• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News Nasional

Nasaruddin Umar Tegaskan Perbedaan Awal Ramadhan Bukan Masalah

Februari 17, 2026
in Nasional, News
A A
Menag Nasaruddin Umar: Perbedaan Awal Ramadhan Bukan Masalah

Menteri Agama Nasaruddin Umar saat menyampaikan hasil sidang isbat penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah dalam konferensi pers di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2/2026) malam. (Foto istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa perbedaan penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah antara pemerintah dengan Muhammadiyah seharusnya tidak menimbulkan konflik atau perpecahan. Dalam konferensi pers Sidang Isbat 1 Ramadhan 1447 H di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Selasa (17/2/2026) malam, Nasaruddin menekankan pentingnya menjaga persatuan meski terjadi perbedaan tanggal.

“Perbedaan itu bisa menjadi wujud persatuan yang indah. Kami mengimbau masyarakat agar perbedaan ini tidak membuat kita berpisah atau menimbulkan perasaan negatif,” ujar Nasaruddin Umar, Selasa (17/2/2026) malam.

Ia menambahkan, pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa perbedaan penentuan awal puasa bukan hal baru, namun selama ini bangsa tetap utuh.

Sidang Isbat Pemerintah dan Data Hilal

Berdasarkan hasil Sidang Isbat, pemerintah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan ini muncul setelah pemantauan hilal di berbagai titik di Indonesia tidak memenuhi kriteria visibilitas hilal MABIMS, yang mensyaratkan tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Data pemantauan menunjukkan sudut elongasi antara 0°56’23” hingga 1°53’36”, sehingga belum memenuhi standar visibilitas yang ditetapkan pemerintah.

“Hasil hisab menunjukkan hilal belum terlihat secara signifikan, maka 1 Ramadhan ditetapkan pada 19 Februari,” jelas Nasaruddin.

Sementara itu, Muhammadiyah menetapkan awal Ramadhan pada Rabu, 18 Februari 2026, menggunakan pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Organisasi ini menerapkan prinsip satu hari satu tanggal secara global, sehingga penentuan awal bulan hijriah tidak lagi bergantung pada lokasi geografis masing-masing negara.

Dampak Masyarakat dan Persepsi Publik

Perbedaan penetapan awal puasa ini, meski teknis, berdampak nyata bagi masyarakat. Warga yang terbiasa mengikuti kalender pemerintah dan mereka yang mengacu pada Muhammadiyah mungkin harus menyesuaikan jadwal sahur, buka puasa, dan ibadah tarawih. Para pelaku usaha kuliner, pasar takjil, hingga penyelenggara kegiatan sosial Ramadhan juga menghadapi tantangan logistik singkat karena perbedaan hari mulai puasa.

RelatedPosts

Jubir IRGC Tewas Diserang AS-Israel, Konflik Iran Kian Memanas

Lebaran 2026: Prabowo Undang Ribuan Warga ke Istana Kepresidenan

Nasaruddin menekankan bahwa hasil Sidang Isbat seharusnya menjadi simbol kebersamaan.

“Semoga hal ini mencerminkan persatuan umat Islam dan memperkuat rasa kebangsaan kita sebagai anak bangsa,” tegasnya.

Meski begitu, perbedaan ini juga menyingkap paradoks Indonesia negara yang sama-sama ingin menjaga tradisi Islam, tetapi metode observasi dan pendekatan astronominya berbeda. Bagi sebagian masyarakat, hal ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan tidak selalu berarti keseragaman.

Refleksi Ringan

Di tengah perbedaan teknis ini, Menag mengajak publik menatap bulan suci dengan optimisme. Sambil menunggu hilal benar-benar terlihat, warga diajak meneguhkan nilai toleransi dan solidaritas.

Jadi, meski kalender sedikit berbeda, semangat puasa tetap bisa sama. Perbedaan tanggal? Cuma soal angka. Persatuan? Itu yang sesungguhnya diuji. @dimas

Tags: 1447 H2026Awal PuasaHijriahKeagamaanMenagMuhammadiyahNasaruddinpemerintahPenetapanPerbedaanPersatuanRamadhanriSidang IsbatToleransiUmat
Next Post
Tragedi Wihelmina dan YBS: Ketimpangan Sosial di Balik Statistik

Tragedi Wihelmina dan YBS: Ketimpangan Sosial di Balik Statistik

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    Malam Takbiran: Antara Euforia Perayaan dan Sunyi Refleksi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Saat Senja: Ketika Malam Mulai Dibuka untuk Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7.039 Pemudik Gratis Tiba di Tirtonadi, Mayoritas dari DKI Jakarta

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prabowo Sebut Penyiraman Aktivis KontraS Terorisme, Harus Usut Dalangnya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.