Dijual, atau Ilusi yang Disepakati?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.