Minggu, Agustus 23, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

De Javasche Bank: Menelusuri Jejak Sejarah Ekonomi Indonesia di Surabaya

by dimas
Februari 27, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Di tengah riuh Kota Lama Surabaya, ada satu bangunan yang berdiri seperti potongan waktu yang menolak pindah. Sementara kafe-kafe baru memutar musik indie dan wisatawan sibuk membuat konten, gedung berkubah itu tetap tenang. Sekilas, orang datang hanya untuk berfoto. Namun jika kita berhenti sejenak, suasananya berubah. Ada gema sejarah yang terasa samar, tetapi nyata.

Bangunan itu kini bernama Museum De Javasche Bank. Akan tetapi, jauh sebelum menjadi ruang edukasi, ia memegang peran yang jauh lebih strategis. Di sinilah uang dicetak, disimpan, dan dikendalikan. Dengan kata lain, di sinilah kuasa ekonomi pernah berpusat.

De Javasche Bank: Menelusuri Jejak Sejarah Ekonomi Indonesia di Surabaya
Detail arsitektur Museum De Javasche Bank di Kota Lama Surabaya menampilkan kolom-kolom besar dan jendela tinggi bergaya Eropa klasik.

Awal Mula: Ketika Uang Menjadi Alat Kendali

Pada 1828, pemerintah kolonial Belanda mendirikan De Javasche Bank sebagai bank sirkulasi. Artinya, lembaga ini memiliki hak mencetak dan mengedarkan gulden Hindia Belanda. Sejak saat itu, bank ini mengatur denyut ekonomi kolonial di Nusantara.

Tidak hanya itu, melalui institusi ini Belanda mengontrol perdagangan dan menjaga stabilitas finansial versi mereka sendiri. Karena itulah, gedung cabangnya di Surabaya tampil megah. Arsitekturnya bergaya neoklasik Eropa, lengkap dengan kolom-kolom tinggi dan jendela besar. Secara visual, bangunan ini seperti ingin berkata: “Di sinilah pusat kendali berada.”

Dengan demikian, gedung ini bukan sekadar tempat administrasi keuangan. Sebaliknya, ia menjadi simbol dominasi. Uang tidak berdiri sendiri; ia selalu mengikuti arah kekuasaan.

Ini Belum Selesai

Ketika Pusaka Harus Pergi: Warisan Keluarga Memilih Menjadi Sejarah

Pimpin Pawai, Respati Berubah Jadi Demang

Namun sejarah bergerak. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, pemerintah mulai menata ulang sistem ekonomi nasional. Proses nasionalisasi berlangsung bertahap, dan pada 1953 Indonesia resmi mengambil alih De Javasche Bank. Selanjutnya, pemerintah mengintegrasikannya ke dalam Bank Indonesia.

Peristiwa itu menandai perubahan besar. Jika sebelumnya kebijakan moneter ditentukan oleh kepentingan kolonial, maka sejak saat itu bangsa ini mengelola sistem keuangannya sendiri. Oleh sebab itu, gedung yang sama kini memuat makna yang sepenuhnya berbeda.

Dari Ruang Rahasia ke Ruang Publik

Kini, ketika kita melangkah masuk ke museum, suasananya terasa jauh lebih terbuka. Para pelajar berjalan pelan sambil membaca panel sejarah. Sementara itu, wisatawan sibuk memotret detail arsitektur yang elegan.

Kolom-kolom besar berdiri kokoh di ruang utama. Lantai marmer memantulkan cahaya yang masuk dari jendela tinggi berkaca patri. Selain itu, langit-langit yang lapang menciptakan kesan teatrikal, seolah-olah setiap sudut ruangan pernah menyaksikan adegan penting dalam sejarah ekonomi.

Kemudian, ketika kita turun ke ruang bawah tanah, atmosfer berubah drastis. Udara terasa lebih dingin dan sunyi. Di sanalah brankas besar berdiri dengan pintu besi tebal yang masih utuh. Dahulu, ruang ini menyimpan emas batangan dan alat pencetak uang. Sekarang, pengunjung berdiri di depannya sambil membayangkan bagaimana suara pintu besi itu menggema saat dibuka.

Ironisnya, ruang yang dulu tertutup rapat kini menjadi spot foto favorit. Dengan demikian, fungsi ruang berubah total: dari ruang rahasia menjadi ruang refleksi. Transformasi ini menunjukkan bahwa makna bangunan selalu mengikuti zaman.

Museum di Tengah Era Digital

Di era ketika perhatian kita terpecah oleh notifikasi dan video singkat, museum sering dianggap terlalu sunyi. Bahkan, sebagian orang mengira museum tidak lagi relevan. Namun anggapan itu perlahan runtuh.

Pengelola Museum De Javasche Bank aktif memanfaatkan media sosial. Mereka menghadirkan tur virtual, konten edukatif, dan pameran temporer yang mengaitkan sejarah dengan isu ekonomi kontemporer. Melalui cara ini, mereka menjembatani masa lalu dengan generasi digital.

Selain itu, tren konten visual justru memberi ruang baru bagi museum. Anak muda datang bukan hanya untuk belajar, melainkan juga untuk merasakan atmosfer. Mereka merekam lorong-lorong panjang, memotret detail kaca patri, lalu menambahkan narasi reflektif tentang uang dan kuasa.

Menariknya, di tengah budaya cashless dan dompet digital, museum ini mengingatkan kita pada wujud fisik uang: kertas, logam, tinta, dan emas. Oleh karena itu, kunjungan ke museum terasa seperti perjalanan balik ke akar sistem ekonomi.

Ekonomi sebagai Cerita, Bukan Sekadar Grafik

Selama ini, kita sering membahas ekonomi melalui angka. Inflasi naik. Suku bunga turun. Nilai tukar berfluktuasi. Akan tetapi, museum ini menawarkan sudut pandang berbeda.

Ia mengajak kita melihat ekonomi sebagai cerita tentang identitas dan perjuangan. Sebab, di balik setiap kebijakan moneter, selalu ada dinamika politik dan sosial. Dengan kata lain, ekonomi tidak pernah steril dari konteks kekuasaan.

Jika dahulu gedung ini menjadi simbol kontrol kolonial, maka sekarang ia menjadi simbol pembelajaran. Perubahan ini tidak terjadi secara instan. Sebaliknya, ia lahir dari perjalanan panjang bangsa yang merebut kedaulatan finansialnya.

Karena itu, setiap langkah di dalam museum terasa seperti membaca bab demi bab sejarah. Kita tidak hanya melihat benda-benda lama, tetapi juga memahami proses yang membentuk sistem ekonomi hari ini.

Kota Lama, Ingatan, dan Masa Depan

Sementara Kota Lama Surabaya terus bertransformasi dengan sentuhan modern, Museum De Javasche Bank tetap menjaga ritmenya. Ia tidak menolak zaman, tetapi juga tidak kehilangan akar.

Pada akhirnya, gedung ini mengajarkan satu hal penting sejarah tidak pernah benar-benar selesai. Ia terus berdialog dengan masa kini. Dari gulden ke rupiah, dari brankas besi ke transaksi digital, perjalanan itu menunjukkan perubahan cara kita memaknai uang.

Maka, ketika kita berdiri di bawah kubahnya yang tenang, kita mungkin menyadari sesuatu. Bahwa ekonomi bukan hanya soal angka di layar, melainkan juga soal siapa yang memegang kendali dan bagaimana bangsa ini belajar berdiri di atas kakinya sendiri.

Dan di antara kolom-kolom tua itu, sejarah seolah berbisik pelan: masa depan selalu tumbuh dari ingatan yang kita rawat hari ini. @Sabrina Fidhi – Surabaya

Tags: ArsitekturBank IndonesiaDigitalEkonomi IndonesiaGenerasiHeritagejejakKolonialKota LamamuseumNasionalRefleksiRuangSejarahsurabaya

Kamu Melewatkan Ini

Pasal 33 UUD 1945: Ekonomi Indonesia Milik Siapa?

Pasal 33 UUD 1945: Ekonomi Indonesia Milik Siapa?

by dimas
Agustus 22, 2026

Pasal 33 UUD 1945 bukan sekadar aturan ekonomi, tetapi tentang pengelolaan sumber daya, distribusi kekayaan, dan kemakmuran rakyat. Tabooo.id -...

Kartu Kredit Indonesia Meluncur, MDR QRIS 0% Diperluas

Kartu Kredit Indonesia Meluncur, MDR QRIS 0% Diperluas

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Excerpt: Kartu Kredit Indonesia resmi meluncur. Bersamaan dengan itu, BI memperluas MDR QRIS 0% mulai 1 Oktober 2026 untuk transaksi...

RUU Perampasan Aset Mulai Ngebut. Bagaimana Realisasinya?

RUU Perampasan Aset Mulai Ngebut. Bagaimana Realisasinya?

by Tabooo
Agustus 18, 2026

Prabowo meminta RUU Perampasan Aset dipercepat. DPR masih menjaring masukan publik. Tantangannya bukan cuma pengesahan, tetapi memastikan aset hasil kejahatan...

Next Post
Usai Tur Diplomasi Global, Prabowo Mendarat dan Disambut Gibran

Usai Tur Diplomasi Global, Prabowo Mendarat dan Disambut Gibran

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id