Presiden Prabowo Subianto akan melantik Nanik S Deyang sebagai Kepala BGN di tengah kasus korupsi MBG. Mampukah ia memulihkan kepercayaan publik?
Tabooo.id: Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah cepat setelah dugaan korupsi mengguncang program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pada Senin (8/6/2026), Prabowo akan melantik Nanik S Deyang sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru.
Pergantian ini bukan sekadar rotasi pejabat. Pemerintah kini menghadapi ujian besar untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap program unggulan yang menyasar jutaan anak Indonesia.
Pada hari yang sama, Prabowo juga akan melantik Presiden Partai Buruh Said Iqbal sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengumumkan bahwa pelantikan keduanya berlangsung di Istana Kepresidenan pada pukul 15.00 WIB.
Prabowo Pilih Sosok yang Tegas
Prasetyo menjelaskan alasan Presiden menunjuk Nanik memimpin BGN.
Menurutnya, Nanik memiliki karakter disiplin dan tegas. Presiden menilai kualitas itu penting untuk memperkuat tata kelola lembaga yang sedang berada dalam sorotan publik.
“Kalau boleh dibilang sangat strict, sangat tegas terhadap kedisiplinan dalam menjalankan SOP,” ujar Prasetyo.
Nanik bukan wajah baru di BGN. Selama beberapa bulan terakhir, ia menjalankan tugas sebagai Wakil Kepala BGN.
Pengalaman itu membuatnya memahami proses kerja lembaga tersebut. Ia juga mengenal tantangan yang muncul dalam pelaksanaan program MBG di lapangan.
Pemerintah berharap Nanik mampu memperkuat pengawasan dan menjaga kualitas makanan yang diterima para penerima manfaat.
BGN Hadapi Krisis Kepercayaan
Nanik mengambil alih kepemimpinan saat BGN menghadapi tekanan besar.
Penyidik menemukan dugaan penggelembungan anggaran dalam sejumlah proyek pengadaan.
Kasus itu mencakup pengadaan 21.801 unit motor listrik dengan nilai sekitar Rp1 triliun. Penyidik juga menemukan dugaan mark up pada pengadaan 32 ribu pasang sepatu.
Selain itu, penyidik menelusuri pengadaan lebih dari 31 ribu tablet dan ribuan televisi dengan nilai mencapai Rp75 miliar.
Kejaksaan juga mengungkap dugaan aliran dana miliaran rupiah per hari kepada sejumlah yayasan mitra MBG. Penyidik menduga yayasan tersebut memiliki keterkaitan dengan petinggi BGN.
Temuan itu memicu pertanyaan besar dari publik.
Program yang seharusnya memperbaiki gizi anak justru terseret ke dalam dugaan penyalahgunaan anggaran.
Lebih dari Sekadar Pergantian Nama
Pemerintah tentu berharap pergantian pimpinan bisa menjadi titik balik.
Namun persoalan yang muncul tidak berhenti pada siapa yang duduk di kursi kepala BGN.
Publik ingin melihat perubahan yang lebih mendasar. Mereka menunggu perbaikan sistem pengawasan, transparansi anggaran, dan mekanisme kontrol yang lebih kuat.
Korupsi dalam proyek besar jarang muncul karena satu orang saja. Praktik itu biasanya tumbuh ketika pengawasan melemah dan akuntabilitas menghilang.
Karena itu, Nanik tidak hanya mewarisi jabatan.
Ia juga mewarisi tugas berat untuk memulihkan kepercayaan masyarakat.
Yang Dipertaruhkan Bukan Sekadar Anggaran
Bagi jutaan keluarga penerima manfaat, persoalan ini jauh melampaui angka dalam laporan keuangan.
Mereka ingin memastikan makanan bergizi benar-benar sampai kepada anak-anak yang membutuhkan.
Mereka juga ingin memastikan setiap rupiah uang negara digunakan sesuai tujuan.
Jika pembenahan berjalan efektif, BGN bisa kembali menjadi instrumen penting dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Namun jika perubahan hanya terjadi di tingkat pimpinan, publik akan melihat pola lama yang terus berulang.
Pejabat berganti. Kasus berlalu. Tetapi sistem tetap berjalan tanpa perbaikan berarti.
Di titik inilah ujian sesungguhnya dimulai.
Ini bukan sekadar pelantikan kepala baru. Ini adalah pertaruhan besar untuk membuktikan bahwa program Makan Bergizi Gratis lebih kuat daripada praktik korupsi yang menggerogoti kepercayaan publik.
Lalu, apakah pergantian pimpinan cukup untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat, atau justru membuka persoalan yang lebih dalam di tubuh BGN? @dimas







