• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
Minggu, Maret 22, 2026
  • Login
No Result
View All Result
tabooo.id
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Tabooo
  • News
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Life
  • Talk
  • Vibes
No Result
View All Result
tabooo.id
No Result
View All Result
Home News Nasional

Menag: Imlek Harus Jadi Momentum Perkuat Persaudaraan dan Keadilan

Februari 17, 2026
in Nasional, News
A A
Menag: Imlek Harus Jadi Momentum Perkuat Persaudaraan dan Keadilan

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan ucapan Imlek 2577 Kongzili dan mengajak masyarakat memperkuat persatuan serta harmoni. (Foto istimewa)

Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Pemerintah melalui Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili kepada umat Khonghucu di seluruh Indonesia. Namun, ucapan itu tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia justru menekankan pesan yang lebih dalam keadilan sosial harus berdiri sebagai fondasi kehidupan bangsa, bukan sekadar slogan.

Nasaruddin menyampaikan langsung pesan tersebut pada Senin, (16/2/2026). Ia berharap tahun baru ini membawa kedamaian, kesehatan, kebijaksanaan, dan kesejahteraan. Selain itu, ia juga mengajak masyarakat menjadikan Imlek sebagai momentum memperkuat solidaritas di tengah tantangan sosial yang terus membayangi Indonesia.

RelatedPosts

Jalan Santai Banjar Legian Kulod: Dari Langkah Kecil ke Rasa Satu Keluarga

24 Nama Resmi Timnas Indonesia untuk FIFA Series 2026

Pesan itu terasa relevan. Sebab, di tengah pertumbuhan ekonomi yang sering dibanggakan, ketimpangan sosial masih terasa nyata bagi sebagian masyarakat.

Imlek Bukan Sekadar Perayaan, Tapi Pengingat Keadilan

Nasaruddin tidak sekadar mengucapkan selamat. Ia menegaskan bahwa keadilan menentukan arah masa depan bangsa. Menurutnya, masyarakat bisa melawan kemiskinan jika mereka menghidupkan persaudaraan dan kepedulian sosial.

Ia melihat Imlek sebagai simbol harapan. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat menjadikan perayaan ini sebagai titik refleksi, bukan hanya tradisi budaya.

Pesan ini penting. Sebab, Indonesia berdiri di atas keberagaman. Lebih dari 270 juta orang hidup dengan latar belakang agama, etnis, dan budaya berbeda. Tanpa keadilan, keberagaman bisa berubah menjadi sumber konflik, bukan kekuatan.

Sebaliknya, jika masyarakat menjaga keadilan, keberagaman justru menjadi fondasi persatuan.

Minoritas, Simbol, dan Realitas Sosial

Bagi umat Khonghucu, Imlek bukan sekadar pesta. Mereka melihatnya sebagai simbol pengakuan dan keberadaan. Negara pernah membatasi ekspresi budaya Tionghoa selama puluhan tahun. Kini, negara justru merayakannya secara terbuka.

Namun, realitas sosial tidak selalu seindah perayaan.

Sebagian kelompok minoritas masih menghadapi diskriminasi, baik secara sosial maupun ekonomi. Mereka sering menerima toleransi simbolik, tetapi belum selalu merasakan kesetaraan substantif.

Karena itu, ucapan pejabat negara membawa makna lebih besar. Ia bukan hanya pesan moral, tetapi juga pengingat tanggung jawab negara.

Negara tidak cukup memberi ucapan selamat. Negara harus memastikan keadilan benar-benar hidup.

Imlek dan Politik Kebangsaan

Pesan Nasaruddin juga memuat dimensi politik kebangsaan. Ia mengingatkan bahwa persatuan tidak lahir dari slogan, melainkan dari keadilan yang nyata.

Pemerintah sering berbicara tentang persatuan. Namun, masyarakat menilai persatuan dari pengalaman sehari-hari akses pekerjaan, pendidikan, dan perlindungan hukum.

Jika keadilan hadir, persatuan tumbuh secara alami. Sebaliknya, jika ketimpangan terus melebar, persatuan hanya terdengar indah dalam pidato.

Imlek, dalam konteks ini, menjadi cermin. Ia menunjukkan bagaimana negara memperlakukan warganya, terutama yang minoritas.

Harapan, Simbol, dan Ujian Nyata

Ucapan Menteri Agama membawa harapan. Ia mengajak masyarakat membangun kehidupan harmonis. Ia juga menekankan pentingnya solidaritas.

Namun, masyarakat tidak hanya membutuhkan harapan. Mereka membutuhkan bukti. Pedagang kecil membutuhkan perlindungan ekonomi. Pekerja membutuhkan upah layak. Minoritas membutuhkan rasa aman. Semua itu tidak lahir dari ucapan, tetapi dari kebijakan.

Karena itu, Imlek 2577 Kongzili bukan hanya perayaan tahun baru. Ia menjadi ujian apakah negara benar-benar menghadirkan keadilan, atau hanya merayakan simbolnya.

Pada akhirnya, lampion bisa menyala setiap tahun. Namun, tanpa keadilan, cahaya itu hanya menerangi langit bukan kehidupan mereka yang masih berjalan dalam gelap. @dimas

Tags: 2577BangsaBhinnekaDamaiHarmoniimlekIndonesiaKeadilanKeberagamanMenteri AgamaNasaruddin UmarPersatuanPesanSolidaritasSosialTahun Baru
Next Post
Merah, Harapan, dan Awal Baru: Filosofi Ruang dalam Tradisi Imlek

Merah, Harapan, dan Awal Baru: Filosofi Ruang dalam Tradisi Imlek

Recommended

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

Check Fakta: Supermoon Bikin Gempa?

6 bulan ago
Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

Surabaya Siaga Bantu Korban Banjir dan Longsor Sumatera

4 bulan ago

Popular News

  • Pasar Seni Kuta: Ketika Keramaian Pelan-Pelan Belajar Bernapas Lagi

    Pasar Seni Kuta: Ketika Keramaian Pelan-Pelan Belajar Bernapas Lagi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalan Santai Bukan Sekadar Jalan: Cara Banjar Legian Kulod Merawat Rasa Jadi “Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 24 Nama Resmi Timnas Indonesia untuk FIFA Series 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lenovo Y700 Gen 5: Mini Size, Sultan Power

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Legian: Ketika Malam Tidak Pernah Tidur

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap
PT Tabooo Network Indonesia

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • News
  • Entertainment
  • Lifestyle
  • Life
  • Check
  • Deep
  • Edge
  • Talk
  • Vibes

© 2025 Tabooo.id - Bicara Tabu, Itu Tabooo! @TaboooNetwork.