Tabooo.id: Talk – Katanya mau mandiri. Namun, kenapa kendaraan operasional justru impor?
Saat ini, 1.200 mobil pikap dan truk sudah masuk dari India. Angka itu baru permulaan dari rencana besar 105.000 unit untuk mendukung program Koperasi Merah Putih. Ironisnya, program ini justru dipromosikan sebagai simbol kemandirian ekonomi.
Jadi, kita benar-benar sedang membangun industri sendiri atau malah memperluas pasar negara lain?
Logika “Efisiensi” yang Terlalu Cepat
PT Agrinas Pangan Nusantara punya alasan. Harga mobil lokal dinilai lebih mahal, stok terbatas, dan pembelian besar dikhawatirkan mengganggu distribusi produsen dalam negeri.
Sekilas, argumen itu terdengar rasional.
Namun, di sinilah letak masalahnya. Kita terlalu sering memilih solusi instan tanpa menghitung dampak jangka panjang. Akibatnya, efisiensi hari ini justru berpotensi menjadi beban di masa depan.
Industri Dalam Negeri yang Ditinggal
Di sisi lain, momentum kebijakan ini terasa janggal. Industri otomotif nasional sedang melemah, bahkan sebagian pekerja terkena PHK.
Alih-alih membantu pemulihan, impor justru mempersempit ruang hidup industri lokal. Ketika pabrik dalam negeri butuh pesanan, negara malah berbelanja ke luar.
Lalu, siapa sebenarnya yang sedang kita selamatkan?
Janji Lama yang Terus Berulang
Sebenarnya, pola ini bukan hal baru.
Sejak era Orde Baru hingga proyek mobil Esemka di masa Joko Widodo, cerita yang muncul hampir selalu sama ambisi besar, eksekusi setengah jalan.
Karena itu, pertanyaannya bergeser. Bukan lagi “kenapa gagal?”, melainkan “kenapa kegagalan ini terus diulang?”
Kehilangan Proses Belajar
Menurut Kenneth Arrow, kemampuan teknologi lahir dari praktik langsung.
Artinya, tanpa produksi, tidak ada pembelajaran.
Sayangnya, ketika impor menjadi pilihan utama, kita bukan hanya membeli barang. Kita juga memindahkan proses belajar itu ke negara lain. Akibatnya, Indonesia hanya menjadi pengguna, bukan pencipta.
Tahap yang Kita Lewatkan
Lebih jauh, Linsu Kim menjelaskan bahwa negara berkembang harus melewati tiga tahap: imitasi, adaptasi, lalu inovasi.
Namun, semua tahap itu butuh satu syarat utama industri domestik yang hidup.
Jika pasar justru dibanjiri produk impor, kapan proses itu bisa terjadi?
Negara Lain Memilih Jalan Sulit
Sebaliknya, negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan China pernah menghadapi kondisi serupa.
Namun, mereka tidak memilih jalan cepat.
Mereka melindungi industri lokal, memaksa transfer teknologi, dan berinvestasi besar sejak awal. Memang mahal, tetapi hasilnya nyata: kini mereka menjadi pemain global.
Sementara itu, Indonesia masih berkutat sebagai pasar.
Ketika Rente Lebih Menggiurkan
Di balik semua ini, ada persoalan yang lebih dalam struktur ekonomi.
Membangun industri butuh waktu panjang, biaya besar, dan kesabaran. Sebaliknya, impor menawarkan jalur cepat, praktis, dan sering kali menguntungkan dalam jangka pendek.
Akibatnya, keputusan ekonomi kerap bergeser. Bukan lagi soal membangun kapasitas, melainkan soal siapa yang mendapat keuntungan hari ini.
Dan sayangnya, publik jarang masuk dalam daftar itu.
“Merah Putih” atau Sekadar Label?
Program ini membawa nama besar Merah Putih.
Namun, jika mesinnya impor, teknologinya asing, dan industrinya tidak kita bangun, apa makna simbol itu?
Apakah ini benar-benar kemandirian, atau hanya kemasan nasional untuk kebijakan yang tetap bergantung?
Penutup: Kita Mau Jadi Apa?
Sejauh ini, Indonesia sudah lama menjadi pasar otomotif bagi Jepang, Korea Selatan, China, dan kini India.
Jika pola ini terus berlanjut, daftar itu akan semakin panjang.
Karena pada akhirnya, kemandirian bukan sekadar slogan. Ia lahir dari pilihan yang konsisten.
Masalahnya, hari ini kita masih memilih jalan cepat.
Jadi, sampai kapan kita nyaman jadi pasar? @dimas







