Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Menag: Imlek Harus Jadi Momentum Perkuat Persaudaraan dan Keadilan

by dimas
Februari 17, 2026
in Nasional, Reality
A A
Home Reality Nasional
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Nasional – Pemerintah melalui Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili kepada umat Khonghucu di seluruh Indonesia. Namun, ucapan itu tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia justru menekankan pesan yang lebih dalam keadilan sosial harus berdiri sebagai fondasi kehidupan bangsa, bukan sekadar slogan.

Nasaruddin menyampaikan langsung pesan tersebut pada Senin, (16/2/2026). Ia berharap tahun baru ini membawa kedamaian, kesehatan, kebijaksanaan, dan kesejahteraan. Selain itu, ia juga mengajak masyarakat menjadikan Imlek sebagai momentum memperkuat solidaritas di tengah tantangan sosial yang terus membayangi Indonesia.

Pesan itu terasa relevan. Sebab, di tengah pertumbuhan ekonomi yang sering dibanggakan, ketimpangan sosial masih terasa nyata bagi sebagian masyarakat.

Imlek Bukan Sekadar Perayaan, Tapi Pengingat Keadilan

Nasaruddin tidak sekadar mengucapkan selamat. Ia menegaskan bahwa keadilan menentukan arah masa depan bangsa. Menurutnya, masyarakat bisa melawan kemiskinan jika mereka menghidupkan persaudaraan dan kepedulian sosial.

Ia melihat Imlek sebagai simbol harapan. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat menjadikan perayaan ini sebagai titik refleksi, bukan hanya tradisi budaya.

Ini Belum Selesai

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

Pesan ini penting. Sebab, Indonesia berdiri di atas keberagaman. Lebih dari 270 juta orang hidup dengan latar belakang agama, etnis, dan budaya berbeda. Tanpa keadilan, keberagaman bisa berubah menjadi sumber konflik, bukan kekuatan.

Sebaliknya, jika masyarakat menjaga keadilan, keberagaman justru menjadi fondasi persatuan.

Minoritas, Simbol, dan Realitas Sosial

Bagi umat Khonghucu, Imlek bukan sekadar pesta. Mereka melihatnya sebagai simbol pengakuan dan keberadaan. Negara pernah membatasi ekspresi budaya Tionghoa selama puluhan tahun. Kini, negara justru merayakannya secara terbuka.

Namun, realitas sosial tidak selalu seindah perayaan.

Sebagian kelompok minoritas masih menghadapi diskriminasi, baik secara sosial maupun ekonomi. Mereka sering menerima toleransi simbolik, tetapi belum selalu merasakan kesetaraan substantif.

Karena itu, ucapan pejabat negara membawa makna lebih besar. Ia bukan hanya pesan moral, tetapi juga pengingat tanggung jawab negara.

Negara tidak cukup memberi ucapan selamat. Negara harus memastikan keadilan benar-benar hidup.

Imlek dan Politik Kebangsaan

Pesan Nasaruddin juga memuat dimensi politik kebangsaan. Ia mengingatkan bahwa persatuan tidak lahir dari slogan, melainkan dari keadilan yang nyata.

Pemerintah sering berbicara tentang persatuan. Namun, masyarakat menilai persatuan dari pengalaman sehari-hari akses pekerjaan, pendidikan, dan perlindungan hukum.

Jika keadilan hadir, persatuan tumbuh secara alami. Sebaliknya, jika ketimpangan terus melebar, persatuan hanya terdengar indah dalam pidato.

Imlek, dalam konteks ini, menjadi cermin. Ia menunjukkan bagaimana negara memperlakukan warganya, terutama yang minoritas.

Harapan, Simbol, dan Ujian Nyata

Ucapan Menteri Agama membawa harapan. Ia mengajak masyarakat membangun kehidupan harmonis. Ia juga menekankan pentingnya solidaritas.

Namun, masyarakat tidak hanya membutuhkan harapan. Mereka membutuhkan bukti. Pedagang kecil membutuhkan perlindungan ekonomi. Pekerja membutuhkan upah layak. Minoritas membutuhkan rasa aman. Semua itu tidak lahir dari ucapan, tetapi dari kebijakan.

Karena itu, Imlek 2577 Kongzili bukan hanya perayaan tahun baru. Ia menjadi ujian apakah negara benar-benar menghadirkan keadilan, atau hanya merayakan simbolnya.

Pada akhirnya, lampion bisa menyala setiap tahun. Namun, tanpa keadilan, cahaya itu hanya menerangi langit bukan kehidupan mereka yang masih berjalan dalam gelap. @dimas

Tags: BangsaDamaiHarmoniimlekKeadilanKeberagamanNasaruddin UmarNasionalPersatuanPesanSolidaritasSosialTahun Baru

Kamu Melewatkan Ini

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Ketika Waktu Dijual: Siapa yang Sebenarnya Memiliki Hidup Para Pekerja?

Ketika Waktu Dijual: Siapa yang Sebenarnya Memiliki Hidup Para Pekerja?

by teguh
Juni 2, 2026

Lampu minimarket yang biasanya menyala hampir tanpa jeda mendadak padam saat libur nasional 31 Mei hingga 1 Juni 2026 karena...

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

by jeje
Juni 2, 2026

Bagaimana mungkin seseorang menulis tentang Indonesia sebelum Indonesia benar-benar ada? Pertanyaan itu muncul ketika membaca Naar de Republiek Indonesia, karya Tan...

Next Post
Merah, Harapan, dan Awal Baru: Filosofi Ruang dalam Tradisi Imlek

Merah, Harapan, dan Awal Baru: Filosofi Ruang dalam Tradisi Imlek

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id