Tabooo.id: Deep – Asap dupa naik, api bergetar, dan malam langsung terasa tegang. Di tengah jalan, ogoh-ogoh berdiri tinggi, bukan sekadar patung, tapi sesuatu yang terasa hidup. Orang-orang mengelilinginya, berteriak, tertawa, dan mengabadikan momen itu.
Tapi malam itu bukan cuma soal perayaan.
Malam itu tentang sesuatu yang lebih jujur: manusia sedang memperlihatkan sisi gelapnya sendiri.
Ritual yang Berubah Arah
Secara tradisi, masyarakat Bali membuat ogoh-ogoh untuk merepresentasikan Bhuta Kala, energi negatif yang harus dilepaskan. Mereka lalu mengaraknya keliling desa, kemudian membakarnya sebagai simbol penyucian.
Namun sekarang, maknanya mulai bergeser.
Ogoh-ogoh tidak lagi sekadar simbol spiritual. Ia berubah jadi panggung. Komunitas berlomba membuat bentuk paling besar, paling detail, paling mencolok. Kamera menyala di mana-mana. Sorak-sorai menggantikan keheningan.
Akibatnya, ritual perlahan berubah jadi pertunjukan.
Dari Mengusir, Menjadi Menikmati
Dulu, masyarakat mengarak ogoh-ogoh untuk menyingkirkan energi buruk.
Sekarang, banyak orang justru menikmatinya.
Ironisnya, kita tidak lagi terburu-buru membakar kegelapan. Kita malah memotretnya, merekamnya, lalu menyebarkannya.
Fenomena ini terasa familiar, kan?
Kemarahan jadi konten.
Kesedihan jadi estetika.
Kekacauan jadi tontonan.
Kita tidak benar-benar menyelesaikan masalah. Kita hanya mengemasnya supaya terlihat menarik.
Di Balik Keramaian, Ada Manusia
Meski begitu, kita tidak bisa mengabaikan satu hal: ogoh-ogoh tetap lahir dari kerja keras manusia.
Anak-anak muda begadang berbulan-bulan. Komunitas banjar bergotong royong. Seniman lokal menuangkan imajinasi mereka tanpa batas.
Di titik ini, ogoh-ogoh bukan cuma simbol gelap. Ia juga jadi simbol kreativitas dan identitas.
Namun pertanyaannya tetap menggantung:
apakah kita masih memahami maknanya, atau hanya menikmati prosesnya?
Kita Adalah Ogoh-Ogoh Itu
Kalau kita jujur, ogoh-ogoh sebenarnya bukan tentang makhluk mitologi.
Ia tentang kita.
Tentang ego yang sulit dikendalikan, amarah yang terus dipelihara dan ketakutan yang tidak pernah benar-benar kita hadapi.
Kita membentuknya, mengaraknya, dan kita rayakan.
Lalu, kita berharap api bisa menyelesaikan semuanya.
Padahal, yang terbakar hanya bentuknya, bukan sifatnya.
Antara Budaya dan Tontonan
Hari ini, ogoh-ogoh berdiri di dua dunia sekaligus.
Di satu sisi, ia tetap menjadi bagian dari ritual sakral.
Namun di sisi lain, ia masuk ke ruang publik digital, menjadi konten, menjadi hiburan, bahkan menjadi identitas visual Bali di mata dunia.
Masalahnya bukan pada perubahan. Budaya memang selalu bergerak.
Tapi yang perlu kita tanyakan:
apakah makna masih ikut bergerak, atau justru tertinggal?
Lalu, Apa yang Sebenarnya Kita Bakar?
Setiap tahun, api melahap ogoh-ogoh sampai jadi abu. Orang-orang bersorak. Ritual selesai.
Namun setelah itu, hidup kembali berjalan seperti biasa.
Amarah tetap ada.
Ego tetap tumbuh.
Ketakutan tetap tinggal.
Jadi, apa yang sebenarnya kita bakar?
Ogoh-ogoh mungkin hilang dalam semalam.
Tapi sisi gelap manusia tidak pernah benar-benar pergi.
Dan mungkin, di situlah letak kejujurannya.
Karena yang paling tabu bukanlah monster yang kita arak di jalan,
melainkan yang kita simpan diam-diam di dalam diri sendiri. @jeje



