Kamis, April 9, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Talk

Mobil “Merah Putih”, Tapi Bukan Buatan Sendiri

April 8, 2026
in Talk
A A
Mobil “Merah Putih”, Tapi Bukan Buatan Sendiri

Mobil “Merah Putih” impor dari India simbol kemandirian yang masih bergantung. (Foto istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Katanya mau mandiri. Namun, kenapa kendaraan operasional justru impor?

Saat ini, 1.200 mobil pikap dan truk sudah masuk dari India. Angka itu baru permulaan dari rencana besar 105.000 unit untuk mendukung program Koperasi Merah Putih. Ironisnya, program ini justru dipromosikan sebagai simbol kemandirian ekonomi.

Jadi, kita benar-benar sedang membangun industri sendiri atau malah memperluas pasar negara lain?

Logika “Efisiensi” yang Terlalu Cepat

PT Agrinas Pangan Nusantara punya alasan. Harga mobil lokal dinilai lebih mahal, stok terbatas, dan pembelian besar dikhawatirkan mengganggu distribusi produsen dalam negeri.

Sekilas, argumen itu terdengar rasional.

BacaJuga

Takut Gagal atau Takut Terlihat Gagal?

Film Pertama Indonesia, Tapi Kita Lupa Sejarahnya?

Namun, di sinilah letak masalahnya. Kita terlalu sering memilih solusi instan tanpa menghitung dampak jangka panjang. Akibatnya, efisiensi hari ini justru berpotensi menjadi beban di masa depan.

Industri Dalam Negeri yang Ditinggal

Di sisi lain, momentum kebijakan ini terasa janggal. Industri otomotif nasional sedang melemah, bahkan sebagian pekerja terkena PHK.

Alih-alih membantu pemulihan, impor justru mempersempit ruang hidup industri lokal. Ketika pabrik dalam negeri butuh pesanan, negara malah berbelanja ke luar.

Lalu, siapa sebenarnya yang sedang kita selamatkan?

Janji Lama yang Terus Berulang

Sebenarnya, pola ini bukan hal baru.

Sejak era Orde Baru hingga proyek mobil Esemka di masa Joko Widodo, cerita yang muncul hampir selalu sama ambisi besar, eksekusi setengah jalan.

Karena itu, pertanyaannya bergeser. Bukan lagi “kenapa gagal?”, melainkan “kenapa kegagalan ini terus diulang?”

Kehilangan Proses Belajar

Menurut Kenneth Arrow, kemampuan teknologi lahir dari praktik langsung.

Artinya, tanpa produksi, tidak ada pembelajaran.

Sayangnya, ketika impor menjadi pilihan utama, kita bukan hanya membeli barang. Kita juga memindahkan proses belajar itu ke negara lain. Akibatnya, Indonesia hanya menjadi pengguna, bukan pencipta.

Tahap yang Kita Lewatkan

Lebih jauh, Linsu Kim menjelaskan bahwa negara berkembang harus melewati tiga tahap: imitasi, adaptasi, lalu inovasi.

Namun, semua tahap itu butuh satu syarat utama industri domestik yang hidup.

Jika pasar justru dibanjiri produk impor, kapan proses itu bisa terjadi?

Negara Lain Memilih Jalan Sulit

Sebaliknya, negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan China pernah menghadapi kondisi serupa.

Namun, mereka tidak memilih jalan cepat.

Mereka melindungi industri lokal, memaksa transfer teknologi, dan berinvestasi besar sejak awal. Memang mahal, tetapi hasilnya nyata: kini mereka menjadi pemain global.

Sementara itu, Indonesia masih berkutat sebagai pasar.

Ketika Rente Lebih Menggiurkan

Di balik semua ini, ada persoalan yang lebih dalam struktur ekonomi.

Membangun industri butuh waktu panjang, biaya besar, dan kesabaran. Sebaliknya, impor menawarkan jalur cepat, praktis, dan sering kali menguntungkan dalam jangka pendek.

Akibatnya, keputusan ekonomi kerap bergeser. Bukan lagi soal membangun kapasitas, melainkan soal siapa yang mendapat keuntungan hari ini.

Dan sayangnya, publik jarang masuk dalam daftar itu.

“Merah Putih” atau Sekadar Label?

Program ini membawa nama besar Merah Putih.

Namun, jika mesinnya impor, teknologinya asing, dan industrinya tidak kita bangun, apa makna simbol itu?

Apakah ini benar-benar kemandirian, atau hanya kemasan nasional untuk kebijakan yang tetap bergantung?

Penutup: Kita Mau Jadi Apa?

Sejauh ini, Indonesia sudah lama menjadi pasar otomotif bagi Jepang, Korea Selatan, China, dan kini India.

Jika pola ini terus berlanjut, daftar itu akan semakin panjang.

Karena pada akhirnya, kemandirian bukan sekadar slogan. Ia lahir dari pilihan yang konsisten.

Masalahnya, hari ini kita masih memilih jalan cepat.

Jadi, sampai kapan kita nyaman jadi pasar? @dimas

Tags: EkonomiImporIndonesiaIndustriKebijakanKemandirianKoperasiKritikMerah PutihMobilNasionalOtomotif

REKOMENDASI TABOOO

MBG Bukan Makan Bergizi Gratis, Ini Versi “Mantap Banget Gila”

MBG Bukan Makan Bergizi Gratis, Ini Versi “Mantap Banget Gila”

by dimas
April 9, 2026

Tabooo.id: Regional - Sebuah lapak sarapan di Tebet, Jakarta Selatan, mendadak ramai dibicarakan. Bukan karena menunya, tapi karena namanya MBG....

Lolos Sempurna ke Semifinal, Tapi Kenapa Pelatih Masih ‘Keras’?

Lolos Sempurna ke Semifinal, Tapi Kenapa Pelatih Masih ‘Keras’?

by teguh
April 9, 2026

Tabooo.id: Sports - Timnas Futsal Indonesia kembali membuktikan satu hal mereka bukan cuma tim yang bisa menang, tapi tim yang...

PLTS 100 GW Dikebut: Kampus Turun Gunung, PLTD Siap Ditinggalkan?

PLTS 100 GW Dikebut: Kampus Turun Gunung, PLTD Siap Ditinggalkan?

by teguh
April 9, 2026

Tabooo.id: Nasional - Indonesia mulai serius pindah jalur energi. Pemerintah mendorong pembangunan 100 gigawatt listrik tenaga surya (PLTS) untuk menggantikan...

Next Post
Empat Musim Pertiwi: Pulang ke Rumah atau Kembali ke Luka?

Empat Musim Pertiwi: Pulang ke Rumah atau Kembali ke Luka?

Recommended

Sosok di Balik Pesawat Pertama RI Tutup Usia: Nyak Sandang Berpulang

Sosok di Balik Pesawat Pertama RI Tutup Usia: Nyak Sandang Berpulang

April 8, 2026
Bukan Sekadar Modifikasi, Chopper Adalah Identitas yang Dibentuk oleh Perang

Bukan Sekadar Modifikasi, Chopper Adalah Identitas yang Dibentuk oleh Perang

April 8, 2026

Popular

Penggeledahan Berlanjut: Kasus Maidi Mulai Seret Lingkar Dalam

Penggeledahan Berlanjut: Kasus Maidi Mulai Seret Lingkar Dalam

April 9, 2026

Kemenangan Sonalia Safitri: Pola Orang yang Serius Mempersiapkan Diri

April 8, 2026

Siapa Ibu Sebenarnya? Teror Psikologis di Balik Legenda Malin Kundang

April 2, 2026

Putri Rinjani 2026: Sonalia Sudah Mengukir Takdirnya Sejak 2024

April 7, 2026

Teungku Nyak Sandang: Bukti Negara Sering Amnesia?

April 8, 2026
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.