Mewarnai sering disebut sebagai cara sederhana untuk meredakan stres, bahkan kerap disamakan dengan Art Therapy. Padahal, merasa lebih tenang setelah mewarnai tidak otomatis membuat aktivitas itu menjadi terapi seni profesional.
Tabooo.id: Buku mewarnai sering muncul dengan janji yang terdengar menenangkan: mengurangi stres, bikin rileks, sampai disebut sebagai bentuk Art Therapy.
Masalahnya, ada satu lompatan istilah yang sering terjadi.
Mewarnai memang bisa terasa terapeutik. Namun, aktivitas yang terasa terapeutik tidak otomatis menjadi terapi.
Dan dua hal itu sebaiknya jangan dicampur begitu saja.
Klaim: “Mewarnai adalah terapi seni”
Fakta: Tidak otomatis.
Mengisi pola dengan warna bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan dan menenangkan. Kamu memilih warna, mengikuti bentuk, lalu memusatkan perhatian pada sesuatu yang konkret.
Aktivitas seperti ini dapat menjadi bagian dari self-care atau aktivitas seni yang bersifat terapeutik.
Namun, menyebut semua kegiatan mewarnai sebagai Art Therapy membuat batasnya menjadi kabur.
Sebab, Art Therapy bukan sekadar kegiatan membuat atau mewarnai gambar.
Terapeutik Belum Tentu Terapi
Di sinilah satu kata membuat perbedaan besar.
Sesuatu yang terapeutik dapat membantu seseorang merasa lebih nyaman, rileks, atau terarah. Banyak aktivitas sehari-hari bisa memberi efek seperti itu.
Mendengarkan musik bisa terapeutik. Menulis jurnal bisa terapeutik. Menggambar atau mewarnai juga bisa terapeutik.
Namun, efek terapeutik tersebut tidak otomatis menjadikan aktivitas itu sebagai intervensi terapi profesional.
Ibarat olahraga membuat tubuh terasa lebih sehat, bukan berarti setiap jogging pagi otomatis berubah menjadi fisioterapi.
Mirip, tetapi konteksnya berbeda.
Lalu, Apa Bedanya dengan Art Therapy?
Art Therapy memiliki kerangka yang lebih spesifik.
Dalam praktik profesional, aktivitas seni menjadi bagian dari proses terapeutik yang melibatkan praktisi terlatih. Ada tujuan, konteks, proses, serta hubungan terapeutik di dalamnya.
Jadi, fokusnya bukan sekadar pada gambar yang selesai. Proses membuat karya juga menjadi bagian dari pendekatan terapeutik tersebut.
Sementara itu, ketika kamu membeli buku mewarnai lalu mengisinya sendiri di rumah, konteksnya berbeda.
Aktivitas itu tetap bisa menyenangkan.
Tetap bisa membantumu mengalihkan perhatian sejenak.
Tetap bisa menjadi ritual self-care.
Tetapi kita tidak perlu menaikkan pangkatnya menjadi terapi profesional hanya agar aktivitas tersebut terdengar lebih serius.
Kenapa Istilah Ini Penting?
Sekilas, perdebatan istilah mungkin terdengar receh.
“Toh sama-sama bikin tenang, kan?” Justru di situlah masalahnya.
Ketika istilah klinis atau profesional dipakai terlalu longgar, batas antara aktivitas keseharian dan layanan profesional ikut kabur.
Akhirnya, hampir semua hal yang membuat kita nyaman bisa diberi label “terapi”.
Belanja jadi retail therapy.
Liburan jadi travel therapy.
Mewarnai lalu ikut mendapat stempel yang sama.
Bahasa populer memang suka menyederhanakan sesuatu. Namun, penyederhanaan bisa berubah menjadi salah pengertian ketika kita mulai menyamakan efek dengan metode.
Jadi, Buku Mewarnai Nggak Berguna?
Bukan begitu.
Kita tidak perlu menjatuhkan buku mewarnai hanya karena ia bukan otomatis Art Therapy. Justru lebih masuk akal melihatnya sesuai porsinya.
Mewarnai bisa menjadi aktivitas kreatif yang membantu seseorang mengambil jeda. Ia juga bisa memberi kegiatan terarah ketika kepala sedang penuh.
Dan kalau setelah 20 menit memilih antara merah marun atau biru laut kamu merasa lebih santai, itu tetap pengalaman yang valid.
Hanya saja, manfaat tersebut tidak mengubah definisinya menjadi terapi profesional.
Ini bukan soal meremehkan mewarnai. Ini soal berhenti memberi label klinis pada setiap aktivitas yang membuat kita merasa sedikit lebih baik.
Karena pada akhirnya, kamu boleh menikmati buku mewarnai tanpa harus menjadikannya sesuatu yang bukan dirinya.
Pensil warna bisa membantu kamu tenang.
Tapi jangan langsung memberinya gelar psikolog. @waras








