Dadan Hindayana dicopot dari jabatan Kepala BGN setelah 18 bulan evaluasi MBG. Masalah kualitas makanan, disiplin SOP, dan tata kelola menjadi sorotan pemerintah.
Tabooo.id – Malam itu, Presiden Prabowo Subianto tidak sekadar mengganti pejabat.
Ia mengirim sinyal tegas ke publik.
Setelah hampir satu setengah tahun memantau pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Prabowo akhirnya mencopot Dadan Hindayana dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Keputusan itu terdengar administratif. Namun pesan politiknya jauh lebih besar.
Prabowo tampaknya ingin menunjukkan bahwa ia tidak akan membiarkan masalah yang terus berulang menggerus program unggulannya.
Karena di balik pergantian pimpinan BGN, tersimpan persoalan yang menyentuh inti program MBG: kualitas makanan, disiplin pelaksanaan, dan tata kelola.
Ketika Ambisi Besar Bertemu Realitas Lapangan
Sejak awal, Prabowo menjadikan MBG sebagai simbol investasi masa depan.
Ia menjanjikan makanan bergizi untuk jutaan anak Indonesia. Ia ingin memperbaiki kualitas sumber daya manusia sejak usia sekolah. Ia juga ingin memutus rantai stunting dan gizi buruk yang selama puluhan tahun menghantui Indonesia.
Gagasannya terdengar sederhana.
Negara menyediakan makanan. Anak-anak mendapatkan gizi yang lebih baik.
Namun program berskala nasional jarang berjalan sesederhana konsepnya.
Ketika MBG mulai menjangkau jutaan penerima manfaat, tantangan baru bermunculan. Dapur bertambah. Rantai distribusi memanjang. Pengawasan menjadi semakin rumit.
Lalu masalah mulai muncul satu per satu.
Kasus keracunan makanan terjadi di berbagai daerah. Sejumlah siswa harus menjalani perawatan. Orang tua mulai mempertanyakan keamanan makanan yang setiap hari dikirim ke sekolah.
Di titik itu, masalah MBG tidak lagi berkaitan dengan jumlah penerima manfaat.
Masalahnya berubah menjadi soal kepercayaan.
Catatan yang Menumpuk di Meja Presiden
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa Prabowo tidak mengambil keputusan secara mendadak.
Presiden memantau pelaksanaan MBG selama hampir 18 bulan. Ia menerima laporan, mengevaluasi pelaksanaan program, dan mencermati berbagai persoalan yang muncul di lapangan.
Dari proses itu, pemerintah menemukan sejumlah catatan penting.
Prasetyo menyebut masalah kedisiplinan dalam menjalankan standar operasional prosedur sebagai salah satu alasan utama pergantian pimpinan BGN.
Ia juga menyoroti tata kelola program.
Namun perhatian terbesar mengarah pada kualitas makanan.
Poin terakhir itu menjadi sangat penting.
Sebab kualitas makanan bukan bagian tambahan dalam MBG.
Kualitas makanan adalah alasan mengapa program itu ada.
Jika kualitasnya bermasalah, maka fondasi program ikut goyah.
Angka-Angka yang Sulit Dibantah
Data yang tersedia memperlihatkan skala persoalan tersebut.
Hingga 29 Mei 2026, sebanyak 27.208 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) beroperasi di seluruh Indonesia.
Dari jumlah itu, 8.182 SPPG pernah mengalami suspend.
Artinya, hampir sepertiga jaringan pelaksana program pernah menghadapi persoalan yang cukup serius hingga memerlukan tindakan korektif.
Di sisi lain, MBG terus berkembang.
Pada Maret 2026, program ini telah menjangkau lebih dari 61 juta penerima manfaat. Sekitar 49 juta di antaranya merupakan siswa sekolah.
Angka itu menunjukkan keberhasilan ekspansi.
Namun angka yang sama juga memperlihatkan besarnya risiko.
Semakin luas cakupan program, semakin besar kebutuhan terhadap pengawasan yang disiplin.
Ini Bukan Soal Satu Orang
Publik mungkin melihat pencopotan Dadan sebagai akhir dari persoalan.
Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.
Pergantian pimpinan memang dapat mengubah arah organisasi. Namun pergantian nama tidak otomatis memperbaiki sistem.
Masalah terbesar MBG kemungkinan tidak lahir dari satu keputusan atau satu individu.
Masalah itu muncul ketika sebuah program tumbuh sangat cepat, sementara kapasitas pengawasan berjuang mengejar kecepatan pertumbuhan tersebut.
Dalam skala sebesar MBG, satu kesalahan kecil dapat memengaruhi ribuan orang.
Satu dapur yang lalai dapat membuat ratusan siswa sakit.
Satu prosedur yang diabaikan dapat merusak kepercayaan yang dibangun selama berbulan-bulan.
Karena itu, pergantian pimpinan hanya menjadi langkah awal.
Perbaikan sistem jauh lebih menentukan.
Ujian Sesungguhnya Menanti Nanik
Kini Nanik Sudaryati Deyang memimpin BGN.
Ia tidak datang dari luar lembaga. Ia memahami struktur organisasi, mengenal tantangan program, dan mengetahui berbagai persoalan yang muncul selama ini.
Namun pemahaman saja tidak cukup.
Publik tidak membutuhkan pergantian nama.
Publik membutuhkan perubahan hasil.
Nanik harus memperkuat pengawasan. Ia harus memastikan setiap dapur mematuhi standar yang sama. Ia juga harus menjamin bahwa kualitas makanan tidak berubah ketika program terus berkembang.
Tugas itu tidak ringan.
Karena setiap hari jutaan anak bergantung pada program yang ia pimpin.
Ini Bukan Sekadar Pergantian Jabatan
Pencopotan Dadan Hindayana menyampaikan pesan yang lebih besar daripada sekadar rotasi birokrasi.
Prabowo tampaknya ingin menunjukkan bahwa target besar tidak boleh mengalahkan kualitas pelaksanaan.
Program Makan Bergizi Gratis memang berhasil menjangkau puluhan juta orang.
Namun jangkauan yang luas tidak akan berarti banyak jika masyarakat mulai kehilangan kepercayaan.
Di sinilah persoalan sebenarnya berada.
MBG tidak sedang menghadapi krisis anggaran.
MBG sedang menghadapi ujian tata kelola.
Dan sejarah sering menunjukkan satu hal sederhana: program besar jarang gagal karena kekurangan ambisi. Program besar lebih sering gagal ketika pengawasan tertinggal dari kecepatan ekspansinya.
Kini bola berada di tangan pimpinan baru BGN.
Karena pada akhirnya publik hanya akan mengajukan satu pertanyaan.
Saat negara mengirim makanan ke sekolah, siapa yang memastikan makanan itu benar-benar aman untuk dimakan? @dimas







