Tabooo.id: Talk – Setiap Ramadan tiba, istilah “mokel” langsung ramai dibicarakan. Timeline bergerak cepat. Grup percakapan memanas. Media sosial penuh komentar. Lagi-lagi, banyak orang menunjuk Gen Z sebagai biang masalah.
Sebagian orang menilai generasi ini rapuh. Yang lain menyebut mereka terlalu manja. Bahkan ada yang terang-terangan meragukan daya tahan spiritualnya.
Namun, apakah penilaian itu benar? Atau kita sekadar mengulang stigma tanpa benar-benar memahami situasinya?
Sebelum kita menyimpulkan apa pun, mari kita susun ulang cara pandang kita.
Definisi Harus Jelas Sejak Awal
Kita perlu meluruskan istilahnya lebih dulu. Mokel berarti seseorang sengaja membatalkan puasa sebelum waktunya tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Jadi, ketika orang sakit, bepergian jauh, hamil, menyusui, atau mengalami kondisi medis tertentu, mereka tidak melakukan mokel. Mereka menjalankan keringanan yang agama berikan.
Sayangnya, banyak orang mencampuradukkan semuanya. Mereka melihat seseorang minum di siang hari, lalu langsung menuduhnya lemah iman. Mereka mendengar kabar batal puasa, kemudian menilai niatnya tidak kuat.
Padahal, penilaian yang adil selalu membutuhkan konteks.
Karena itu, kita perlu membiasakan diri bertanya sebelum menghakimi dan memahami sebelum memberi label.
Tantangan Nyata di Era Digital
Sekarang mari kita lihat realitasnya. Gen Z hidup dalam dunia yang bergerak cepat dan penuh distraksi. Notifikasi terus berbunyi. Konten makanan muncul tanpa henti. Iklan minuman dingin berseliweran saat matahari sedang terik-teriknya. Semua godaan itu hadir di layar yang sama dengan tugas kuliah dan pekerjaan.
Selain itu, banyak anak muda tidur larut malam karena scrolling atau menyelesaikan deadline. Kurang tidur membuat tubuh mudah lelah. Stres mempercepat rasa lapar. Fokus pun menurun.
Dalam kondisi seperti itu, puasa menjadi ujian yang lebih kompleks. Seseorang tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga mengendalikan impuls di tengah tekanan digital.
Ilmu psikologi menjelaskan bahwa kontrol diri sangat bergantung pada energi fisik dan stabilitas emosi. Ketika seseorang kurang istirahat dan mengalami stres tinggi, daya tahannya ikut melemah. Maka, saat seorang Gen Z mokel, kita seharusnya tidak buru-buru menyederhanakan masalah menjadi soal iman semata. Kita perlu melihat pola hidupnya dan memahami beban yang ia tanggung.
Disiplin Tetap Menjadi Inti
Meski begitu, kita juga tidak boleh menghapus tanggung jawab pribadi.
Puasa melatih komitmen dan integritas. Ketika seseorang membatalkan puasa tanpa alasan yang sah, ia memang gagal menjaga komitmennya hari itu. Fakta ini tidak perlu kita tutupi.
Namun, kegagalan tidak harus berubah menjadi cap permanen. Justru kegagalan memberi kesempatan untuk evaluasi. Seseorang bisa memperbaiki pola sahur, mengatur ulang jam tidur, atau mengurangi distraksi yang tidak perlu. Ia juga bisa menata ulang jadwal supaya energinya lebih terjaga.
Dengan cara itu, puasa menjadi latihan manajemen diri yang nyata, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Budaya Mengingatkan, Bukan Mempermalukan
Cara kita merespons mokel juga menentukan kualitas ruang sosial kita.
Sebagian orang memilih merekam dan menyebarkan kejadian tersebut. Mereka membiarkan komentar tajam membanjiri kolom respons. Akibatnya, rasa malu menggantikan ruang refleksi.
Padahal, pendekatan seperti itu jarang menghasilkan perubahan yang sehat.
Kita tetap bisa menegaskan pentingnya menjaga puasa. Kita tetap bisa mengingatkan soal kewajiban. Namun kita tidak perlu menjatuhkan harga diri orang lain untuk melakukannya.
Ramadan mengajarkan pengendalian diri dan empati sekaligus. Jika kita ingin mengambil nilai itu secara utuh, maka cara kita bersikap juga harus mencerminkan kedewasaan.
Cermin Zaman dan Cermin Diri
Fenomena mokel di kalangan Gen Z bisa jadi mencerminkan tantangan zaman yang semakin kompleks. Distraksi digital, tekanan sosial, dan gaya hidup tidak teratur memperberat ujian disiplin. Namun pada akhirnya, setiap individu tetap memegang kendali atas pilihannya.
Karena itu, solusi terbaik bukan saling menyalahkan. Kita perlu memperkuat edukasi, membangun kebiasaan sehat, dan membuka ruang dialog yang rasional. Kita juga perlu mendorong setiap orang untuk lebih jujur pada dirinya sendiri.
Puasa bukan kompetisi siapa paling kuat. Puasa adalah proses membentuk karakter secara konsisten.
Sekarang pertanyaannya: apakah kita ingin terus melanggengkan stigma, atau kita mau membangun kesadaran yang lebih matang?
Lalu, kamu di kubu mana? @eko




