• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Senin, Maret 23, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home Talk

Mengurai Budaya Toxic Positivity di Media Sosial

Oktober 15, 2025
in Talk
A A
Mengurai Budaya Toxic Positivity di Media Sosial

ilustrasi.

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo: Talk – Media sosial sering kali terasa seperti ruang kompetisi kebahagiaan. Setiap unggahan terlihat cerah, penuh senyum, dan diselimuti kalimat motivasi. Seolah-olah, hidup yang baik hanya milik mereka yang terus berpikir positif. Namun di balik semua itu, ada satu budaya yang perlahan tumbuh dan berbahaya toxic positivity.

Positif Tidak Selalu Menyembuhkan

Kita terbiasa mendengar kalimat seperti “Jangan sedih, semua akan baik-baik saja,” atau “Bersyukur aja, masih banyak yang lebih susah.” Niatnya memang baik, tapi sering kali kalimat seperti itu justru menutup ruang untuk berduka dan memproses emosi.
Banyak orang akhirnya belajar menyembunyikan kesedihan mereka karena takut dianggap lemah atau tidak cukup bersyukur. Padahal, berpikir positif tanpa ruang untuk jujur pada diri sendiri bisa membuat seseorang semakin lelah.

Selain itu, budaya ini menciptakan tekanan sosial baru. Orang-orang merasa harus tampil bahagia setiap saat agar diterima. Di dunia maya, emosi negatif seperti marah, kecewa, atau sedih dianggap tanda kegagalan dalam mengontrol diri. Akibatnya, media sosial menjadi tempat penuh senyum palsu, bukan empati.

Antara Motivasi dan Penyangkalan

Tidak salah ingin melihat sisi baik dari hidup. Tapi ketika “selalu positif” menjadi satu-satunya cara yang dianggap benar, kita mulai kehilangan keseimbangan. Emosi negatif punya peran penting—mereka memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
Sebaliknya, menolak perasaan sedih justru menumpuk luka yang tak terselesaikan. Saat seseorang berkata, “Aku lelah,” lalu dibalas dengan “Kamu harus semangat dong!”, itu bukan motivasi, tapi bentuk penyangkalan halus terhadap perasaan manusia.

RelatedPosts

Lebaran Beda Hari, Antara Ilmu, Ego, dan Toleransi

Sunyi dan Ramai Bertemu: Seberapa Siap Kita Hidup dalam Perbedaan?

Selain itu, budaya ini juga memperkuat ilusi kesempurnaan. Banyak orang membandingkan diri dengan kebahagiaan yang mereka lihat di layar. Padahal, tidak ada yang benar-benar bahagia setiap waktu. Kesehatan mental justru tumbuh dari keberanian untuk jujur bukan dari menutup rasa sakit dengan kalimat manis.

Belajar Menjadi Manusia yang Seutuhnya

Sudah saatnya kita berhenti menuntut diri untuk selalu bahagia. Tidak apa-apa merasa sedih. Tidak apa-apa kecewa. Karena justru dari perasaan itu, kita belajar memahami diri sendiri.
Media sosial bisa menjadi ruang yang lebih sehat bila digunakan untuk berbagi kisah nyata, bukan hanya pencitraan. Ketika seseorang berani menulis tentang hari buruknya dan mendapatkan dukungan tulus, di situlah empati tumbuh.

Kita tidak perlu terus menutupi luka dengan kata “semangat.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah ruang aman untuk berkata, “Aku tidak baik-baik saja.” Dan itu tidak membuat kita lemah itu membuat kita manusia. @jeje

Next Post
On the Edge of Change: Revolusi Gaya Hidup Digital

On the Edge of Change: Revolusi Gaya Hidup Digital

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    SSD Lebih Awet dari HDD? Atau Kita yang Makin Takut Kehilangan Data?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kuta Not Crime: Kenapa Muncul di Tembok Poppies?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Harga Bitcoin Melemah di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KPK Buka Peluang Tahanan Rumah, Kasus Yaqut Jadi Sorotan Publik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Trump Beri Ultimatum 48 Jam ke Iran untuk Buka Selat Hormuz

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.