Tabooo.id: Nasional – Pemerintah melalui Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili kepada umat Khonghucu di seluruh Indonesia. Namun, ucapan itu tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia justru menekankan pesan yang lebih dalam keadilan sosial harus berdiri sebagai fondasi kehidupan bangsa, bukan sekadar slogan.
Nasaruddin menyampaikan langsung pesan tersebut pada Senin, (16/2/2026). Ia berharap tahun baru ini membawa kedamaian, kesehatan, kebijaksanaan, dan kesejahteraan. Selain itu, ia juga mengajak masyarakat menjadikan Imlek sebagai momentum memperkuat solidaritas di tengah tantangan sosial yang terus membayangi Indonesia.
Pesan itu terasa relevan. Sebab, di tengah pertumbuhan ekonomi yang sering dibanggakan, ketimpangan sosial masih terasa nyata bagi sebagian masyarakat.
Imlek Bukan Sekadar Perayaan, Tapi Pengingat Keadilan
Nasaruddin tidak sekadar mengucapkan selamat. Ia menegaskan bahwa keadilan menentukan arah masa depan bangsa. Menurutnya, masyarakat bisa melawan kemiskinan jika mereka menghidupkan persaudaraan dan kepedulian sosial.
Ia melihat Imlek sebagai simbol harapan. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat menjadikan perayaan ini sebagai titik refleksi, bukan hanya tradisi budaya.
Pesan ini penting. Sebab, Indonesia berdiri di atas keberagaman. Lebih dari 270 juta orang hidup dengan latar belakang agama, etnis, dan budaya berbeda. Tanpa keadilan, keberagaman bisa berubah menjadi sumber konflik, bukan kekuatan.
Sebaliknya, jika masyarakat menjaga keadilan, keberagaman justru menjadi fondasi persatuan.
Minoritas, Simbol, dan Realitas Sosial
Bagi umat Khonghucu, Imlek bukan sekadar pesta. Mereka melihatnya sebagai simbol pengakuan dan keberadaan. Negara pernah membatasi ekspresi budaya Tionghoa selama puluhan tahun. Kini, negara justru merayakannya secara terbuka.
Namun, realitas sosial tidak selalu seindah perayaan.
Sebagian kelompok minoritas masih menghadapi diskriminasi, baik secara sosial maupun ekonomi. Mereka sering menerima toleransi simbolik, tetapi belum selalu merasakan kesetaraan substantif.
Karena itu, ucapan pejabat negara membawa makna lebih besar. Ia bukan hanya pesan moral, tetapi juga pengingat tanggung jawab negara.
Negara tidak cukup memberi ucapan selamat. Negara harus memastikan keadilan benar-benar hidup.
Imlek dan Politik Kebangsaan
Pesan Nasaruddin juga memuat dimensi politik kebangsaan. Ia mengingatkan bahwa persatuan tidak lahir dari slogan, melainkan dari keadilan yang nyata.
Pemerintah sering berbicara tentang persatuan. Namun, masyarakat menilai persatuan dari pengalaman sehari-hari akses pekerjaan, pendidikan, dan perlindungan hukum.
Jika keadilan hadir, persatuan tumbuh secara alami. Sebaliknya, jika ketimpangan terus melebar, persatuan hanya terdengar indah dalam pidato.
Imlek, dalam konteks ini, menjadi cermin. Ia menunjukkan bagaimana negara memperlakukan warganya, terutama yang minoritas.
Harapan, Simbol, dan Ujian Nyata
Ucapan Menteri Agama membawa harapan. Ia mengajak masyarakat membangun kehidupan harmonis. Ia juga menekankan pentingnya solidaritas.
Namun, masyarakat tidak hanya membutuhkan harapan. Mereka membutuhkan bukti. Pedagang kecil membutuhkan perlindungan ekonomi. Pekerja membutuhkan upah layak. Minoritas membutuhkan rasa aman. Semua itu tidak lahir dari ucapan, tetapi dari kebijakan.
Karena itu, Imlek 2577 Kongzili bukan hanya perayaan tahun baru. Ia menjadi ujian apakah negara benar-benar menghadirkan keadilan, atau hanya merayakan simbolnya.
Pada akhirnya, lampion bisa menyala setiap tahun. Namun, tanpa keadilan, cahaya itu hanya menerangi langit bukan kehidupan mereka yang masih berjalan dalam gelap. @dimas




